Review: Toilet 105

written by Rangga Adithia on August 16, 2010 in CinemaTherapy and Film Indonesia with 8 comments

Semua toilet ada penunggunya…

Entah sudah berapa juta film horror (saya tidak peduli yang tema cinta) lokal yang punya lokasi di sekolah, dari “Ada Koya Pagayo di Sekolah” sampai “Toilet 105”, film karya Hartawan Triguna yang beruntung bisa saya review kali ini. Sah-sah saja sih jika sekolah menjadi lahan para filmmaker untuk memarkirkan idenya, tidak ada aturan pemerintah yang melarang membuat film di sekolah kan. Tapi sayangnya ruang-ruang intelektual ini justru dieksploitasi sembarangan demi mencari keuntungan semata tanpa memikirkan apa yang bisa diakibatkan oleh film-film horor tersebut. Citra sekolah sebagai sarana untuk menimba ilmu dimanipulasi dengan dangkal semata-mata demi mengejar penonton muda lalu menepuk bahu mereka untuk mengajak ke bioskop. Di bioskop yang mereka pelajari adalah, selain sekolah menjadi tempat paling horor daripada kuburan, mereka dijejalkan kebodohan dan kebebasan. Bodoh karena tidak ada pelajaran yang bisa dipetik dari film horor yang selama ini saya tonton, isinya hanya hura-hura, anak-anak yang bangga kalau sudah punya pacar sejuta atau berhasil jadi preman kampung di sekolah.

Anak-anak yang kadang diperankan oleh aktor yang sudah tidak remaja lagi ini lagi-lagi memberikan contoh buruk, mana ada sih sekolah yang mengijinkan muridnya untuk tidak rapih memakai seragam, seingat saya (gini-gini eike juga pernah sekolah loh) kalau pakai seragam sekolah tidak sesuai aturan langsung ditegur sama guru. Kenapa kalau di film sepertinya sangat bebas yah? baju dikeluarkan (padahal masih disekolah) lewat di depan guru cuek-bebek-petantang-petenteng-sok-memberi-salam. Belum lagi gaya modis yang berlebihan makin membuat citra sekolah seperti panggung fashion show, ayolah sebegitu pentingkah film anda jadi seperti itu? penting dong kalau tidak filmnya jadi cupu. Masih banyak sebetulnya hiasan-hiasan hiperbola bermotif demi mempercantik film bla-bla-bla, mereka bisa saja bersilat lidah semua anak-anak sekolah itu berkelakuan wajar, memakai seragam rapih…hey mereka yang pakai seragam rapih hanya figuran, tetap saja aktor-aktor utamanya begajulan tak jelas di pojok kelas. Apalagi jika sudah ditangani yang dipertuan agung nyato…sekolah berubah jadi tempat menjual materi dan pameran gadis-gadis berbedak tebal. Belum lagi jika melirik sinetron lokal, wah membicarakan sinetron bisa-bisa review ini berubah jadi novel trilogi beratus-ratus halaman (lebay ah).

“Toilet 105”, dari judulnya saja sudah membuat penasaran, apa maksudnya angka 105 di belakang kata toilet? toilet di SMU Bina Persada ini tidak sampai sebanyak itu, bisa-bisa masuk rekor muri jika memang iya. Bukan nama kelas, bukan juga jumlah muridnya, lalu apa kaitan judul dengan filmnya sendiri? mungkin memang tidak ada. Sebelum pusing memikirkan judul, saya mau menceritakan apa yang terjadi dengan sekolah yang kalau dikutip dari sinopsisnya “terang, bersih, wangi dan jadi tempat favorit untuk semua penghuninya…semua, termasuk penghuni halus”. Awalnya semua aktifitas berjalan biasa saja dan normal-normal saja, sampai akhirnya sekolah ini kedatangan murid baru yang sekali lagi mengutip sinopsisnya “sampai muncul anak baru bernama Marsya (Coralie), cewek cakep pindahan dari Bandung yang sepertinya  membuat setan toilet menjadi gerah”. Jangan tanya saya siapa yang membuat sinopsi konyol tersebut, terlebih lagi di film, Marsya itu pindahan dari Perancis bukan Paris Van Java alias Bandung.

