Review: Tokyo Godfathers

written by Rangga Adithia on September 16, 2010 in Animation and Asian Film and CinemaTherapy with 3 comments

Dreams do come true. I always dreamed of being the mother of a little girl. A nice, warm house, a pretty daughter. Even if my husband was no good… I would accept dire poverty as long as I had my child. ~ Hana

“Tokyo Godfathers” lucunya terdengar seperti judul film-film mafia, menggambarkan kota Tokyo dengan yakuza-yakuzanya, tapi siapa sangka film animasi ini ternyata menyuguhkan sebuah komedi kehidupan, yah disini takdir memang terlihat begitu menggelitik namun secara bersamaan juga terasa “dingin” sedingin butir-butir salju yang jatuh diantara tubuh-tubuh yang rapuh. Satoshi Kon tidak sedang membuat cerita yang rumit atau penuh tragedi yang kusut, seperti sedang bercanda, dia membisikkan kepada kita bahwa Tuhan terkadang punya selera humor yang cerdas. Mempermainkan manusia ciptaan-Nya dengan rangkaian lelucon bernama takdir. Kita yang menonton film ini pun seperti sedang diajak bermain oleh Satoshi, melewati murungnya langit di malam natal di antara cerianya kerlap-kerlip tembok Tokyo, sambil menceritakan kisah tentang tiga orang yang dipertemukan dengan takdirnya masing-masing dan mencoba merangkulnya.

Gin, seorang lelaki paruh baya pemabuk, Hana, seorang waria, dan Miyuki, yang lari dari rumahnya mungkin tidak pernah membayangkan di malam natal ini mereka akan bertemu dengan takdir mereka masing-masing. Ketiga orang yang berteman dan saling berbagi nasib menjadi gelandangan ini secara kebetulan menemukan seorang bayi yang ditinggal ibunya di tempat sampah. Hana yang sudah lama bermimpi menjadi seorang ibu ingin sekali “mengadopsi” bayi tersebut, tapi tentu saja mendapat tentangan dari Gin dan juga Miyuki yang lebih memilih untuk melaporkannya ke polisi. Karena jelas-jelas melihat kenyataan mereka tidak bisa membesarkan bayi itu dengan kondisi mereka yang hidup dari jalanan. Akhirnya mereka sepakat untuk mengembalikan bayi yang diberi nama Kiyoko ini kepada ibu kandungnya, dengan bermodalkan foto sang ibu dan kartu nama sebuah klub. Maka dimulailah petualangan epik Gin, Hana, dan Miyuki menelusuri kota, mencari keberadaan ibu Kiyoko sambil bersamaan membuka satu persatu rahasia yang selama ini mereka simpan dari yang lain. Mereka sedang menapaki takdirnya…

Plotnya bisa dibilang sederhana, tapi     hebatnya Satoshi Kon dan Keiko Nobumoto dapat menambah berbagai macam hal menarik ke dalam cerita berdurasi 90 menit ini. Satoshi pun sanggup mengarahkan saya untuk tetap “betah” tinggal di Tokyo bersama tiga orang gelandangan yang terus saja berbenturan dengan konflik, rahasia-rahasia mereka, serta semua hal berbau kebetulan. Ceritanya mengalir dengan nyaman sambil bersamaan saya dibuat terikat dengan setiap karakter di “Tokyo Godfathers”. Mereka, Gin, Hana, dan Miyuki tidak hanya membuat saya penasaran menunggu “siapa mereka sebenarnya”, tapi juga apa yang akan terjadi dengan karakter-karakter yang dari awal film dimulai memang diperlihatkan menutup jati diri mereka yang sebenarnya. Setiap jejak mereka melangkah mendekati takdir dan orang tua Kiyoko, mereka tidak hanya meninggalkan bekas bentuk alas kaki yang dipakai tetapi juga tertinggal memori-memori masa lalu yang membebani selama ini. Jejak-jejak kaki di tumpukan tebal salju putih itu adalah saksi dari perjalanan menarik, lucu, menyentuh, dan juga penuh makna.

