[PART 1] 20 Film Indonesia Terburuk Periode Januari – Oktober 2010

written by Rangga Adithia on November 6, 2010 in CinemaTherapy and Features with 21 comments

Bagi kalian orang-orang yang gw cintai yang suka mampir, baca, meng-komentari, atau menghujat blog “raditherapy” (gw percaya diri sekali blog ini ada pengunjungnya ya), mungkin tahu, sadar, kenal, atau pernah mendengar betapa muaknya gw sama film-film horor Indonesia yang gw labeli “kancut” di review-review gw, saking muaknya dengan film-film yang udah nga usah gw bilang lagi siapa yang bikin, gw sampe udah nga bisa memuntahkannya lagi dengan kata-kata lewat mulut, alhasil yang bisa gw lakuin hanya menulis. Toh gw juga sebenarnya tak pandai seperti tupai yang melompat untuk soal berkata-kata lewat bibir yang seksi ini. Kalau sudah muak kenapa masih aja nonton film-film begituan? well pertanyaan yang udah ditanya sama banyak orang juga nih (sekali lagi gw ke-pedean). Sebenarnya males juga ber-koar-koar kenapa gw masih aja nonton film-film yang banyak orang bilang film sampah ini.

Alasannya cuma satu, biarlah gw jadi “tumbal” film-film jelek, mengajak orang lain buat nga usah deh nonton lagi film-film kacrut ini. Yah se-simple itu, bukan buat mencari sensasi basi atau biar pengunjung blog ini naik drastis dengan gw me-review film-film tersebut. Klo gw boleh milih sih, gw nga akan pernah membuang waktu buat nulis panjang lebar, tapi itu komitmen gw dari awal (I’m a man of my word klo kata Joker mah), klo gw nga nonton gimana caranya gw bisa bilang film itu jelek, tidak layak tonton, dan tidak usah lagi deh nonton film-film yang bersangkutan, jika gwnya sendiri nga nonton. Setelah gw nonton pun itu udah kaya tugas gw untuk mempublikasikan kepada publik, hey film ini gw kasih bintang kancut, jadi artinya nga usah deh ditonton.

Karena hak orang lain juga untuk nonton apa yang mereka mau tonton, gw nga bisa seenaknya maksa begitu aja orang lain untuk “jangan nonton”, yang bisa gw lakuin cuma mencolek “lemah lembut” calon penonton lewat tulisan/review di blog ini. Jadi di setiap tulisan gw, kata demi katanya disitu tersimpan doa dan harapan supaya nga ada lagi penonton yang mengisi bangku bioskop untuk menonton film-film kacrut (dan ngarepnya pesan gw disebarkan ke pelosok gang-gang dan kampung-kampung di Indonesia, Amin). Udah kaya misi yang tidak mungkin, tapi gw percaya semua itu mungkin klo dikerjain (klo diem aja baru namanya nga mungkin toh). Sama halnya klo gw percaya penonton Indonesia udah pada pinter-lah buat nga milih nonton film-film mereka-yang-tidak-boleh-disebut-namanya (klo kata orang sunda pamali klo disebutin). Tapi kenyataannya film-film ini masih aja ada penontonnya, jadi ketika masih ada bangku terisi di film-film kacrut ini, gw juga nga akan berhenti “bertarung” dengan mereka.

Duh, kok malah jadi curhat! hahahaha, yah sekali-kali terbukalah sama para pembacanya ya nga (apaan sih nih? kebanyakan ngomong gw makin terlihat aneh yah), intinya inilah salah-satu cara gw buat membantu (sedikit) menyelamatkan perfilman tanah air yang tampaknya sedang dianiaya oleh para alien dari planet mesumnus, yang misinya cuma satu: membodohi penonton lalu dengan seenaknya mengeruk uang dari tiket demi tiket yang dijual. Mereka inilah yang harus di-stop, mereka yang membuat filmnya tanpa kecintaan terhadap film itu sendiri. Jadi gw mau mengajak, yang doyan nulis di blog trus aja nulis, klo kalian abis nonton film kacrut, silahkan review sejujur-jujur-nya dan sebarkan pesan “stop nonton film jelek”-nya. Bagi yang udah stop nonton film-film kacrut, saya bangga dengan kalian! bagi para filmmaker yang keren, baik hati, dan masih peduli dengan nasib film kita, teruskan perjuangan kalian, bikin film-film bagus.

