My Review is Sucks: Skyline

written by Rangga Adithia on November 13, 2010 in CinemaTherapy and Hollywood and SciFi with 7 comments

Don’t look up?

Meneropong nama Greg dan Colin Strause atau lebih dikenal sebagai Brothers Strause di panggung perfilman Hollywood, pastilah akan membuat kita berdecak kagum, khususnya ketika melihat jejak karir mereka di dunia efek visual. Berawal dari keterlibatan mereka dalam mengerjakan efek-efek spesial untuk film “The X-Files” di tahun 1998, sejak saat itu mereka juga terlibat dalam film-film seperti The Nutty Professor, Volcano, termasuk mengemas efek khusus untuk adegan iceberg di film Titanic. Bersama perusahaan yang mereka dirikan di tahun 2002, Hydraulx, Brothers Strause makin menancapkan taringnya di arena visual efek, dengan terlibat dalam pembuatan efek untuk film-film blockbuster, sebut saja Iron Man 2, 2012, X-Men Origins: Wolverine, Fantastic Four: Rise of the Silver Surfer, 300, The Day After Tomorrow, dan Terminator 3: Rise of the Machine.

Setelah merambah dunia efek di film, video musik, dan iklan, akhirnya pada tahun 2007, Brothers Strause merilis film debut mereka “Aliens vs. Predator: Requiem”, yang justru mendapat respon negatif dari para kritikus namun secara komersil bisa terbilang sukses dengan pendapatan $157 juta. Berbekal “kesuksesan” film debutnya tersebut dan senjata utama mereka yaitu keahlian mengemas visual efek, Brothers Strause pun kembali merilis film kedua mereka, masih dengan tema fiksi ilmiah, “Skyline”. Brothers Strause di film ini tidak hanya duduk pada bangku sutradara tetapi juga ikut memproduseri dan perusahaan mereka Hydraulx juga terlibat menangani sebagian besar efek visualnya. Filmnya sendiri bercerita tentang beberapa sinar biru yang tiba-tiba jatuh dari langit kota Los Angeles. Sinar tersebut berbentuk bola cahaya yang cukup besar dan menyilaukan, jatuh menyebar di setiap sudut kota, lalu “menarik” siapa saja yang melihatnya. Jarrod (Eric Balfour) dan teman-temannya yang sedang tertidur pulas sehabis pesta semalaman pun akhirnya terbangun dikejutkan dengan cahaya aneh tersebut.

Apa yang mereka tahu soal cahaya tersebut adalah sinar birunya yang menyilaukan sudah berhasil “menculik” salah-satu teman mereka dan hampir saja membuat Jarrod menjadi korban selanjutnya. Dalam keadaan panik, bingung, dan takut bercampur menjadi satu, Jarrod dan Terry (Donald Faison) pun memutuskan untuk ke atap gedung, mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Sesampainya di atap, mereka langsung disambut kedatangan pesawat-pesawat alien. Belum selesai dikejutkan oleh kemunculan pesawat-pesawat yang berbentuk aneh dan berukuran raksasa tersebut, Jarrod dan Terry pun dipaksa menjadi saksi hidup untuk melihat ribuan manusia terisap ke dalam perut pesawat alien. Layaknya sebuah pembersih debu, pesawat-pesawat ini melayang dengan tenang di atas kota lalu “membersihkan” seisi Los Angeles dari manusia-manusia yang tidak beruntung. Bagi mereka yang beruntung selamat, termasuk Jarrod, Terry, dan temannya yang berada di kamar, mimpi buruk belumlah berakhir. Sebaliknya semua ini baru saja dimulai, mereka yang selamat harus siap untuk bersembunyi dan menyelamatkan diri dari para pemburu. Mereka tidak kenal ampun, memancing manusia untuk keluar dengan sinar biru yang menggoda, dan dengan tentakel-tentakelnya memangsa manusia terakhir yang tersisa.

