My Review is Sucks: Faster

written by Rangga Adithia on January 15, 2011 in Action and CinemaTherapy and Hollywood with 2 comments

God can’t save you from me! ~ Driver

Memang sudah saatnya Dwayne Johnson, atau lebih dikenal dengan sebutan “The Rock” ini untuk “kabur” dari tema film-film yang  nga-The Rock-banget, sebut saja dua film sebelumnya, satu keluaran Disney “Race to Witch Mountain” yang memaksa dia untuk main kalem, karena ini film anak-anak. Film lainnya, “Tooth Fairy” yang lebih bertema komedi dan menggelikan mengharuskan sang Scorpion King memakai sayap untuk jadi peri gigi, terdengar sangat bodoh bukan untuk seorang yang dulunya dielu-elukan oleh banyak orang sebagai “The People’s Champ” ketika dia masih menggeluti dunia gulat hiburan. Walau tidak bermain di film action, setidaknya Dwayne Johnson masih lebih lebih baik bermain untuk film-film drama bertema american football seperti “Gridiron Gang”, atau masukan dia diantara orang yang benar-benar lucu seperti Steve Carell di film action-comedy “Get Smart”, maka jagoan kita juga tidak akan terlihat memalukan. Menyenangkan bisa melihat Dwayne Johnson beraksi sebentar bersama dengan Samuel L. Jackson dalam “The Other Guys”, masih terlihat pesona badass-nya di film aksi lucu-lucuan yang dihadiri oleh duo Will Ferrell dan Mark Wahlberg ini. Beruntung kita masih akan melihat dia beradu otot dan ketegangan bersama dengan Vin Diesel dan kawan-kawan dalam “Fast Five”, yah ini adalah film ke-5 franchise Fast and Furious.

Nah sebelum kejar-kejaran di “Fast Five”, sebagai pemanasan Dwayne Johnson akan dikurung dalam penjara karena merampok bank, setelah menjalani hukuman, akhirnya dia bisa menghirup udara kebebasan lagi. Saya sedang menceritakan “Faster” dimana Dwayne Johnson akan berperan sebagai Driver, jangan tanya lagi siapa namanya, itulah nama yang tertera di credit, karena sepanjang film pun tidak satu orang yang memanggil nama aslinya. Gelar “supir” tersebut memang pantas untuk Dwayne Johnson, karena di film yang disutradarai oleh George Tillman Jr. (Men of Honor) dia akan berperan sebagai laki-laki kekar, lugu, dan juga jago mengemudikan mobil. Karena keahliannya tersebut juga, Driver akhirnya diajak merampok bank, tugasnya membawa kakak dan komplotan-nya selamat dari kejaran polisi dan tentu saja tidak dipenjara. Kenyataannya kecerdikan Driver ketika berada dibalik kemudi memang berhasil mengantarkan mereka ke tempat yang aman. Sayangnya seseorang sepertinya berkhianat dan memberitahu lokasi mereka, komplotan lain datang untuk mencuri kembali hasil rampokan bank. Uang jerih payah merampok ludes, nyawa pun melayang, Driver kehilangan kakaknya yang tewas dibunuh, sedangkan dia sendiri sempat ditembak tepat di kepala namun ajaibnya selamat. Kini setelah keluar dari penjara, Driver hanya punya satu tujuan yaitu menuntut balas, darah dibayar dengan darah, hutang nyawa dibayar dengan peluru menembus kepala. Bermodal mobil “American Muscle”, Driver pun melaju, layaknya malaikat maut berada di kemudi yang sedang menjemput nyawa. Kill ‘em all, Rock!

“Faster” sepertinya memang fokus pada bagaimana Dwayne Johnson bertransformasi menjadi Driver, seorang yang tak kenal takut, nyali sebesar ototnya, dan tidak pernah pernah berkedip ketika menghamburkan peluru pada targetnya. Driver adalah sebuah mesin yang hanya bergerak untuk balas dendam, mungkin peluru yang pernah menembus kepalanya membuat otaknya sedikit berubah posisi, yang ada dipikirannya sekarang adalah main tembak sana-sini, tanpa peduli dia menembak di tengah kerumunan orang yang sedang pusing mengerjakan tugas kantor, atau menodongkan senjata pada ibunya sendiri, dia jelas tak berotak. Tapi pantaslah jika “Faster” memakai model jagoan yang seperti Driver ini, tidak perlu ambil pusing, nothing to lose, fokus pada misi membunuh semua pelaku yang bertanggung jawab menghancurkan kehidupannya dan membuat dia kehilangan kakaknya. Karena jika tidak dibuat seperti ini, “Faster” mungkin akan lebih terpuruk lagi menjadi sajian action yang tak berpeluru, tak berotot, dan tak bernyali, yang tersisa hanya cerita yang sebenarnya juga klise dan membosankan. Jika “Faster” begitu menggebu-gebu memamerkan aksi Driver, untuk urusan cerita bisa terbilang loyo.