Silahkan skip baca tulisan panjang diatas klo emang males baca, sekarang saatnya gw mempersembahkan film-film Indonesia terburuk yang udah gw tonton tahun ini, kenapa tahun ini aja, karena emang gw mulai menonton film-film yang sayangnya jelek itu yah dimulai tahun ini, sebelumnya gw sangat-sangat anti menonton film yang dari posternya aja udah keliatan-lah filmnya kaya apa. Tapi sekali lagi saya tergerak untuk bertindak, susah klo sudah diteriaki hati yang menjerit. Pasti semua udah bisa nebak film-film siapa yang bakal mendominasi di list prestisius gw ini, mari acungi jempol ber-upil untuk film-film yang sudah rela dibuat untuk menjadi jelek. Sebelumnya saya mau memberi warning film-film dibawah ini punya efek menurunkan tingkat intelejensi, jadi sebaiknya ditemani akal sehat dan jangan sambil ngemil, gw nga akan tanggung jawab klo nanti muntah. Oke gw mulai aja yah menghitung mundur film-film terburuk sepanjang tahun ini, periode Januari sampai Oktober 2010 *toeeeeeeeeet

Sutradara: Hartawan Triguna Pemain: Coralie Gerard, Ricky Harun, Indra Birowo, Aming Sugandhi Rilis: 14 Januari 2010 Studio: MVP Pictures

Mari standing ovation untuk film pertama di daftar film terburuk ini, “Toilet 105” yang disutradarai oleh Hartawan Triguna ini mungkin saja berharap bisa duduk tenang berada di posisi 105, sesuai dengan judulnya, tapi gw dengan baik hati menempati film yang rilis pada 14 Januari 2010 ini di urutan buncit, woo-hoo posisi 20…!

Lalu why oh why film yang klo kata twitchfilm: “a film that I personally consider a companion piece in crapiness to fellow Indonesian shlock-fest Raped By Satan” ini bisa masuk list ini? pertama karena “Toilet 105” sukses membuat gw berputar-putar bodoh mencari arti dari 105 di judul, yang ternyata ketika gw lelah dibuat frustasi dengan jalan cerita dan setan black metal yang tidak menyeramkan sama sekali, film ini dengan akhir yang dangkal menyimpulkan arti 105 tersebut dengan seenaknya saja tanpa memikirkan penonton yang sudah bersusah payah mencoba memecahkan misteri kode 105 (atau cuma gw doang yang bego cari-cari letak hubungan 105 dengan jalan cerita), bodohnya gw.

Momen Terburuk: setan black metal muncul dari berbagai tempat, termasuk pamer aksi legendaris yang mengalahkan aksi sadako muncul dari sumur, yaitu dengan nongol dari dalam tempat pipis…eeewwwwww!! epik!! *muncrat french fries *sayang banget

Efek Samping: gw jadi sering kebelet ke toilet karena film ini punya adegan toilet 105 kali ditambah dialog “saya permisi ke toilet” yang entah sudah dimunculkan berapa kali. Efek samping parahnya sih bikin sekolahan terlihat nga jauh beda kaya di mall, bebas ngeluarin baju dengan gaya anak-anaknya yang kaya bukan anak sekolah. Sebuah produk sinetron yang dikanibal lalu dibuat seperti baru untuk tontonan bioskop.

Sutradara: Nayato Fio Nuala Pemain: Joanna Alexandra, Zidni Adam, Mentari Rilis: 4 Maret 2010 Studio: Handmade Film

“Belum Cukup Umur” rilis di bulan Maret, masih di bulan yang sama, Nayato juga bikin film “Affair” dan “Terekam” (disini dia memakai nama Koya Pagayo, tapi anggaplah ini film Nayato juga, lucu ya). Awal-awal tahun saja sudah terlihat produktivitas sutradara yang kelak akan merilis film ke-12 nya di bulan November ini. Masih dengan formula khasnya, film ini mengawali ceritanya dengan tiga muda-mudi yang kebingungan karena salah satunya memasukan “sesuatu” tanpa pengaman yang mengakibatkan salah satunya lagi berbadan dua. Yang memasukkan tidak merasa memasukkan, yang dimasukkan juga sangat lugu, tapi dia yakin dirinya hamil walau kenyataannya belum diperiksa. Bingung dengan apa yang gw tulis, itu cuma gambaran  kecil betapa membingungkan film ini saat menceritakan jalan ceritanya, bisa dibilang seperti peribahasa air di daun talas yang nga sengaja daun-nya gw patahin. Artinya apa? gw juga nga tahu *hammer

Momen Terburuk: sempilan adegan menggurui sebelum credit title muncul dan pas gw sebenarnya udah pasang kuda-kuda mau cepat-cepat keluar bioskop.

Efek Samping: Basah, kedinginan (karena film ini terus saja diguyur hujan), dan wajah gw terlihat kaya gw dulu nga ngerjain PR pas sekolah SD (tunggu wajah ketakutan di hukum donk ya), bedanya ketakutan disini karena filmnya lebih horor dari film-film horor nayato. Ngeri banget ketika film ini sangat terlihat bodoh, mereka justru jadi sok menggurui dengan terang-terangan di akhir cerita.

Sutradara: Findo Purnomo Pemain: Maria Ozawa, Rizky Mocil, Nicky Tirta, Herfiza Novianti Rilis: 6 Mei 2010 Studio: Maxima Pictures

Jangan berharap bisa menonton Miyabi beraksi seperti di koleksi vcd, dvd, dan file film di harddisk komputer elo-elo (ketahuan banget nih yang lagi nulis ini pasti ngarep ya ß iyaaaa gaaaan *mewek). “Menculik Miyabi” tak lebih dari film komedi murahan dengan formula film televisi (film-film televisi lain yang bertema komedi masih banyak yang jauh lebih menghibur dari film ini), karena berharap mendulang kesuksesan komersil dengan bermodalkan kehadiran Miyabi (yang cuma seupil), film ini pun dipaksakan jadi tontonan bioskop. Hasilnya adalah satu jam lebih penuh dengan hal mengganggu dari komedinya sendiri sampai kehadiran Rizky Mocil yang menambah dosisnya menjadi dua kali lipat. Kenapa filmnya nga mengganti judul dan plotnya dengan menculik si Mocil?

