My Review is Sucks: Heart 2 Heart

written by Rangga Adithia on November 15, 2010 in Asian Film and CinemaTherapy and Drama and Film Indonesia and Romance with 2 comments

yang lain boleh pergi tapi aku akan tetap bertahan disini ~ Pandu

Dirilisnya “Heart 2 Heart” menandai film ke-12 (koreksi saya jika ada kesalahan dalam penghitungan, itu juga jika anda sudi untuk menghitungnya) dari Nayato Fio Nuala untuk tahun 2010 ini. Mari kita singkirkan dulu sang sutradara paling produktif sebentar (maaf ya bro) dan melirik siapa yang duduk di bangku penulis skenario. Menarik! karena disana tercantum nama Titien Wattimena. Awal karirnya dimulai dengan “Mengejar Matahari” (ini salah-satu film favorit saya ngomong-ngomong) dengan menjadi penulis skenario sekaligus asisten sutradara menemani Rudi Soedjarwo. Lewat film buatan tahun 2004 ini juga nama Titien tercatat sebagai nominator skenario terbaik dalam ajang penghargaan Festival Film Indonesia (FFI) di tahun yang sama. Sebuah awal yang sangat baik bagi perempuan kelahiran Ujung Pandang ini dan sejak saat itu Titien konsisten terlibat dalam proyek-proyek film layar lebar maupun televisi, baik sebagai penulis skenario—dia kembali dinominasikan sebagai penulis skenario terbaik pada FFI 2005 untuk film “Tentang Dia”—maupun asisten sutradara seperti di film 3 Hari untuk Selamanya, The Photograph, dan Laskar Pelangi.

Tahun 2010 sepertinya menjadi tiket paling berharga untuknya karena setelah menulis skenario untuk banyak film drama romantis remaja, di tahun inilah Titien diberi kesempatan untuk membuktikan kemampuannya untuk menuliskan skenario yang benar-benar berbeda, lewat film “Minggu Pagi di Victoria Park”, yang disutradarai oleh Lola Amaria. Mari kita kembali ke “Heart 2 Heart”, setelah MPdVP—film ini terpilih untuk ikut berkompetisi bersama 7 film lainnya di FFI 2010—dan jangan lupakan “Menebus Impian”, film ketiga “Heart 2 Heart”, bisa dibilang levelnya berada jauh di bawah kedua film lainnya yang sama-sama dia tuliskan tahun ini. “Heart 2 Heart” juga tidak hanya menandai 12 film yang disutradarai Nayato, tapi juga ajang “reuni” antara Nayato dengan Titien, karena ini adalah kerjasama ke-3 mereka (Cinta Pertama, The Butterfly).

Tidak ada yang istimewa jika melihat jalinan cerita yang dirangkai menjadi drama cinta remaja berdurasi sekitar satu setengah jam ini. Dua pasang remaja, si laki-laki ganteng dan si perempuan juga cantik, dipertemukan dengan tidak sengaja, mereka adalah Pandu (Aliff Alli) dan Indah (Irish Bella). Butuh waktu tidak lama dan beberapa kali ketemuan di hutan, kebun teh, dan danau sampai akhirnya hati mereka saling mengangguk, mereka pun saling jatuh cinta. Namun kebersamaan mereka terbatas oleh waktu, karena Indah harus kembali bersekolah di Jakarta. Yah namanya juga jodoh, takdir pun sepertinya menyukai mereka berdua dan mengijinkan Pandu dan Indah bertemu kembali di Jakarta, bahkan di satu sekolah yang sama, karena Pandu ternyata entah sengaja atau tidak juga pindah sekolah ke Jakarta. Tunggu dulu, cinta keduanya bukan tanpa rintangan basa-basi, karena di sekolah Indah sudah “diklaim” pacar oleh playboy sekolah, Ramon (Miradz), jodoh pilihan mamanya Indah (Wulan Guritno).

