JIFFEST 2010: Uncle Boonmee Who Can Recall His Past Lives

written by Rangga Adithia on December 8, 2010 in Asian Film and CinemaTherapy and Drama with 3 comments

Ghost aren’t attached to places but to people, to the living ~ Huay

Film dibuka dengan atraksi seekor kerbau yang kabur dari ikatan, melewati persawahan dan berhenti di sebuah hutan, menatap tajam ke satu arah sampai akhirnya sang pemilik datang dan membawa si kerbau. Apa maksud dari adegan tersebut? saya pun tidak tahu. Saat masih meraba-meraba pikiran yang secara tak sadar sudah dibawa masuk ke oleh Apichatpong “Joe” Weerasethakul ke dunianya. Adegan berikutnya tak kalah aneh sekaligus mengherankan, saat tiba-tiba kamera menyorot mahkluk bersiluet hitam pekat (seperti kera besar, tapi ketika seorang teman bertanya, saya spontan menjawab “itu genderuwo Thailand”) dengan tatapan mata merahnya berhasil mengintimidasi saya dengan kengerian dan pertanyaan-pertanyaan. “Uncle Boonmee Who Can Recall His Past Lives” melanjutkan kisahnya melalui hadir-nya Boonmee (Thanapat Saisaymar), seorang petani yang cukup sukses tapi sayangnya sedang menunggu hari-hari terakhirnya karena penyakit ginjal yang dia derita.

Beruntung Boonmee masih dikelilingi oleh orang-orang yang dia sayangi, menemaninya dan mengobati, termasuk adik iparnya Jen (Jenjira Pongpas), keponakannya Tong (Sakda Kaewbuadee) dan seorang imigran asal Laos yang membantu perawatan Boonmee. Apa yang diperlihatkan Joe di awal ternyata belum seberapa ketimbang adegan makan malam atau pun adegan-adegan mengejutkan lainnya. Boonmee yang tampaknya mengetahui ajalnya makin dekat tidak hanya mengundang kekhawatiran Jen dan keponakannya, tapi juga “memanggil” mereka yang sebenarnya sudah berbeda alam. Istri Boonmee, Huay (Natthakarn Aphaiwong) yang sudah meninggal 19 tahun yang lalu tiba-tiba muncul saat Boonmee, Jen, dan Tong sedang asyik menyantap makan malam dan bercengkrama apa yang tidak dan boleh dimakan oleh Boonmee.

Wajah bengong mereka belum seberapa “bodoh” ketimbang wajah saya yang pada saat itu bercampur antara terkejut, merasa aneh dan takjub dengan cara bercerita Joe (padahal film baru dimulai sekitar 10-15 menitan), saya makin merasa aneh ketika Boonmee dan yang lain justru melanjutkan rasa kaget mereka melihat bayangan perempuan yang perlahan berwujud jelas, dengan menyapa si hantu Huay tersebut. Momen lucu yang dikemas secara absurd dengan segala percakapan sederhana namun tetap aneh, seperti Jen yang mempertanyakan kakaknya yang tetep jauh kelihatan muda. Belum selesai saya dibuat terkejut, genderuwo Thailand tak mau kalah menyita porsi pikiran saya yang saat itu sudah berada di dunia antah berantah. Kera hitam yang diawal film kita lihat ternyata adalah anak Boonmee sendiri yang menghilang bertahun-tahun.

Tatapan mata merah yang menakutkan itu berubah menggelikan ketika Boonsong (Jeerasak Kulhong), nama aslinya, mulai bercerita apa yang terjadi dengannya dan kemana dia selama ini. Sambil bingung dengan rupa manusia berbulu yang sedang berbicara di depan saya—sejenak saya malah teringat dengan Robert Downey Jr. yang melakonkan Lionel Sweeney dalam film Fur: An Imaginary Portrait of Diane Arbus, bedanya disini Boonsong terlihat bergaya ketimuran, apa pula ini—Boonsong bercerita bahwa dia terobsesi dengan mitos kera-kera hantu penghuni hutan, ketika dia bertemu dengan salah-satunya dia justru terjerumus dalam “percintaan dua alam yang berbeda”, pada akhirnya memutuskan untuk mengawini-nya dan mengubah Boonsong selamanya menjadi seperti apa yang dia obsesikan, kera-kera hantu yang melompat kesana-kemari layaknya hellboy. Joe telah sukses mengadakan reuni keluarga paling unik yang pernah saya alami, pengalaman sinema yang tidak dapat terlupakan.

