My Review is Sucks: Rapunzel

written by Rangga Adithia on December 14, 2010 in Animation and CinemaTherapy and Hollywood with no comments

So mother, earlier I was saying tomorrow is a really big day, and you didn’t really respond, so I’m just gonna tell you: IT’S MY BIRTHDAY! Tada! ~ Rapunzel

Berbicara soal animasi tradisional, nama Walt Disney Animation Studios belum ada yang mampu mengalahkan di Hollywood, dalam melahirkan animasi-animasi berkualitas dan film-film animasi yang punya tempatnya sendiri di hati para penggemar film animasi, khususnya mereka yang mendewakan film-film klasik Disney. Satu-satunya yang bisa menyaingi keapikan Disney dalam animasi bisa jadi datang dari negeri di timur, Jepang, lewat Studio Ghibli (Spirited Away, My Neighbour Totoro). Disney bisa dibilang adalah Pixar-nya dalam urusan animasi tradisional, siapa yang bisa lupa dengan hubungan ayah dan anak singa di “The Lion King” atau film-film klasik Disney yang bertema princess dan fairy tale, seperti “Snow White and the Seven Dwarfs”, “Cinderella”, “Sleeping Beauty”, “The Little Mermaid”, “Beauty and the Beast”, “ Aladdin, dan “Mulan”.

Di tengah makin banyaknya animasi-animasi CGI yang lahir, dengan Pixar yang bisa dibilang juaranya sejak mereka memulai dengan “Toy Story” pada tahun 1995 (ketika itu Disney juga merilis “Pocahontas”), Disney juga sempat labil dan kehilangan jati dirinya dengan ikut terjun ke dunia animasi modern yang kental akan nuansa rekaya komputer. “Home and Range” yang rilis pada 2004 dan tidak terlalu sukses secara komersil pun jadi film animasi tradisional terakhir Disney. Menginjakan kaki di daftar film panjang mereka yang ke-46, Disney melahirkan film animasi komputer pertama ,“Chicken Little” di tahun 2005, disusul dengan “Meet the Robinsons” dan “Bolt”. Syukurlah ketika Pixar diambil alih oleh Walt Disney Company di tahun 2006 lalu Ed Catmull dan John Lasseter menjadi presiden dan chief creative officer Disney/Pixar, mereka memutuskan kembali menghidupkan departemen animasi tradisional. Maka akhirnya kita bisa melihat lahirnya kembali kisah klasik Disney dengan animasi tradisionalnya, lewat “The Princess and the Frog” yang rilis tahun lalu. Tidak tanggung-tanggung film ini diganjar tiga nominasi di ajang Academy Award ke-82, termasuk untuk kategori film animasi terbaik.

Disney tidak serta merta langsung meninggalkan animasi komputer dengan kesuksesan kisah dongeng putri dan pangeran kodok tersebut, atau karena sekarang mereka berada di bawah bayang-bayang Pixar. Pada tahun 2010 ini Disney justru kembali membuat film animasi CGI dengan memanggil putri lain yang belum pernah diangkat ceritanya. Masih dengan tema andalan princess dan fairy tale, Disney pun merilis “Rapunzel” dan siap mengajak kita ke negeri dongeng ala film-film animasi klasik studio ini. Film animasi yang juga menandakan film animasi panjang ke-50 bagi Disney ini diangkat dari dongeng asal Jerman karangan Brothers Grimm. Dengan sentuhan magis Disney, sang putri yang terkurung tidak akan ditolong oleh pangeran melainkan seorang pencuri. Alkisah hidup seorang gadis berambut panjang bernama Rapunzel (Mandy Moore), sebentar lagi akan beranjak berumur 18 tahun namun tidak pernah sekalipun menginjakkan kaki di dunia luar. Rapunzel hanya menuruti kata-kata sang Ibu, Gothel (Donna Murphy), untuk tetap tinggal di menara karena di luar sana sangat kejam dan banyak orang yang akan mencoba memotong rambut ajaibnya. Gadis berambut emas dan panjang ini (sangat panjang) hanya bisa bermain dengan cat-cat lukisnya dan setiap setahun sekali, tepat pada ulang tahunnya, terhibur dengan kumpulan cahaya yang melayang di langit.

