JIFFEST 2010: Son of Babylon

written by Rangga Adithia on December 3, 2010 in CinemaTherapy and Drama and Middle East Film with 7 comments

How do you know you sons alive and not in Saddam’s mass grave? ~ Old Man

Son of Babylon merupakan film tahun 2010 yang berasal dari Irak dan disutradarai oleh Mohamed Al-Daradji, menceritakan Ahmed (Yasser Talib), seorang anak berumur 12 tahun yang baru saja mendapati kabar ayahnya masih hidup setelah menghilang sejak perang teluk pada tahun 1991. Bersama dengan neneknya (Shazada Hussein), Ahmed pun segera bertolak dari desanya untuk mencari sang ayah, mengembara dari pegunungan Kurdistan sampai tanah Babilonia. Sang nenek yang hanya fasih berbahasa Kurdi, tidak bisa bahasa Arab dan mengandalkan Ahmed untuk berkomunikasi dengan orang lain agar sampai di tempat tujuan, termasuk meminta tumpangan kepada seorang tua pengemudi truk yang mereka temui. Film yang berlatar belakang tahun 2003, 2 minggu setelah kejatuhan rejim Saddam Hussein ini pun dibuka dengan segala sarkasme dan hujatan pak tua ini yang dilayangkan kepada rejim tersebut. Mohamed pun segera memperlihatkan kepada penonton sebuah gambaran perang yang hanya melahirkan kepahitan, kehancuran dan kematian. Sambil dibuat tertawa oleh kata-kata kasar yang keluar dari mulut seorang tua yang sinikal ini, kita juga akan larut terbawa oleh suasana kelam Irak yang terkoyak.

Perjalanan yang penuh rintangan bagi seorang nenek dan cucunya, Ahmed, yang baru kali pertama ini melihat dunia yang sebenarnya termasuk mengetahui keberadaan sang ayah yang seumur hidupnya terkubur dalam kenangan kasar. Untuk sampai ke penjara Nasyriah, mereka harus menunggu lama dan berebut dengan penumpang lain, belum lagi tingkah Ahmed yang terus saja tak berhenti menyusahkan neneknya, cengeng, manja, dan susah dinasehati. Tapi itu semua akan berubah ketika Ahmed , selangkah demi selangkah mendekati penjara Nasyriah, dimana dipercaya ayahnya berada. Perjalanan ini bukan hanya sebuah pencarian Ahmed menemukan ayahnya tetapi juga pengalaman hidup yang akan menempa fase kedewasaannya, menjadi pemuda Irak yang lebih baik. Saya sendiri menyukai bagaimana Mohamed mengarahkan karakternya, yang hanya seorang bocah komikal, untuk berkembang dari anak cengeng menjadi anak yang terpaksa harus lebih kelihatan dewasa daripada umur aslinya.

Film yang terpilih mewakili Irak untuk ikut serta dalam ajang Academy Awards ke-83 di kategori Film Berbahasa Asing Terbaik ini memang tidak muluk-muluk dalam soal cerita yang terbilang hanya bermodalkan sebuah plot yang sederhana, sesederhana niat Ahmed dan neneknya mencari orang yang mereka sayangi. Namun Mohamed sanggup mengisi setiap menit menuju 90 menit durasi-nya menjadi kisah yang teresekusi dengan baik, plus dengan pengemasan ala dokumenter, hembusan angin debu dan ratapan tangis para janda yang ditinggal mati suaminya makin terasa nyata. Saya rindu dengan pak tua pengendara truk karena saya sangat membutuhkan komedi sarkasme-nya saat film ini makin kelam, makin mengajak kita untuk terenyuh dengan situasi menyedihkan bagaimana seorang anak yang tidak pernah bertemu dengan ayahnya selama 12 tahun justru harus mampir dari kuburan masal yang satu ke kuburan masal yang lain, berharap nama ayahnya tidak ada dalam daftar. Sang nenek yang dari awal membuat saya kuat—sama halnya membuat Ahmed kuat selama perjalanan—makin lama justru menjadi pemancing rasa haru yang jitu, ketika dia tidak bisa lagi menyembunyikan kesedihannya sejak mengetahui anaknya tidak berada di reruntuhan penjara Nasyriah.

Son of Babylon tidak memaksa penonton untuk menangis melihat tragedi kemanusiaan yang terjadi di Irak melalui cerita yang berfokus pada Ahmed dan neneknya. Film yang memenangkan Amnesty Film Award & Peace Prize di Festival Film Internasional Berlin ini dibangun dengan pondasi cerita yang begitu alami, dilengkapi dengan adegan demi adegan yang tidak berlebihan dalam usahanya “mengemis” simpati ataupun memancing sisi sentimentil penontonnya. Dibantu dengan performa dua protagonisnya yang juga tidak berlebihan dalam melakonkan takdirnya masing-masing, Talib dan Hussein tidak hanya memperlihatkan chemistry yang kuat dan nyata pada hubungan antara nenek dan cucunya, tetapi juga berhasil mempertontonkan ketulusan akting mereka, yang pada akhirnya dengan lembut menyentuh kita sebagai penonton untuk ikut hanyut bersama dengan cerita sekaligus mengikhlaskan emosi kita untuk dibawa terombang-ambing.

Mohamed beruntung tidak mengarahkan filmnya untuk condong terjebak pada isu politik, tetapi dengan sederhana, membumi, dan rendah diri memproyeksikan sebuah tragedi kemanusiaan dari mata seorang nenek dan cucunya dalam pencarian anak yang hilang. Film ini memperlihatkan kenyataan yang sebenarnya dibalik berita-berita tentang Irak yang selama ini hanya bisa dikonsumsi lewat televisi. Gabungan potret kehancuran Irak, lanskap indah pegunungan dan padang pasir, dan sisa-sisa reruntuhan sejarah masa lalu dunia jadi sebuah pernak-pernik pendamping ketika kita diajak berkelana membuka tabir pahit yang akan dihadapi Ahmed dan neneknya. Karakter-karakter inilah yang akan mengajarkan kita bahwa dalam situasi terburuk pun menyerah adalah kata yang harus dijauhi karena akan selalu ada harapan yang duduk terdiam menunggu untuk dibawa pergi. Film ini juga mengajarkan sebuah arti dari memberikan maaf pada orang lain yang pernah menyakiti, walaupun orang tersebut bagian dari anggota militer Saddam yang dahulu pernah ikut dalam membantai suku Kurdi, sang nenek yang awalnya menutup hatinya akhirnya bisa perlahan membuka pintu maaf pada “musuh”. Son of Babylon adalah sebuah permata di tengah gurun, sebuah oase yang menyegarkan rasa haus kita akan pelajaran hidup.

http://twitter.com/#!/raditherapy/status/9611228661940224

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

20 Film Indonesia Wa...
Review - A Copy of M...
Review - Talak 3
Review - 3 Srikandi