My Review is Sucks: The Mechanic

written by Rangga Adithia on January 29, 2011 in Action and CinemaTherapy and Hollywood with one Comment

The best jobs are the ones where they never knew you were there ~ Arthur Bishop

Tidak salah memang jika pada akhirnya Sylvester Stallone mengangkut Jason Statham dalam satu truk dengan orang-orang kekar dan spesialis film action lainnya dalam film action paling ambisius tahun lalu ‘The Expendables’. Lihatlah curriculum vitae yang dimiliki Statham, dia pernah bermain dalam dua film Guy Ritchie (Lock, Stock and Two Smoking Barrels, Snatch), bertandem dengan Jet Li untuk pertama kalinya dalam “The One”, dan cukup sukses dengan franchise “The Transporter”, yang sudah menelurkan tiga film dan menghasilkan lebih dari $200 juta. Berbicara soal film kejar-kejaran mobil, baku hantam, dan melakukan seks di tengah keramaian chinatown, Statham sudah pernah melakukan itu semua di banyak film berbau steroid-nya, jadi pantaslah jika melihat sosok pria berkepala plontos ini pasti identik dengan film action tingkat tinggi (walau tidak semuanya dibarengi cerita yang membekas di kepala penontonnya). Meneruskan tradisi, Statham kembali bermain film yang bisa dibilang “Statham banget”, seorang pembunuh bayaran elit yang super-cool di film arahan Simon West “The Mechanic”.

The Mechanic” belum apa-apa sudah berhasil mempesona saya yang datang ke bioskop dengan ekspektasi rendah, Jason Statham yang berperan sebagai Arthur Bishop langsung memamerkan keahliannya dengan membunuh gembong obat-obatan terlarang Amerika Selatan. Sambil menghabisi targetnya tanpa diketahui orang lain, termasuk anak buahnya yang berkeliaran kesana kemari dengan senjata lengkap, Arthur memperkenalkan dirinya sebagai “The Mechanic”, orang yang bekerja “memperbaiki” masalah dengan cara paling bersih, membunuh targetnya dan meninggalkan tempat kejadian layaknya pembunuhan yang dia lakukan adalah sebuah kecelakaan. Adegan pembunuhan yang dituturkan sangat cepat di pembuka sudah dengan jelas memberitahu kita siapa sebenarnya Arthur dan apa pekerjaannya, dia cool, sangat fokus, tidak kenal takut, dan tipe orang yang you-definitely-don’t-want-to-mess-with, intinya pembunuh bayaran yang bad-ass.

Tibalah pekerjaan paling sulit datang kepada Arthur, membunuh mentor sekaligus kontak dia selama ini, Harry McKenna (Donald Sutherland), yang oleh ‘The Company’ sudah dianggap berkhianat dan harus dimusnahkan. Akan lebih mudah bagi ‘The Company’ dengan memilih Arthur untuk misi tersebut karena mereka teman dekat, namun bagi Arthur sendiri tentu saja sangat sulit membunuh orang yang sepertinya sudah dianggap bagai ayah. Pekerjaan tetaplah pekerjaan, dia akhirnya membunuh Harry. Setelah itu, Steve McKenna (Ben Foster) muncul, Arthur dan anak dari Harry tersebut pun bertemu sapa di pemakaman, mereka ternyata sudah saling kenal. Walau hubungan Steve dengan ayahnya renggang dan ayahnya lebih memilih Arthur untuk mewarisi keahliannya, dia tetap akan mencari dalang pembunuh ayahnya. Mendengar misi balas dendam Steve, Arthur mau tidak mau seperti punya “hutang” pada Steve, apalagi dia sendirilah pelaku yang dicari oleh Steve. Maka Arthur pun mulai menjadikan Steve layaknya murid dan mengajari apa yang harus dilakukan untuk menjadi seorang “Mechanic”. Melatihnya dengan skill dasar pembunuh bayaran, bagaimana merencanakan setiap misi, sampai cara mengesekusikan rencana dengan bersih, Steve pun diajak oleh Arthur dalam misi yang sesungguhnya dan memberikan dia sebuah “praktek kerja lapangan”.