Momen Terburuk: Kemunculan Rizky Mocil dan geng cupunya yang berkali-kali pake tambahan kata “temans” di setiap dialognya, gini-gini mereka fans Miyabi juga lho.

Efek Samping: hidung gw mimisan, bukan-bukan karena Miyabi muncul dengan balutan pakaian seksi, tapi tanda klo otak gw udah miring sedikit karena tidak bisa terhibur dan tidak bisa tertawa, yang ada justru senyum kecut sepanjang film yang rilis pada bulan Mei ini melahap durasinya.

Sutradara: Nayato Fio Nuala Pemain: Sigi Wimala, Garneta Haruni, Dimaz Aditya, Monique Henry, Rohman  Rilis: Maret 2010 Studio: Starvision Plus

Jika “Rumah Dara” tahun ini disebut-sebut sebagai film horor terbaik dengan genre slasher-nya, itu salah besar karena film Nayato “Affair sukses menyingkirkan film Mo Brothers tersebut dari posisi terhormat film horor terbaik hanya dengan sekali sentilan. Film ini jauh lebih sadis dan berdarah (sekedar sekilas informasi, saya menulis ini sambil diancam akan dilempar gas tiga kilogram #tolongbaim), lihat saja posternya yang dengan brilian memajang quote-quote dari majalah film dan kritikus dunia. Nayato benar-benar kesurupan disini, dia membabat abis porsi drama lalu akhirnya bisa leluasa menyajikan setumpuk adegan menyakitkan yang sangat-sangat memilukan. Adrenalin pun dipompa untuk naik ke level maksimal lewat adegan-adegan yang terkemas dengan kelam dan tak lupa jalan cerita yang dijamin sangat mudah dicerna namun tetap brilian.

Momen Terburuk: Melihat adegan para pemainnya yang kebingungan – bengong – kaget – bengong – pusing – dan – kembali – bingung. Plus: Adegan pertarungan di kamar mandi yang melibatkan gas 3 kg, WTF!! mandi pake gas ya bukan pake air *nancap pisau ke kutil

Efek Samping: Depresi karena cerita yang begitu tak karuan mau dibawa kemana plus banyak adegan sok absurd. 2 bulan dirawat inap karena depresi tersebut, trauma karena ditipu poster dan trailer, terus ditambah pendarahan otak karena ditimpa bertubi-tubi gas 3 kg. Parahnya gw jadi nga mau lagi nonton film-film slasher Indonesia.

Sutradara: Awi Suryadi Pemain: Masayu Anastásia, Lolita Putri, Adelia Rasya, Hardy Hartono, Gabriel Tabalujan, George Timothy Rilis: 15 Juli 2010 Studio: Besinema

Jangan tanya gw kenapa akhir-akhir ini film Indonesia diramaikan dengan judul-judul dangkal dengan memakai kata pengantin. Apakah ini menandakan fase musim kawin di perfilman tanah air, atau hanya ingin mendulang sukses film dengan judul pengantin juga yang katanya sih boks opis dengan jumlah penonton puluhan juta. PEPENG pun segera bergerak—pepeng itu singkatan untuk pengantin topeng—dengan poster ala kadarnya, gila dari poster aja udah nga niat, yang kenyataannya filmya juga dibuat dengan niat nga 100% (kayanya butuh minuman berenergi yang satu itu tuh, gw nga mao iklan ah). Cerita lagi-lagi memasukkan unsur pantai, jadi film ini punya alibi kuat untuk memaksa pemain-pemainnya untuk memakai bikini dan berpose lebih menantang dari adegan sadis yang disiapkan disini. Si “Pengantin Topeng” punya seribu alasan untuk menahan para penonton agar tidak keluar bioskop terlebih dahulu, yah betul dengan segala produk basi mesumisme. Lalu giliran disuruh bergerak untuk membunuh, film ini tidak hanya bodoh tapi juga salah membunuh karena sang pengantin topeng justru membunuh kualitas.

Momen Terburuk: semua pemain berkumpul di sebuah rumah kosong dan menemukan mayat, salah satunya berkata “mayatnya sudah mati”, di luar sang pembunuh yang dari awal mengamati, segera tidak mood untuk membunuh mereka karena kata-kata tersebut.

Efek Samping: kasihan dan terharu karena melihat pengantin topeng yang sudah haus membunuh dipaksa untuk terlihat bodoh dengan terus ngintip di rimbunan semak-semak bau pesing. Plus: pengen ke pantai untuk mandi buang sial habis nonton film ini.

PART 2 PART 3 LAST PART

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - The Green I...
Review - A Copy of M...
Review - Ghost Diary...
Review - Juara (2016...