My Review is Sucks: RoboGeisha

written by Rangga Adithia on January 25, 2011 in Action and Asian Film and CinemaTherapy and Comedy and Nishimura Clan with 7 comments

Go to hell! ~ Yoshie

Setelah lumayan digempur oleh film-film ‘bodoh’ dalam artian positif, serius kok Noboru Iguchi dan kawan-kawan satu klannya memang nyatanya membuat film yang positif dan murni menghibur. Ekspektasi saya sepertinya sekarang harus mulai dikurangi, tidak lagi terlalu menggebu-gebu dengan film-film sejenis, kecuali mungkin jika genre Japan-Gore-Splatter ini kembali dipegang oleh Yoshihiro Nishimura, maka saya tidak akan pernah menurunkan kadar ekspektasi saya satu milipun (terdengar berlebihan hahaha). Film yang digarap oleh Noboru Iguchi ini, “RoboGeisha”, jangan berharap bisa sebaik film Iguchi terdahulu yang bisa dibilang cult di genre-nya, yakni “The Machine Girl” atau mampu se-atraktif dan se-gila “Mutant Girls Squad”. Bagi mereka yang senasib dengan saya, menyukai film-film bersimbah darah lebay ini mungkin akan sedikit kecewa dengan apa yang akan disuguhkan oleh Iguchi yang juga seperti biasa menulis skrip filmnya sendiri. “RoboGeisha” bisa dibilang masih cukup jauh menjangkau kosakota hiburan sempurna dari film-film terbaik di genre serupa, namun bukan berarti film ini tidak fun, Iguchi toh masih tetap bisa konsisten membuat sepanjang film menyenangkan.

Menyenangkan, yup itulah yang selalu ada di setiap film sejenis, ketika saya bosan bukan main dengan film-film normal, film-film seperti inilah pelarian saya, sejenak melupakan harus serius menonton drama, harus kaget menonton thriller, harus ketakutan menonton horor, karena disini semua dipadu-padakan, serius, kaget, dan ketakutan juga ada tetapi selalu disusul dengan mulut melebar tertawa tidak karuan. “RoboGeisha” beruntung dan sudah sepantasnya masih mengadaptasi pakem genre ini, yaitu tidak perlu pakai otak, gempur penonton dengan ketololan yang berbobot, yah jangan samakan dengan horor lokal yang “itu”, seperti kita tahu mereka hanya bisa membuat film tolol (saja, titik, tok). “RoboGeisha” dan film-film sejenis, saya yakin murni untuk menghibur dan kenyataan Nishimura dan kawan-kawan selalu sukses tuh menghibur saya, walau filmnya terbilang ajaib sekali, kadang saya juga susah melampiaskan apa yang ada di hati ini untuk sekedar menggambarkan kenapa saya selalu suka film-film seperti ini, ah bukan guilty pleasure! karena 100% saya tidak merasa bersalah menontonnya.

“RoboGeisha” akan menyorot rivalitas antara kedua geisha, yang sekaligus juga kakak beradik, mereka adalah Yoshie (Aya Kiguchi) dan Kikue Kagusa (Hitomi Hasebe), ah seperti biasa Iguchi “pintar” memilih calon pemeran utamanya, silahkan pergi ke google dan ketik Aya Kiguchi, maka kalian akan tahu apa yang saya maksud, huahahaha (huss! berisik tahu!). Ketidak-akuran Yoshie dan Kikue (walau keduanya sebenarnya dalam hati saling menyayangi) pun berlanjut ketika mereka direkrut oleh Kageno Steel, perusahaan yang berkedok produsen baja namun punya misi untuk menghancurkan Jepang dengan bom yang mereka buat serta membentuk dunia yang ideal bagi mereka. Yoshie dan Kikue masih akan menjadi geisha di tempat baru ini, bedanya mereka perlahan diubah menjadi mesin pembunuh, dilatih berbagai macam cara membunuh, dan bagian-bagian tubuh dua gadis muda ini satu-persatu diganti dengan mesin, yah menjadi cyborg. Kikue Kagusa tampaknya tidak punya masalah dengan bunuh-membunuh, berbeda dengan Yoshie yang masih punya hati, namun lama kelamaan dia juga tidak mau kalah dengan kakaknya dan ikut melengkapi tubuhnya dengan berbagai senjata yang sebetulnya biasa saja, tetapi dipasang di tempat yang tidak biasa. Senapan mesin yang dipasang didada, pedang yang tiba-tiba muncul dari ketiak, Yoshie dan Kikue betul-betul sudah berubah jadi geisha pembunuh dengan senjata mematikan hahahaha.