Kompetisi antara Pandu dan Ramon pun mulai memanas untuk mendapatkan cewek yang mereka sukai, sedangkan Indah sudah pasti memilih Pandu, sang jodohnya, ketimbang si Ramon yang suka pamer baru pulang dari Paris lalu membagikan oleh-oleh pada antrian cewek-cewek yang sudah tidak tahu malu meminta-minta untuk mendapat bagian. Cukup dengan pertikaian tak berujung, untuk menambah kadar melodrama sekaligus menguji cinta siapa yang paling tulus, dikorbankanlah Indah yang mengalami kecelakaan. Akibat kecelakaan tersebut, Indah terpaksa harus kuat menjalani hari-harinya dalam kegelapan, dia sekarang buta sekaligus bisu. Apakah Indah bisa sembuh? Bagaimana dengan Pandu? jika semua yang saya tulis diatas terdengar klise, cerita yang mudah ditebak akhirnya, hmm…semua itu memang benar. Terlepas dari ceritanya yang memfokuskan pada drama percintaan remaja yang lagi-lagi tidak menghadirkan sesuatu yang baru, sebenarnya film seperti ini bisa saja berpeluang menjadi tontonan ringan yang cukup menghibur, tapi hal tersebut dikandaskan begitu saja ketika Nayato memainkan perannya sebagai sutradara.

Film ini tak lebih seperti pengulangan apa yang sudah pernah dilakukan Nayato jutaan kali di film-film berjenis sama yang sebelumnya dia buat. Nayato lagi-lagi (Oh bosannya saya..) meleset untuk menghadirkan momen demi momen yang alami, cinta di film ini seharusnya yah bisa dong gitu tidak dibuat penuh visual basa-basi, sebaliknya dia justru terjebak dengan formula drama romantis dari filmnya yang sudah-sudah. Penuhi adegan dengan pengambilan-pengambilan gambar yang “romantis”, memanipulasi tontonan agar penonton betah dengan berbagai macam potret-potret manis yang disebar Nayato dari adegan demi adegan. Namun sekali lagi, Nayato hanya mampu memoles film ini untuk tampak cantik dari luar dengan segala sentuhan dramatisasi mubajir dimana-mana, tetapi tidak berusaha “menyentuh” penonton untuk terkoneksi dengan jalan cerita.

Anehnya saya melihat film ini seperti kumpulan video klip musik yang dikumpulkan jadi satu, belum sempat bercerita panjang lebar, Nayato terus saja mengumpani penonton dengan potongan-potongan gambar “bisu”, dengan diiringi lagu dari Melly Goeslaw. Yah tidak ada salahnya memang, tapi jika adegan ini terus diulang-ulang sampai memenuhi kotak persediaan bertuliskan “kesabaran”, itu namanya sudah keterlaluan. Akhirnya saya bukannya betah melahap kegombalan dan kelebayan yang disajikan Nayato—sudah bro, sudah cukup, saya sudah sangat kekenyangan—tapi tidak sabar untuk secepatnya keluar dari bioskop karena kebosanan ini sudah mendidih. Tidak sempat bercerita dengan baik, Nayato juga tidak mampu mengarahkan pemain-pemain muda-nya untuk tampil menarik, ditambah lagi dialog-dialog yang disumpalkan pada mereka terdengar oh…sangat-sangat penuh gombal murahan, dibuat-buat, dan penyampaian yang aneh, khususnya mendengar Aliff Alli ketika sedang berbicara (salah-satu faktor paling mengganggu dalam film ini). “Heart 2 Heart “ akhirnya hanya menjadi kisah basi yang sulit untuk dinikmati (walau dipaksa), dikemas basi dengan berlabel tulisan kapital “MEMBOSANKAN”.

http://twitter.com/#!/raditherapy/status/2932388170567680

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Talak 3
Review - Bone Tomaha...
Review - Cipali KM 1...
Review - Before I Wa...