Sebelum saya melanjutkan review ini, saya ijin ke toilet dulu yah…udah kebelet nih. Sip! mari lanjutkan lagi, seperti tidak punya ide-ide lain untuk mencoba menakut-nakuti saya, atau penonton penggemar horor Indonesia, film ini masih terjebak dengan kaget-kaget tahi ayam. Berusaha menyeramkan namun akhirnya malah terpeleset di toilet, belum lagi tampilan hantunya yang seperti pemain band blackmetal yang kehabisan bedak lalu jatuh ke selokan. Hantu-hantu kkd jadi kelihatan lebih sangar ketimbang hantu toilet ini, walau sama-sama bertampang target lemparan bubur basi. Tampaknya kkd sekarang harus mempertimbangkan untuk meminjamkan properti hantunya, lumayan toh bisa mendapat uang tambahan untuk membuat film lagi (sambar saya dengan petirmu oh zeuz). Formula “hit and run” yang biasa dipakai nayato, disini dimodifikasi sedikit dengan penampakan hantunya yang lebih narsis walau sepotong-sepotong. Yah sepotong tangan yang muncul dari atas tembok toilet, wastafel, sampai iseng muncul dari lobang jamban lalu garuk-garuk selangkangan salah satu pemainnya yang sedang asik nge-bokep.

Saya kebelet lagi nih, permisi ke toilet lagi…saya tidak habis pikir hobi banget setannya muncul dari tempat-tempat jorok, sampai-sampai potongan kepalanya sering muncul di tempat pipis. Jadi bertanya-tanya apa matinya keselek sabun di toilet atau mati karena kejepit tutup toilet? sambil diajak penasaran darimana hantu jamban ini berasal, film ini dengan baik hati menyajikan anak-anak perempuan perawan memamerkan kemolekan dan keindahan tubuhnya. Tanpa malu-malu mereka berpose hanya memakai pakaian dalam warna-warni, begitu pentingnya memasukkan potongan tidak penting adegan ini? penting untuk diselipkan di trailer, jadi banyak yang nonton. Berkaca pada penampilan yang setengah bugil, para pemain cewek-cewek cheerleader ini juga dengan cemerlang berakting nol dan berteriak setengah-setengah, tidak seperti melihat hantu tapi berteriak seperti terkejut melihat diskon gede-gede-an di mall.

Sekali lagi saya harus ke toilet, jadi permisi sebentar yah…film ini boleh saja menambah bobot cerita yang menarik dengan menyelipkan misteri dan pencarian ala detektif (malah ada tambahan time travel) untuk menghubung-hubungkan setan jamban dengan murid senior yang hilang berminggu-minggu, tapi tetap saja tidak menambah nilai plus apa-apa karena terlalu banyak minus yang mengurangi nilai film ini. pemain-pemainnya berakting datar dan mengganggu, dari sok tahu, sok bule, sampai setan pun tidak becus jadi setan, beruntung akting buruknya ditutupi riasan tebal bubur kertas. Memalukan almamaternya saja, percuma dong lulusan dari perguruan tinggi hantu jika tidak bisa menakut-nakuti. Beruntung setan jamban masih mendapat medali untuk penampakan terbaik lewat adegan dia muncul dari jamban yang mengalahkan adegan sadako keluar dari televisi yang sudah melegenda itu. Setelah bolak-balik toilet, saya akhirnya diberi pencerahan hubungan 105 dijudul adalah jumlah adegan toilet ditambah para pemainnya yang berdialog seperti ini “saya permisi ke toilet”, yah sebanyak itu toilet dipakai di film ini. Sambil mengakhiri review ini, ijinkan saya untuk menggunting pita grand launching sistem rating baru di blog ini, rating yang dikhususkan untuk film-film cantik (kalahlah piring). Terima kasih sebesar-besarnya untuk kkd tailor sebagai sponsor utama pemasok kancut…bravo!


Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Talak 3
Review - Deathgasm (...
Review - Lukisan Ber...
Review - Blair Witch...