My Review is Sucks: The Haunted House Project

written by Rangga Adithia on January 30, 2011 in Asian Film and CinemaTherapy and Horror with no comments

Stay out if you want to stay alive!

Semakin ramai saja film horor yang mengadaptasi gaya ‘horor kamera hand-held’ dipadu dengan gaya bercerita mirip dengan dokumenter, namun tentu saja palsu, biasa disebut dengan “mock documentary” atau banyak juga yang menyebutnya dengan film horor “found footage”. Apapun namanya film-film dengan genre yang dikenalkan oleh ‘Blair Witch Project’ ini punya tujuan serupa, menghasilkan ketakutan yang nyata dan berharap bisa menyampaikan ketakutan tersebut langsung ke setiap penonton. Sejak munculnya BWP, atau ‘Cannibal Holocaust’ horor kontroversial era 80an yang bisa dibilang kakek dari horor mokumenter, genre seperti ini sudah terbukti mampu menyegarkan sensasi takut yang didapat dari sebuah film horor, beberapa mampu tampil apik, sebagian lagi malah terpuruk, tapi selalu ada yang membuat penasaran setiap kali muncul film horor dengan genre serupa, karena saya termasuk penyuka (fans) dari genre ini, saya kerap kali menunggu-nunggu film apalagi yang akan dikemas dengan gaya mokumenter.

Sebelum saya mengulas “The Haunted House Project” ini, saya juga sudah mengulas film dengan tema sama, “Haunted Changi” yang bisa dibilang tidak tampil baru tetapi penyampaian horor dan kemasan dokumenter palsunya lumayan efektif. Jika horor dari Singapura tersebut memfokuskan ceritanya dengan menjadikan sebuah rumah sakit yang angker sebagai “selebritis”-nya, di “The Haunted House Project” yang merupakan horor berasal dari Korea Selatan, ceritanya juga lagi-lagi mengambil tempat di sebuah lokasi yang dipercaya angker, sebuah rumah yang dahulu pernah dihuni sebuah keluarga yang pada suatu hari mereka semua dibunuh oleh orang tidak dikenal, yah masuk berita dan akhirnya lama-kelamaan muncul desas-desus dari mulut ke mulut jika rumah yang berada di area pabrik makanan tersebut berhantu. Lalu munculah sekelompok filmmaker yang mencoba ‘bermain” ke tempat tersebut, dengan tujuan bisa memfilmkan penampakan dan kejadian-kejadian supernatural lain, seorang produser dan 2 orang timnya, termasuk sang kameramen. Mereka juga membawa tim terdiri dari 3 orang anak muda, yang memang punya pengalaman dalam mengeksplorasi rumah angker.

“The Haunted House Project” seperti film-film mokumenter yang sudah-sudah—menjadikan film ini terkesan menggabung-gabungkan ekemen yang sudah ada, membuka filmnya dengan berbagai wawancara dengan penduduk setempat, orang-orang tua yang masih tetap tinggal di sekitar rumah “berhantu” tersebut, ketika yang lainnya sudah pergi meninggalkan rumah-rumah mereka karena takut dengan mitos yang ada menyangkut keberadaan rumah “pembataian”. Dari berbagai wawancara yang tim proyek ini lakukan, mereka menemukan banyak cerita, dari perselingkuhan pemilik pabrik yang tampaknya mengawali horor di tempat tersebut, sampai istri pemilik pabrik yang dirumorkan telah membunuh wanita yang mengganggu suaminya, yang bekerja sebagai sekretaris. Lalu cerita horor pun dimulai, entah benar atau tidak, hantu perempuan yang mayatnya dipercaya dikubur di pekarangan rumah sepertinya meminta balas dendam, menghabisi satu keluarga dan menyisakan kisah horor yang menyelimuti pabrik yang sekarang tak lebih dari sebuah bangunan tidak berpenghuni selama 42 tahun.

Ciri khas Korea Selatan yang jago membuat penontonnya merinding dalam selimut horor atmosperik sepertinya melekat juga pada “The Haunted House Project” ini, dari awal dengan sudut pandang orang pertama penonton akan langsung dibuat merinnding dengan lokasi yang dipercaya sangat angker dan menyimpan kutukan tersebut. Rasa penasaran kita juga dibuat menumpuk ketika satu-persatu orang yang diwawancara mulai memberi kesaksian mereka betapa rumah angker tersebut memang punya reputasi yang terbilang tidak menyenangkan dan sangat horor jika dibayangkan sendiri berada di tempat tersebut. Disinilah peran film ini dalam mengurung penontonnya untuk terus penasaran, film yang rilis pada 2 Desember tahun lalu ini juga bisa dikatakan cerdik dalam menjaga penonton untuk terus antisipasi di setiap bagian demi bagian penelusuran yang dilakukan oleh tim “pemburu hantu” ini. Namun ketika mampu memberi “pemanasan” yang bisa dibilang terlalu berlebihan, “The Haunted House Project” justru terlihat asyik terlena dengan bagian-bagian yang itu-itu saja, menyorot betapa berantakannya pabrik dalam kondisi cahaya yang sangat minim, yah film ini akan didominasi oleh kegelapan jadi bersiaplah menyalakan lilin sendiri-sendiri.

Satu jam pertama, “The Haunted House Project” bisa dibilang tidak memberikan apa-apa kecuali rasa penasaran dan antisipasi saya yang meluber, itu pun sedikit dihibur oleh beberapa adegan kejutan yang tidak lebih hanya meraba sedikit bulu kuduk ini. Berbeda dengan “Haunted Changi” yang sepertinya mampu mengeksplorasi keseluruhan gedung rumah sakit, film ini entah kenapa asyik “meliput” daerah yang itu-itu saja, monoton dan tidak berkembang, padahal banyak daerah pabrik yang luas ini tampaknya belum tersorot kamera. Dengan susunan ekplorasi yang membosankan, lalu ditambah tidak ada kejadian yang lebih dari kaca pecah dan suara-suara gaib, satu jam pertama terasa melelahkan saya karena harus memikul beban penasaran yang belum juga terpuaskan. Rasa kecewa saya juga makin bertambah ketika akting para pemainnya terlihat kaku dalam melampiaskan rasa bingung, ketakutan, dan hopeless. Mereka seperti bingung ingin tersorot kamera dengan akting natural atau dibuat-buat, akhirnya saya pun ikut dibuat-dibuat merasa takut saja. Beruntung sekali, ternyata film ini menyimpan terornya di 15 menit terakhir film, ugh… tapi kenapa harus selama itu menyimpan atraksi utama. Sayangnya menit-menit terakhir “The Haunted House Project” pun tidak mampu menutupi kebosanan saya pada satu jam pertama film ini, memang ada beberapa bagian di akhir yang jujur membuat saya langsung menekan tombol “pause”, karena sensasinya begitu menakutkan, namun sekali lagi itu hanya di kepala saya karena ternyata antisipasi saya berlebihan. Jika boleh dibandingkan, “Haunted Changi” yang minimalis tersebut jelas jauh lebih baik dan dengan ending seperti itu, “The Haunted House Project” terlihat sangat menggelikan.

http://twitter.com/#!/raditherapy/status/31369043722113024

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

20 Film Indonesia Wa...
Review - Ada Apa Den...
Review - The Wailing...
Review - Ratu Ilmu H...