Cahaya-cahaya tersebut sebenarnya adalah lampion-lampion yang sengaja diterbangkan dari sebuah kerajaan dalam rangka “merayakan” hari ulang tahun putri yang hilang, dan bukan sebuah kebetulan selalu bertepatan dengan ulang tahun Rapunzel, karena dialah putri kerajaan tersebut yang hilang semenjak diculik oleh siapalagi jika bukan orang yang dia anggap sebagai ibu. Sejak bayi, Rapunzel pun dirawat oleh Gothel, yang hanya ingin memanfaatkan keajaiban rambutnya yang mampu membuat dirinya awet muda. Sejak itu Rapunzel hidup tanpa teman (manusia) di menara yang tersembunyi, satu-satunya yang menemani dia, kecuali sang ibu, adalah seekor bunglon bernama Pascal. Takdir pun akan menghampiri Rapunzel lewat seorang pencuri bernama Flynn Rider (Zachary Levi ) yang tiba-tiba masuk ke menara. Setelah sempat membuat Flynn tidak sadarkan diri disusul dengan perdebatan sengit, Rapunzel membuat kesepakatan dengan Flynn, dia meminta Flynn untuk membawanya ke luar menuju tempat dimana dia biasa melihat cahaya-cahaya yang melayang setiap tahun, imbalannya Rapunzel akan mengembalikan barang miliknya (sebuah mahkota curian). Akhirnya, Rapunzel pun berhasil menginjakkan kaki di luar untuk pertama kalinya, merasakan keindahan dunia tidak seperti apa yang ibunya pernah ceritakan padanya. Petualangan pun menanti Rapunzel dan Flynn, termasuk akan bertemu dengan pendamping perjalanan, yaitu seekor kuda bernama Maximus.

Seperti nasib Flynn yang masuk ke menara dan akhirnya “terjebak” bersama Rapunzel, film yang juga punya judul lain “Tangled” (oh saya benci sekali judul ini) ini juga sudah berhasil “menjebak” saya untuk terikat dengan keindahannya dari awal saya menginjakan kaki di negeri dongeng Disney. Pesona pertamanya tentu saja animasi dalam film ini, walau diciptakan dari komputer tapi para animator handal sukses membuatnya bernuansa animasi tradisional buatan tangan. Yup! menonton “Rapunzel” yang disutradarai oleh Nathan Greno dan Byron Howard ini bisa dibilang seperti melihat lukisan yang terpajang di sebuah galeri namun bedanya dia hidup, bergerak dengan halus, dan terus melambai-lambai, mengajak kita untuk masuk ke dalam lukisan tersebut. Kibasan rambut panjang berwarna emas Rapunzel pun berhasil menghipnotis saya, mencuri perhatian ketika saya melihat begitu sempurnanya rambut itu bergerak. Tiap karakternya pun dibuat menarik dan unik, ada Flynn yang heroik (bercampur dengan kebodohannya), ada Maximus yang lucu (bertubuh kuda tapi kelakuan mirip anjing peliharaan), Gothel yang menyebalkan, dan terakhir favorit saya, Pascal, seekor bunglon yang menggemaskan dengan segala tingkah laku yang imut, walau tidak dibuat untuk berbicara (sama dengan Maximus) tapi lewat gesture-nya dia sanggup berkomunikasi dengan penonton, membuat kita tertawa.

“Rapunzel” juga punya cerita yang menghibur, Dan Fogelman yang sebelumnya juga bekerja sama dengan Byron Howard dalam “Bolt” berhasil memberikan sentuhan kisah klasik yang kerap ada di setiap film-film animasi Disney, memolesnya untuk tidak terlalu terlihat dewasa dan dapat dinikmati orang dewasa dan juga anak-anak, mengisinya juga dengan bumbu kasih sayang dan persahabatan. Digabungkan dengan animasi yang sudah dibuat sedemikian rupa tampil klasik dan menarik, film ini tidak hanya menjadi sebuah hiburan memanjakan mata tapi juga hiburan untuk hati. Semua keindahan cerita, karakter, animasi pun terbalut manis dengan komposer langganan Disney, Alan Menken, yang dengan daya magisnya mampu menemani mood ini untuk sejalan dengan setiap adegan yang bergulir dari menit ke menitnya, bisa dibilang memanjakan telinga juga. Dengan paket lengkap yang ditawarkan “Rapunzel”, tidak salah jika saya menyebut film animasi ini sebagai salah-satu yang terbaik di tahun 2010 ini…klasik!

http://twitter.com/#!/raditherapy/status/13172364133011456

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - A Copy of M...
Review - The Invitat...
Review - Warkop DKI ...
Review - Before I Wa...