Berbicara soal masa lalu, flashback saling bergantian muncul melengkapi setiap karakter dengan cerita yang selama ini tertutup, termanipulasi, dan terlupakan sejenak. Bersama jalan cerita yang terus maju tanpa sedikitpun membosankan, film ini juga mengajak saya untuk menelusuri jejak masa lalu, menjawab setiap pertanyaan yang menggantung pada tiga karakter di film ini. Sebatas hanya ingin membisikkan rahasia kecil mereka, Satoshi mengerti untuk tidak mengajak saya terlalu jauh terjebak di masa lalu, seperti juga Gin dan teman-temannya yang walau terbebani masa lalu tapi mereka tidak ingin masa lalu tersebut menghentikan langkah mereka menemukan kedamaian, mengembalikan Kiyoko ke pelukan ibu kandungnya. Untuk itu, cerita-cerita masa lalu hanya berperan sebagai seperti sebuah aksesoris cantik di pohon natal, kilasan masa lalu hanya akan menjadi teman manis, sebuah pelengkap untuk menemani saya menikmati cerita yang sebenarnya.

Film ini memang tampil apa adanya, tidak terlalu dipaksakan untuk lucu, menyentuh, dan berlebihan. Saya sama sekali tidak keberatan dengan berbagai macam momen kebetulan yang bertubi-tubi saling membenturkan setiap karakternya dengan sang takdir. Karena terkadang memang seperti itulah takdir bekerja, lucu, seperti lelucon, tak terbayangkan dan terpahat dalam bentuk suatu hal yang kebetulan. Saya justru menikmati apa yang film ini sajikan, serangkaian momen kebetulan yang bisa diolah sedemikian rupa oleh Satoshi menjadi cerita yang tak ada habisnya mengejutkan dilain sisi juga mengingatkan betapa mukjizat Tuhan itu memang selalu ada dan Dia tidak pernah pelit memberikannya. Maka tak berlebihan juga ketika Satoshi membuat “Tokyo Godfathers” layaknya sebuah sumbu yang dinyalakan oleh api yang kebetulan datang dari sisa abu rokok yang jatuh. Api itu menyala sampai akhirnya mati tertiup angin lalu kembali menyala ketika seorang anak kecil menemukannya dan menyalakan apinya. Sebuah kebetulan yang lucu, walau api itu akan mati entah tertiup angin lagi atau terinjak, tapi masih ada harapan sumbu tersebut menyala lagi, harapan adalah yang menjadikan semuanya mungkin.

Gin, Hana, dan Miyuki juga punya harapan yang besar untuk menemukan ibu kandung Kiyoko, walaupun tidak sedikit rintangan yang menghalangi mereka, dibuat murung oleh masa lalu, konflik-konflik yang bermunculan diantara mereka, tetapi selalu ada harapan kecil yang tumbuh. Tidak perlu menunggu lama sampai akhirnya saya pun jatuh cinta dengan tiga gelandangan malang yang harus menempuh kemalangan ini. Tekat mereka yang begitu kuat melahirkan simpati tersendiri dan humor-humor yang muncul diantara kemurungan menjadi hiburan tambahan untuk film ini. “Tokyo Godfathers” seperti apa yang saya katakan di awal memang sebuah komedi yang menggelitik, sepertinya film ini ingin mengejek betapa seriusnya kita terkadang terhadap sebuah kehidupan, ketika hidup sebenarnya mampu dibuat lebih longgar, tidak serius, dan dinikmati.

Mewakili itu semua, tiga gelandangan tersebut masih bisa bercanda dengan kehidupan mereka yang tidak sempurna, jauh dari kenikmatan. Tapi sepertinya mereka jauh lebih bisa menikmati hidup dengan segala rejeki yang mereka dapatkan setiap hari di jalan, dari sebotol bir sampai sekotak susu di sebuah kuburan, dan mereka tidak pernah lupa akan Tuhan, Hana selalu terlihat berdoa setiap saat mendapat secuil berkah. Hana yang selalu bisa membuat saya tertawa dengan tingkah lakunya dan mimiknya yang berlebihan (saya selalu suka dengan animasi Jepang dimana mimik mereka yang berlebihan selalu cocok dengan dialognya), ternyata juga sanggup membuat saya berpikir betapa hidup itu terlalu berharga untuk hanya diisi oleh sikap negatif. “Tokyo Godfathers” adalah petualangan yang menjanjikan kedamaian hati, hiburan yang melebarkan senyum, dan keseluruhan ceritanya adalah kehangatan yang merangkul kita di malam natal yang dingin.

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - A Copy of M...
Review - Aach... Aku...
Review - Telaga Angk...
Review - Under the S...