“Skyline” tidak lebih dari ego Strause bersaudara yang ingin menampilkan film aliennya menjadi lebih hebat dari film-film invasi alien yang sudah pernah ada, dengan “riasan” yang berlebihan film ini berharap bisa menutupi kekurangannya disana-sini. Bujet sekitar 10-20 juta dolar pun dihabiskan untuk memoles kota Los Angeles menjadi arena mainan Strause bersaudara, mengubah kota menjadi zona pertempuran manusia versus para alien, yup dengan segala visual efek yang bertebaran menghiasi birunya langit kota malaikat tersebut. Namun “strategi perang” yang dilancarkan Greg dan Colin Strause sudah salah langkah dari menit awal film ini dimulai dan mereka sudah lebih dahulu teracam kalah perang jika bukan karena bantuan visual efek yang diobral habis-habisan. Terlalu percaya diri dengan kejutan-kejutan alien berselimut rekayasa komputer, Strause bersaudara akan lebih dahulu membuat saya bosan setengah mati, bahkan ketika film ini menginjak menit ke 10. Strause terlalu bertele-tele memperkenalkan karakter-karakternya yang sepanjang film hanya akan menampilkan performa buruk.

Strause bersaudara mungkin berharap bisa mengisi simpati penonton dengan intrik-intrik kecil hubungan antara karakternya lewat tampilan drama, namun terbukti tidak berhasil karena drama yang seharusnya menjadi bagian pelengkap ini dikemas cenderung terlalu lama, dengan dialog yang membuat saya tidak peduli dengan para karakternya. Ketika tiba saatnya Strause bersaudara mengeluarkan pesawat alien, para pemburu, dan monster-monster raksasa yang tampil dengan visual efek yang cukup impresif, film ini melakukan kesalahan berikutnya. Semua visual efek hebat tersebut hanya berhasil mempercantik permukaan saja, namun tidak memberikan efek yang dalam kepada saya untuk merasakan bahwa kota benar-benar sedang berada dalam bahaya karena invasi alien besar-besaran. Beberapa adegan mengerikan “vacuum cleaner” memang sanggup menaikkan intensitas ketegangan dalam film, membuat semua orang merasa terancam dan penonton diajak untuk ikut “terisap kedalam film, namun sisanya hanya adegan-adegan penuh visual efek yang tak bernyawa.

Strause bersaudara salah jika salah satu adegan kedatangan pesawat alien disini dapat membuat saja tercengang, karena adegan kemunculan pesawat alien di “Independence Day”-nya Roland Emmerich masih jauh lebih membuat saya merinding dan rasa kaget melihat pesawat alien nangkring di atas kota Johannesburg dalam film “District 9” masih belum bisa dikalahkan. Strause bersaudara pun semakin “rakus” ketika mencomot satu-persatu unsur-unsur dari film-film fiksi ilmiah sejenis, lalu mendaur ulangnya hingga terlihat serupa tapi tidak sama. Tak heran ketika menonton “Skyline”, saya merasa seperti menonton potongan-potongan film-film fiksi ilmiah terdahulu, seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya: District 9, Independence Day, lalu dicampur War of the World. Namun kerakusan Strause bersaudara tersebut berimbas pada film ini yang justru makin terlihat berlebihan, ditambah pada saat mereka justru kehilangan “battleplan” untuk poin paling penting yaitu cerita. Strause bersaudara asyik menyiapkan permainan visual efek, kapal-kapalan, monster-monster, dan takdir para pemainnya namun lupa untuk memberi penonton sebuah alasan kenapa mereka harus betah duduk di bioskop ketika invasi yang paling mengerikan menyambut mereka…diinvasi oleh rasa bosan yang akut.

http://twitter.com/#!/raditherapy/status/3022141029093376

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

20 Film Indonesia Wa...
Review - A Copy of M...
Review - Some Kind o...
Review - Cipali KM 1...