Lupakan saja jika ceritanya memang klise dan mudah ditebak, karena “The Mechanic” punya sajian no-holds-barred-R-rated-action! yup didalamnya akan banyak adegan yang brutal dan Jason Statham sekali lagi membuktikan dia adalah jagoan di filmnya sendiri. Simon West yang bertanggung jawab dengan hiburan blak-blakan ini bukanlah orang baru di dunia film aksi, jika kalian tidak kenal namanya, pasti kalian kenal dengan film yang dibintangi oleh Nic Cage “Con Air” atau “Lara Croft: Tomb Raider” dengan si seksi Angelina Jolie sebagai Lara Croft, yup kedua film ini disutradarai oleh Simon West. Jika pada tahun 2006 dia mendaur-ulang sebuah film horor tahun 70-an berjudul “When A Stranger Calls” yang sayangnya terbilang terpuruk alias gagal, kali ini Simon mencoba kembali me-remake film tahun 70-an, “The Mechanic” yang dahulu dibintangi Charles Bronson. “The Mechanic” memang tidak menyiapkan keseluruhan film untuk menjadi sesuatu hal yang baru, temanya seragam dengan film-film pembunuh bayaran serupa yang memfokuskan cerita pada penghianatan dan balas dendam, itu pun bagi saya tidak masalah karena toh pada akhirnya Simon mampu membangun cerita yang “basi” dengan sajian pukul sana pukul sini, tembak sana tembak sini, yang terkesan tidak basa-basi.

Di film seperti “The Mechanic” ini apalagi yang diharapkan, jika bukan aksi brutal dan Simon menyanggupi harapan saya tersebut dengan loyal dan dengan alurnya yang bang-bang, dalam artian cepat, secepat Arthur membunuh target-targetnya, film ini terkesan berlalu begitu saja dan menjauhkan penontonnya dari rasa bosan tentu saja. Alurnya saya rasa melebur dengan baik dengan aksi yang saya sudah sebutkan di awal tanpa basa-basi. Simon pun mampu menjaga intensitas film ini untuk tetap terasa “mendidih”, kita tidak akan diberi kesempatan untuk melihat jam berapa sekarang, karena Simon dengan baik sanggup mengajak penonton untuk ikut dalam setiap misi yang dikerjakan oleh Arthur dan kelak bersama Steve. Pusat perhatian kita benar-benar sudah diarahkan untuk tertuju di layar, mengamati setiap kebrutalan yang mengasyikkan, perkelahian satu lawan satu yang dikemas sangat jantan, dan aksi-aksi lain yang sudah terinjeksi dengan perangsang adrenalin. Film ini memang sudah terpaket untuk Jason Statham, pria plontos berusia 43 tahun ini tidak pernah main-main jika berurusan dengan otot dan senjata, akting dan bisa dibilang insting binatang menyatu menjadi satu untuk memunculkan karakter Arthur yang dengan mudah bisa meninggalkan korbannya tergeletak tak bernyawa. Ben Foster yang tampik apik di film sci-fi horor “Pandorum”, bisa memberikan akting yang juga menarik, punya level buas yang setingkat dengan Arthur, itu menjadikan chemistry dua orang ini begitu kuat sebagai mentor dan murid, dan sebagai partner in crime ketika menghilangkan nyawa para targetnya. Jika kalian memang butuh aksi cepat tanpa basa-basi dan tidak perlu memikirkan soal cerita, “The Mechanic” adalah paket tontonan yang tepat, menghibur, action menggairahkan dan tanpa kompromi.

http://twitter.com/#!/raditherapy/status/31019472437383168

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Deathgasm (...
Review - Raksasa Dar...
Review - Cipali KM 1...
Tujuh Film Horor Fav...