My Review is Sucks: Perjaka Terakhir 2

written by Rangga Adithia on October 15, 2010 in CinemaTherapy and Film Indonesia with one Comment

Sam nga bisa liat, Sam nga bisa liat…berhasil ngilang, berhasil ngilang ~ Sugeng

Selain diramaikan oleh film-film bertema drama dan horor, film Indonesia akhir-akhir ini juga ikut diisi oleh film-film yang mengusung tema action-comedy. Sebut saja film-film yang sebelumnya hadir terlebih dahulu seperti Ratu Kostmopolitan, Red Cobex, Laskar Pemimpi yang juga membalut filmnya dengan semangat perjuangan, dan terakhir ada aksi pembela kebenaran unik berjuluk “Madame X”. Dari keempat film yang saya sebutkan, hanya “Madame X” yang berhasil memuaskan ekspektasi saya akan sebuah hiburan dan aksi komedi yang menyegarkan, unik, dan juga konyol dalam artian positif. Bagaimana dengan “Perjaka Terakhir 2”? walau dengan nama Fahrani di jajaran pemain utama, aktris yang pernah dianugrahkan penghargaan pemeran utama wanita terbaik di ajang FFI 2008 tersebut (lewat film Radit dan Jani) tidak dapat menolong film ini dari kebodohan yang sudah tampak jelas ketika saya melihat trailernya. Fahrani sendiri sekarang seperti-nya terjebak dengan film-film tidak berkualitas, setelah sebelumnya juga membintangi “Istri Bohongan” menemani Julia Perez.

Jika trailernya belum cukup menggelikan, sinopsis “Perjaka Terakhir 2” juga tidak kalah menggelikan, isi sinopsis sangat dibuat berlebihan dan berbeda jauh dengan apa yang sebenarnya ditampilkan di layar lebar. Jika trailernya terlalu berlebihan dalam mengobral adegan Fahrani yang “buka-bukaan”, sinopsisnya seenaknya menambahkan adegan yang tidak ada sama sekali di filmnya, dan yang paling konyol adalah: “Ki Wedan membawa Sam ke atas Monas dan menunggu Sugeng di sana”, adegan ini tidak ada di film. Entah ini kesalahan teknis atau ada unsur kesengajaan, mungkin film ini lupa mengganti cerita sinopsis atau memang sengaja untuk “menipu” calon penontonnya. Lupakan soal sinopsis karena filmnya lebih “seru” untuk dikupas. “Perjaka Terakhir 2” menceritakan tentang Sugeng (Ringgo Agus Rahman), seorang satpam culun (bukan polisi seperti di sinopsis) yang sepertinya menaruh hati dengan seorang kasir bernama Sam (Fahrani). Tapi seperti kebanyakan film-film bertema romantis, disini Sam diperlihatkan tidak peduli dengan kehadiran Sugeng. Sampai akhirnya beberapa kejadian konyol berbalut kebetulan dibuat seakan mempertemukan Sam dan Sugeng dengan takdir mereka.

Termasuk ketika seorang pria bersenjata pisau (lagi-lagi bukan bom seperti tertulis dalam sinopsis) mencuri di minimarket dimana Sam bekerja. Malangnya pria tersebut mencuri di minimarket yang salah, karena Sam ternyata bukan penjaga kasir biasa, terbukti dia berhasil meringkus si penjahat dengan satu-dua jurus yang dipamerkannya, yup wanita yang satu ini jago sekali beladiri. Sedangkan Sugeng yang punya niat baik mengejar si penjahat datang terlambat dan justru tertimpa sial terlempar helm hingga pingsan. Sugeng pun terbangun di perguruan halilintar, tempat dimana Sam belajar ilmu beladiri serta dibesarkan oleh guru-gurunya (salah-satunya diperankan Barry Prima). Didorong oleh rasa ingin tahu siapa sebenarnya Sam sekaligus menaklukan hatinya, Sugeng memohon untuk bisa diterima sebagai murid di perguruan yang sedang kesulitan ekonomi tersebut. Walau Sam tidak setuju, Sugeng akhirnya diterima, itu pun karena tidak ada lagi murid yang ingin belajar di perguruan ini. Selagi Sugeng dilatih, di lain pihak ada seseorang pendekar sakti yang berniat mendapatkan kitab rahasia perguruan halilintar.

Jika review singkat di twitter, saya sempat menyebutkan film ini “kecut” seperti rasa popcorn yang sengaja dibeli untuk menemani asyiknya nonton, review tersebut bukan tanpa alasan, karena memang film ini terasa seperti itu. Beruntung saya masih bisa sabar menonton film ini sampai selesai (ketika titik bosan sudah mendidih), sedangkan popcorn kecut yang sudah saya beli, terpaksa dengan sangat menyesal tidak habis dimakan. Pilih mana pulang menonton film ini sakit perut atau menghabiskan jajanan bioskop karena sayang sudah mengeluarkan uang. Tapi akhirnya saya masih tetap sakit perut ditambah pusing dan depresi karena tidak bisa tertawa (justru efeknya lebih parah daripada popcorn kecut ya), film ini justru sukses membuat saya menyesal kenapa tidak mengosongkan isi wadah popcorn, karena toh efek “buruk”nya sama saja. Dari awal padahal saya sudah tak peduli dengan ceritanya, yang dapat ditebak hanya akan menawarkan lusinan hal klise, dengan pola penyajian cerita yang datar, ringan, dan dangkal. Niat positip saya menonton film ini pun lalu difokuskan pada sajian komedi yang memang sepertinya jadi daya jual film ini, dengan segala balutan action cheesy dan variasi adegan buka-bukaan Fahrani.

Ternyata sinopsis film ini lebih lucu—Sam dibawa ke atas monas—ketimbang menonton filmnya yang sama sekali tidak bisa memancing saya tertawa, plus tidak ada tuh adegan Sam dibawa ke atas monas. Ringgo Agus Rahman benar-benar dijadikan “babak belur” di film ini, karena dia memang tumbal untuk memancing penonton tertawa geli. Namun melihat wajah khas “innocent”-nya sangat membosankan, ditambah lagi praktek-praktek komedi yang lagi-lagi kadaluarsa, tertimpa ini dan itu, terjatuh, kena tendang, kena siram, kena tonjok. Saya tidak habis pikir apakah menyiksa seorang aktor itu lucu? menonton awal-awal komeng dkk melakukan itu di televisi memang lucu tapi sekarang berubah memuakan. Film ini hanya melanjutkan apa yang sudah dilakukan oleh komedi-komedi terdahulu, bedanya kali ini dengan sedikit tambalan efek-efek hambar, terlalu berlebihan dan tidak pada tempatnya. Jika komedi gagal dan action-nya terlalu loyo, tenang film ini masih punya senjata rahasia seorang Fahrani yang rela buka-bukaan, menggoda Ringgo dan berharap bisa membuat penonton tercuci otaknya dan lupa kosongnya hiburan dalam film ini. “Perjaka Terakhir 2” seharusnya memfilmkan sinopsis yang “menipu” itu, saya jamin pasti akan sangat lucu, mungkin di sekuel berikutnya Perjaka Terakhir 3. Momen terbaik dari film ini hanya ketika melihat Barry Prima bertarung, epic!

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

20 Film Indonesia Wa...
Review - Surat Dari ...
Review - Ghost Diary...
Review - Blair Witch...