Saya menjadi orang paling aneh pada saat makan malam berubah menjadi sebuah reuni keluarga, sama seperti si imigran Laos yang baru datang dan mendapati dirinya terkejut melihat hantu dan monyet berada di meja makan bersama Boonmee dan yang lain, seraya berkata “I feel like I’m the strange one here.”. Kenapa? karena ketika saya bersikeras untuk serius mencerna maksud perbincangan mereka tentang kehidupan dan kematian, Joe justru mengemas momen ini dengan tidak seserius saya sebagai penonton. Lihat saja betapa santainya Boonmee dan yang lain menghadapi apa yang saya anggap keanehan luar biasa, bagi mereka didatangi hantu keluarga dan keluarga yang berubah menjadi kera sepertinya sudah hal yang lumrah terjadi di kehidupan yang fana ini, termasuk menawari “tamu” dari dunia seberang tersebut untuk ikut makan dan mengajak melihat foto-foto dari album Boonmee. Selanjutnya bertingkah biasa saja ketika Huay ikut merawat suami-nya yang sakit, karena dia memang datang terpanggil oleh suaminya yang sedang sakit.

Terlalu banyak yang harus diceritakan dari “Uncle Boonmee Who Can Recall His Past Lives”, setiap menitnya tak lepas dari kisah-kisah yang seru, menjadi satu kesatuan film yang sangat menantang untuk ditonton. Joe menghadirkan suatu pengalaman sinematik yang ajaib melalui filmnya yang secara liar berkeliaran di dunia fantasi yang kaya akan mitos, legenda, filosofi hidup, dan juga menyenggol suatu ajaran agama. Uniknya Joe di film ini mengajak kita untuk melihat sekali lagi apa yang selama ini Thailand banggakan, yaitu film horor mereka. Bedanya horor yang satu ini, bukan hanya cerdik menakuti sisi permukaan kulit penontonnya, membuat bulu kuduk merinding itu sih sudah biasa. Tapi menekankan sisi spiritual untuk juga ikut dibuat “merinding” dengan perjalanan Boonmee menuju kematiannya, dan hal itu adalah suatu pencapaian film ini yang pada akhirnya membuat saya berdecak kagum.

Melabeli film yang memenangkan Palme d’Or di ajang festival film Cannes ini dengan horor juga bukan kata yang tepat, yah apa yang dihadirkan Joe adalah potret kehidupan sehari-hari yang komedik. Karena jelas seperti apa yang diperlihatkan oleh Boonmee dan keluarganya, situasi yang bagi saya aneh nan ajaib ini, bagi mereka adalah sebuah hari lain yang harus dijalani dengan biasa, sesekali diisi dengan lelucon-lelucon sederhana. Sesederhana judul film ini yang sudah sangat mewakili apa yang ingin disampaikan oleh Joe. Boonmee tidak hanya sukses mengundang hantu istrinya dan anaknya yang berubah menjadi kera (orang-orang dari masa lalunya), tetapi juga akan mengajak kita keluar dari apa yang kita namakan tubuh (tubuh yang sedang menonton) lalu melayang-layang ke kehidupan masa lalu.

