Review: Invictus & Joint Security Area (JSA)

written by Rangga Adithia on September 20, 2010 in Asian Film and CinemaTherapy and Drama and Hollywood with one Comment

I thank whatever gods may be / For my unconquerable soul. / I am the master of my fate / I am the captain of my soul. ~ Nelson Mandela

“Invictus” seperti sebuah undangan Nelson Mandela untuk mengajak penonton minum teh bersamanya, menceritakan masa lalu dan apa yang akan dilakukannya pada Afrika Selatan melalui obrolan-obrolan sederhana namun sarat akan makna. Film ini tidak hanya mengajak saya menengok keadaan rakyat Afrika Selatan dan negaranya pada saat Nelson baru saja dibebaskan tapi juga melihat bagaimana sebuah negara yang traumatik paska era apartheid akan diubah oleh manusia dengan pemikiran luar biasa. Dua puluh tujuh tahun bukanlah waktu yang sebentar, apalagi jika menghabiskan dua dekade hidupnya di pulau Robben, bukan nama pulau tempat berlibur tetapi sebuah penjara yang dikelilingi laut, layaknya Alcatraz. Lalu bagaimana mungkin Nelson bisa memaafkan orang-orang yang menjebloskannya ke penjara setelah dia bebas, melupakan dosa mereka yang telah merenggut bertahun-tahun kehidupannya.

Memaafkan dan melupakan hanya salah-satu pemikiran luar biasa Nelson Mandela, dia hanya memberikan sebuah contoh, lalu dengan langkah yang tepat mengajak rakyatnya untuk ikut memaafkan apa yang sudah terjadi, walau sulit untuk menyembuhkan luka dan sakit hati yang membekas dari masa lalu.“Jiwa akan terbebas hanya dengan memaafkan, membuang ketakutan, makanya memaafkan adalah sebuah senjata yang kuat”, apa yang diucapkan oleh Mandela memang terdengar sederhana tapi kata-kata ini lah senjatanya, mendamaikan kulit hitam dengan kulit putih yang tampaknya takut akan adanya sebuah aksi balas dendam. Terpilih sebagai presiden di tahun 1994, Mandela segera mengambil langkah untuk menyatukan kedua ras ini sambil juga fokus pada pembangunan negaranya dan menyelesaikan masalah-masalah besar lain seperti kejahatan, kemiskinan, dan juga pengangguran.

Cerita pun bergulir sampai suatu ketika Mandela melihat pertandingan rugby dan menyaksikkan tim nasional justru dicemooh orang Afrika Selatan sendiri. Ide itu pun muncul, Mandela akan memanfaatkan momen piala dunia Rugby sebagai ajang mempersatukan rakyatnya sekaligus memperkenalkan Afrika Selatan yang baru kepada dunia internasional. Melalui “Springboks” dan kaptennya, Mandela berharap rakyatnya bisa mendapatkan kejayaan (apa yang dibutuhkan rakyatnya pada saat ini) lewat sebuah kemenangan, karena kemenangan tersebut tidak hanya akan menjadi milik salah-satu ras tetapi untuk Afrika Selatan. Morgan Freeman memang aktor yang tepat untuk berperan sebagai Nelson Mandela, tidak hanya dari fisiknya yang mirip tetapi juga bagaimana Morgan menyulap dirinya untuk menjadi Mandela secara keseluruhan. Aktingnya yang sangat meyakinkan membuat saya seperti bukan melihat film biopik tetapi dokumenter tentang Mandela. Clint Eastwood seperti biasa mengerti sekali untuk membawa saya ke dalam filmnya, ikut merasakan momen-momen yang menyentuh dan menginspirasi di film yang diadaptasi dari buku karangan John Carlin ini.

____________________________

Joint Security Area (2000)

Your shadow is over the line. Watch it! ~ Sgt. Oh Kyeong-pil

Joint Security Area yang terletak di daerah bernama Panmunjeom adalah tempat dimana ketegangan bisa terpicu kapan saja diantara Korea Utara dan Selatan. Perbatasan yang dijaga siang dan malam tanpa lelah selama 24 jam, hanya untuk memastikan tidak ada seorang pun melangkah masuk melewati garis batas yang sudah ditentukan. Bahkan satu jengkal bayangan bisa saja memicu konflik, kenyataannya kedua belah pihak memang sudah terlatih untuk untuk siap siaga, karena memang adu tembak bisa kapan saja terjadi. Suara sirine tanda bahaya dibunyikan setiap saat perbatasan dilanggar dan dalam waktu sekejap pasukan dari kedua belah pihak dengan peralatan yang lengkap sudah bersiap dengan moncong senapan mengarah ke musuh. Jembatan yang dikenal dengan sebutan “bridge of no return” sepertinya menjadi saksi bisu betapa ekstrimnya lokasi perbatasan tersebut, bahkan sanggup membuat malu tembok berlin yang lebih terkenal.

Disinilah Park Chan-wook berani untuk mencoba bermain-main dengan isu yang bisa dibilang sangat sensitif, bersetting di JSA, sang sutradara yang kelak membesut trilogi “Vengeance” ini akan mengajak saya “bertamasya” untuk mengenal lebih jauh seperti apa rasanya tinggal di tempat yang sebenarnya membosankan, dengan pos-pos perbatasan yang setiap saat kemungkinan berubah dari situasi normal menjadi berisik dengan tanda bahaya. Sambil menunggu investigasi yang dilakukan oleh Mayor Sophie E. Jean (Lee Young Ae) dalam mengungkap tragedi di JSA yang memakan korban dari pihak Korea Utara, Park juga akan mengajak saya untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dari flashback yang menceritakan kisah sangat menarik antara empat tentara Korea Utara dan Selatan. Film ini pun akan tampak seperti terbagi menjadi dua film yang berbeda.

Tentu saja walau terlihat seperti dua film, kedua cerita saling mendukung satu sama lain, menjejali saya dengan pertanyaan di satu pihak, sekaligus di pihak lain dengan apik melakukan tugasnya menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Film buatan tahun 2000 ini ditambah menarik tidak hanya karena plotnya yang dirangkai solid dan mudah untuk dinikmati tetapi kadang dari bagaimana film ini sanggup memotret setiap momen penting untuk jadi lebih bermakna dan sukses menyampaikan pesan yang dinginkan kepada para penonton. Selain memberikan rasa penasaran di setiap adegannya, film ini juga memberi banyak pesan moral diantara adegan-adegannya yang digarap dengan apik oleh Park. Kadang membuat saya berpikir sesaat, tersentuh, tapi asyiknya masih bisa menghibur dan mengajak bercanda, apalagi ketika tiba waktunya setiap karakter disini diberi porsi yang humoris. Kesemua pemainnya bermain luar biasa, porsi yang diberikan kepada mereka tidak ada yang mubajir. Hasilnya adalah sebuah drama-thriller menegangkan yang jitu melesatkan pelurunya ke kepala-kepala penontonnya yang sedang terkurung dalam jeruji penasaran.

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Surat Dari ...
Review - Turbo Kid (...
Review - Don't Breat...
Review - Warkop DKI ...