Titik balik Yoshie pada akhirnya justru melawan Kageno Steel dan kakaknya adalah ketika dia mengetahui misi jahat sebenarnya dari Kageno dan antek-anteknya, bukan membunuh saingan bisnis dan yakuza saja, tapi juga membunuh orang yang tidak bersalah. Diperburuk ketika Kageno Steel sendiri akhirnya menjebak Yoshie karena dianggap terlalu banyak tingkah dan membahayakan misi Kageno Steel terhadap Jepang. Yoshie selamat dari jebakan tersebut, maka sejak saat itu perlawanan pun dimulai. Eh kegilaan “RoboGeisha” pun dimulai, jadi bersiaplah melihat pertempuran mirip tontonan masa kecil ketika kalian asyik mendukung ksatria baja hitam melawan monster-monster-nya, beda disini jagoannya gadis imut dan seksi, plus bukan diperuntukan buat anak-anak juga. Tidak seksi juga sih kalau kepalanya berubah dari rambut sasak ala geisha menjadi helm baja yang anti peluru, dipersenjatai lengkap, dan jika membayar tambahan 100 yen, helm juga akan dilengkapi penutup muka ala ninja, kurang cool apalagi coba.

Lupakan film ini akan menyuguhkan aksi-aksi menggenjot adrenalin yang bisa ditangkap nalar, masuk akal, atau logis, lalu tidak perlu dipedulikan jika nantinya Aya Kiguchi dan kawan-kawan dalam deretan pemainnya tidak becus berakting, termasuk ketika mereka diharuskan ber-koreografi se-meyakinkan mungkin. Adakalanya penjahat seperti apa yang diperankan Hikaru Kageno juga akan tampil konyol, karena berpose layaknya anak-anak yang sedang bermain monster-monsteran dengan temannya, yah berakting dan juga berpose seadanya akan menjadi suapan yang biasa di “RoboGeisha”. Film yang lagi-lagi ditangani oleh Yoshihiro Nishimura untuk urusan spesial efek-nya ini, ternyata juga tidak maksimal dalam urusan menggoda saya untuk bersorak menyambut setiap tebasan maut dan darah yang biasanya muncrat secara hiperbolik. “RoboGeisha” entah kenapa justru sepi dari efek berlebihan yang biasanya menghiasi film sejenis, tubuh terbelah tak normal atau adegan konyol memang masih ada, seperti Yoshie menusuk mata seseorang dengan udang goreng tepung (apa itu namanya) dan sekali lagi Yoshie yang kelak bisa berubah menjadi tank, adegan yang mampu membuat malu optimus dan kawan-kawan robot alien transformers-nya. Namun mungkin karena ekspektasi saya yang sama-sama berlebihan dari awal, adegan-adegan yang disajikan Iguchi sepertinya masih saja kurang, saya minta lebih justru diberikan robot yang seharusnya jadi lawan ultraman, bergerak lambat dan asyik mengancurkan gedung yang jika dihancurkan mengeluarkan darah bukan ledakan, kurang epik apa coba…hahaha stress banget Iguchi. Tidak ada yang benar-benar baru di “RoboGeisha” kecuali gedung berdarah tadi, tapi film ini masih cukup FUN kok!

http://twitter.com/#!/raditherapy/status/29721705983250432

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - The Green I...
Review - Juara (2016...
Review - Blair Witch...
Review - Dukun Linta...