Selain menceritakan kehidupan Boonmee masa sekarang dengan gaya penceritaan yang terbilang bersahabat, dalam artian lurus-lurus saja (linier), Joe juga akan berhenti pada poin yang tidak terduga lalu memindahkan waktu ke masa lampau, memperlihatkan kita apa yang dia gambarkan sebagai kehidupan “reinkarnasi” Boonmee. Disinilah Joe sekali lagi membuat saya tertegun bodoh melihat bagaimana dia bercerita dengan memasukkan hal-hal unik sekaligus dengan tingkat ke-absurd-an akut. Joe menceritakan sebuah kisah yang sepertinya berdiri sendiri tentang seorang putri raja buruk rupa yang hanya sanggup meratapi kekurangannya, sampai akhirnya dia bertemu dengan ikan lele yang bisa bicara dan mencoba berunding dengan si ikan dengan menyerahkan segalanya, yah segalanya! agar dia bisa cantik. Saya menangkap sebuah kegelisahan tentang seorang yang terkurung oleh kekurangannya hingga buta dia juga sebenarnya memiliki kelebihan yang orang lain tidak miliki. Tapi sayangnya harus rela menyerahkan “semuanya” demi ego serta obsesi. Apakah ini juga termasuk karma yang dibicarakan oleh paman Boonmee?

“Uncle Boonmee Who Can Recall His Past Lives” mengingatkan saya jika negeri kita juga sebenarnya kaya akan legenda-legenda seperti apa yang digambarkan Joe sebagai salah-satu bentuk reinkarnasi Boonmee. Tapi tampaknya disini legenda tersebut, seperti Sangkuriang misalnya (ikan lele yang bisa bicara lalu “mengawini” sang putri raja serupa dengan cerita Dayang Sumbi yang “mengawini” si Tumang, seekor anjing) dan kisah legenda lain baru sanggup dihidupkan melalui medium sinetron-sinetron kampungan. Joe mampu melihat legenda untuk dilihat secara dalam maknanya dan memasukkan unsurnya ke dalam filmnya, menemani mitos, ajaran agama dan juga nilai-nilai filosofi kehidupan yang senantiasa hilir-mudik. Kembali ke legenda Sangkuriang, menurut falsafah Sunda Sangkuriang dimaksudkan sebagai cahaya pencerahan (Sungging Perbangkara) bagi siapa pun manusianya (tumbuhan cariang) yang masih bimbang akan keberadaan dirinya dan berkeinginan menemukan jatidiri kemanusiannya (Wayungyang).

Saya mungkin akan menyebut “Uncle Boonmee Who Can Recall His Past Lives” sebagai film yang bukan diperuntukan untuk semua orang, tapi hey saya akan cabut itu dan ganti dengan film ini adalah untuk semua orang. Film ini tidak hanya memberikan pengalaman menonton yang menantang dengan segala macam bentuk keanehan dalam kesederhanaan Boonmee. Tapi juga menawarkan wisata spiritual yang mengajak kita untuk menggali lebih dalam makna kehidupan dan kematian. “Kegilaan” film ini tidak berhenti pada aneka ragam bentuk simbolis kehidupan yang menghiasi perjalanan dari ruang makan sampai ke gua dimana Boonmee ingin “beristirahat”. Joe juga mengemas film ini dengan sisi teknikal yang tak kalah ajaib dengan ceritanya, membiarkan kita untuk dipanjakan dengan visual-visual sederhana namun menghipnotis. Tidak dipungkiri menonton film ini seperti sedang melihat tayangan dokumenter biografi sang paman Boonmee, karena Joe ingin memotretnya senyata mungkin agar film ini terasa lebih dekat dengan penontonnya. Mencicipi film ini untuk pertama kalinya memang akan terasa sekali hawa keanehan yang luar biasa, tetapi percayalah, seperti juga saya, paman Boonmee akan memanggil kita untuk setidaknya mengunjungi dia sekali lagi, selanjutnya terserah anda…

http://twitter.com/#!/raditherapy/status/10753370008588288

http://twitter.com/#!/raditherapy/status/10754502609076224

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - The Green I...
Review - Raksasa Dar...
Review - Blair Witch...
Review - Rumah Malai...