Review: Videodrome

written by Rangga Adithia on August 11, 2010 in Canadian Film and CinemaTherapy and Horror and SciFi with 2 comments

Long live the new flesh! ~ Max

Setelah 27 tahun berlalu sejak pertama kali tayang di tahun 1983, apakah “Videodrome” masih punya dampak sehebat itu untuk mengingatkan kita televisi adalah tabung (well, sekarang dia berubah makin tipis dengan kualitas gambar makin seksi) yang memiliki sisi lebih menakutkan ketimbang sebuah hiburan bergerak? realitas hanya dibatasi oleh kaca bercahaya yang memisahkan penontonnya dengan riasan tebal informasi. Saya kira film ini masih punya ikatan yang kuat dengan apa yang terjadi dijaman dimana internet makin membuat dunia semakin kecil dan media berevolusi menjadi raksasa informasi, televisi tentu saja makin mengokohkan dirinya sebagai mesin elektonik pembuat paranoid. Lucu pada saat kita kecil dulu, orang tua selalu melarang anaknya jangan terlalu dekat nonton, itu ada benarnya supaya mata tidak cepat rusak. Sekarang tampaknya larangan tersebut hanya menjadi ingatan manis untuk mengingatkan saya agar kita tidak menelan bulat-bulat apa yang ada di televisi jika tidak mau otak ini “dirusak” oleh si tabung ajaib.

Televisi dan sekarang internet tidak hanya jadi sumber informasi yang berlebihan tetapi juga jika tidak kita dampingi dengan filter dapat mengubah kita menjadi boneka-boneka yang dikendalikan oleh prilaku digital, moral buatan, dan mungkin halusinasi akut seperti yang terjadi dengan Max, Apakah Max Renn (James Woods) memang sudah terlalu dekat menonton? David Cronenberg lewat film ini tampaknya ingin mengutarakan pendapatnya tentang televisi dan efek psikologis dan mental yang bisa terjadi kepada siapapun. Max diceritakan adalah seorang pimpinan sebuah stasiun televisi bernama Civic-TV, berbeda dengan stasiun lain, program yang disajikan stasiun berbasis di Kanada ini sangat spesial dengan menyiarkan kekerasan dan pornografi. Tetapi tampaknya program acara yang ada tidak memuaskan Max, dia menginginkan yang lebih hardcore dan bisa menyajikan apa yang belum pernah dilihat penontonnya.

Harapan Max langsung terkabulkan ketika Harlan (Peter Dvorsky)—orang yang bekerja untuk civic tv—berhasil membajak sebuah siaran yang berisi acara televisi aneh dan tidak memiliki plot. Acara ini hanya menyajikan penyiksaan yang brutal dan pembunuhan yang terlihat nyata. Max merespon dengan senyum lebar dan menyuruh Harlan untuk memulai membajak terus siaran yang katanya berasal dari Malaysia (belakangan ternyata diketahui siaran ini berasal dari Pittsburgh). Acara yang dinamakan “videodrome” ini direkam dan ditonton oleh Max sendiri. Digerakkan oleh rasa penasaran tentang videodrome, akhirnya Max mencoba mencari tahu kesana-kemari termasuk mengorek informasi dari siapa saja yang tahu kebenaran acara yang mengekploitasi kekejaman ini. Tanpa disadari semakin dekat Max dengan kebenaran, dirinya mulai dikuasai oleh halusinasi yang sangat aneh.

“Videodrome” menjanjikan sebuah tontonan horor yang tidak hanya kaya akan adegan-adegan menjijikan dan menegangkan, tetapi juga mengantarkan kita pada cerita yang tak biasa pada film-film horor. Cronenberg bisa dibilang memprogram kita untuk setidaknya sedikit berpikir di filmnya, memaksa kita dengan lembut untuk mencerna setiap suapan teori-teori gila tentang sebuah video yang bisa membuat tumor dan halusinasi. Berkaca pada tahun dimana visual efek masih dikerjakan sepenuhnya oleh tangan-tangan manusia dan teknologi komputer masih membatasi kemampuannya untuk mentransfer ide menjadi sebuah gambar bergerak yang realistis, Cronenberg sepertinya berhasil memaksimalkan apa yang ada di kepalanya dan akhirnya ide tersebut bisa tertuang di filmnya (walau tidak semua ide tersebut bisa terealisasi). Di tangan seorang Rick Baker, ide-ide Cronenberg yang awalnya mustahil tampaknya bisa diterjemahkan dengan baik oleh Baker. Hasilnya, tentu saja halusinasi berdurasi 90 menit penuh dengan visual-visual abnormal.

Film ini masih saja bisa mengejutkan saya dengan segala aktivitas tidak normalnya walau isi kepala ini sudah dijejalkan berbagai macam film yang tidak masuk diakal, penuh efek spesial, dan adegan-adegan gore yang lebih ekstrim. Tetap saja televisi berisi usus dan isi perut atau video kaset yang mendesah dan berdetak seperti jantung, sanggup menciptakan gelengan kepala menandakan saya masih tidak percaya apa yang saya tonton. Dipandu oleh karakter anti-hero, Max, saya menelusuri isi kepala Cronenberg bersamaan dengan Max yang mendekati sebuah bayangan konspirasi. Film ini memang tidak berbelit-belit menjawab setiap pertanyaan saya dari awal tapi tetap saja menyisakan tanda tanya lain ketika film selesai. Cronenberg memerankan perannya sebagai seorang progammer dengan baik dan sanggup mengurung saya dalam program yang sudah dibuatnya, sama seperti Max, saya juga dibuat berhalusinasi dengan cerita dan adegan yang menghipnotis otak untuk tidak merasakan jenuh. Akting James Woods yang memerankan Max dengan begitu meyakinkan sebagai seorang yang kehilangan pegangannya antara yang realita dan halusinasi, juga berhasil melengkapi film ini sebagai tontonan yang menghibur imajinasi.

“Videodrome” adalah ramalan Cronenberg yang menjadi kenyataan, lihat saja bagaimana hari ini televisi memang menjadi “monster gila” yang rakus dan ambisius. Monster yang tidak ada hentinya menyuapkan kekerasan dan “sampah”, dengan manis bersembunyi dibalik tujuan menghibur penonton. Max disini juga punya tujuan menghibur dengan cara gilanya sendiri, tapi lihat bagaimana dia bermetamorfosis menjadi manusia yang berakhir dikendalikan oleh apa yang dia tonton, karena dia berperan sebagai penonton. Bukankah penonton memang selalu menjadi pihak yang menjadi korban? entah bagaimana caranya dan mendapat ide darimana, Cronenberg berhasil menyimpulkan apa yang akan terjadi di masa depan dimana televisi benar-benar berevolusi menjadi momok yang menakutkan, seperti apa yang dia ceritakan pada filmnya, dengan ide yang menurut saya orisinil ini. “Videodrome” adalah horor yang tidak hanya menciptakan momen-momen menakutkan tetapi juga film yang pintar memaksa saya mengerutkan dahi. Internet-drome?

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Bone Tomaha...
Review - 3 Srikandi
Review - Lights Out
Review - Train to Bu...