Tunggu dulu, jika dibilang porsi cerita di anak-tirikan dan dilupakan, tidak benar juga sih, karena justru selagi Driver sibuk berjalan dari tempat A ke tempat B, kita akan diajak mengenal lebih jauh siapa sebenarnya algojo yang juga dijuluki “The Ghost” ini lewat serangkaian investigasi yang dilakukan oleh Cop (kenapa film ini malas sekali memberi nama pada karakternya?) yang diperankan oleh Billy Bob Thornton dan Cicero (Carla Gugino). Melalui investigasi mereka berdua, “Faster” seperti ingin menjawab setiap pertanyaan yang ada di benak penonton, selain jati diri Driver, juga siapa yang dibunuh olehnya, salah apa mereka, karena dari mulut Driver sendiri kita jarang menemukan jawaban-jawaban tersebut, dia hanya pandai menjawab dengan peluru. Jadi sekarang kita punya dua plot utama disini, Driver mengantarkan maut pada setiap dalang pembunuhan dan juga duo polisi yang berusaha menangkapnya. Tapi dua plot tersebut tidak cukup untuk mengisi slot durasinya yang hampir 100 menit, jadi disinilah peran duo bersaudara Tony dan Joe Gayton untuk memanjang-manjangkan cerita dengan beberapa subplot, termasuk Cop yang berjibaku dengan kecanduan obat-obatan terlarang dan kehidupan pernikahannya. Lalu selain polisi yang mengejar Driver, ada pembunuh bayaran (Oliver Jackson-Cohen) yang anehnya hanya membunuh untuk hobi, karena dia sendiri adalah milyuner muda yang punya segalanya, termasuk perempuan cantik yang tidak peduli jika pacarnya seorang pembunuh.

Alih-alih membuat cerita menjadi semakin menarik dengan menggali kehidupan pribadi polisi pecandu obat dan menambah lawan bagi Driver, dengan munculnya seorang hitman, kedua poin tersebut justru sangat-sangat lemah dalam usahanya menjadi perekat simpati (yang sebenarnya hanya pengalih perhatian) penonton kepada sang polisi dan sang pembunuh bayaran juga hanya terlihat numpang lewat, jauh dari kata lawan tanding sebenarnya bagi jagoan kita, dan pada akhirnya justru punya agenda sendiri yang sama tidak pentingnya dimasukkan seperti juga karakter dia yang muncul di “Faster”. Ketika ceritanya begitu cetek, sub-plot yang lemah malah makin membuat saya bertanya-tanya kenapa tidak dipakai saja untuk melebihkan porsi kehadiran “The Rock”. Karena anehnya tampang Dwayne Johnson bisa dibilang tidak terlalu banyak mengisi layar, kita hanya akan melihatnya dengan pola pengulangan, membunuh, membunuh, dan membunuh. Nah inilah yang sebenarnya dicari penonton, bukannya hitman ganteng yang punya penyakit egosentrik dan galau, membunuh lagi, tidak membunuh, ah membunuh lagi saja. Lebih baik durasi yang mubajir untuk memunculkan pembunuh bayaran yang satu ini dipakai saja untuk yang lain, lebih banyak baku tembak, atau adu jotos misalnya. “Faster” pada akhirnya menjadikan kekurangannya dua kali lipat lebih banyak, kekurangan adegan-adegan baku hantam serta subplotnya yang mengganggu. Tapi sebagai sebuah hiburan, film ini masih layak tonton dan menyenangkan, “Faster” itu The Rock-banget!

http://twitter.com/#!/raditherapy/status/25537164137734144

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

15 Film Indonesia Te...
Review - Indonesia K...
Review - Lukisan Ber...
Review - Ouija: Orig...