Review: Nekromantik

written by Rangga Adithia on August 18, 2010 in Cinema of Europe and CinemaTherapy and Horror with 6 comments

Warning: some of this film may be seen as grossly offensive and should not be shown to minors!!!

[playlist: Cannibal Corpse] Sebuah opening seorang perempuan membuka celana dalam lalu kencing sambil berdiri, sukses menjadi pemacu mood yang pas untuk nantinya “Nekromantik” menyajikan apa yang saya namakan parade kejutan kursi listrik. Papan peringatan yang terpampang jelas di awal film ternyata memang bukan main-main, layaknya sebuah larangan untuk tidak menyebrangi pagar berlistrik. Tentu saja digerakkan rasa penasaran membuat saya tidak menghiraukan peringatan tersebut, hasilnya saya tidak hanya seperti orang tersetrum lalu hangus terpanggang tetapi juga seperti di tembak mati ditempat. Ngomong-ngomong itu hanya gambaran perasaan saya setelah selesai menonton film karya Jörg Buttgereit ini. Tapi yang paling hebat terguncang ada di bagian perut, entah bagaimana jadinya jika saya menonton sambil memakan popcorn, mungkin setelah halus dicerna perut, semuanya bisa dimuntahkan lagi, mual bukan main dan efek tidak nafsu makannya bertahan 10 menit saja (hahahaha). Serius, saya tidak merekomendasikan film ini ditonton sambil makan.

Saya tidak pernah membayangkan ada pekerjaan seperti apa yang dilakukan Rob (Daktari Lorenz), jika ada kecelakaan fatal dengan mayat-mayat bergelimpangan dengan keadaan tidak utuh lagi atau jika ada korban pembunuhan dengan kondisi mayat membusuk, dia dan teman-temannya di Joe’s Streetcleaning Agency siap sedia di tempat kejadian untuk membersihkan situasi berantakan ini. Berkostum putih-putih, mereka mengangkat mayat tanpa sarung tangan (gila) dan lebih gilanya karena tidak mempunyai persediaan kantong mayat mereka dengan seenaknya mengantongi mayat dengan kantong hitam yang biasa dipakai untuk sampah (selera komedi hebat dari sang sutradara). Rob ternyata menyukai pekerjaannya, karena dia bisa membawa pulang oleh-oleh ke rumahnya, bukan martabak manis atau ayam goreng kolonel Sanders tapi organ manusia, untuk menambah koleksi-koleksinya yang dia simpan di toples berisi cairan formalin. Rob tinggal di apartemennya bersama dengan Betty (Beatrice Manowski), kekasihnya yang hobi mandi dengan darah dan sama-sama berbagi kecintaannya pada mayat…sakit jiwa? mungkin.

Jörg dengan tema necrophilia-nya akan mengajak kita bermain selama 75 menit di area bermain paling menjijikan, mata ini tidak lagi dimanjakan dengan adegan-adegan slasher penuh darah dan tidak juga mengajak kita untuk merinding ketakutan mendengar teriakan wanita yang sedang disiksa lewat adegan super-sadis. Jika saya bisa bertahan dengan bergalon-galon darah, “Nekromantik” sebaliknya seperti meledek balik kepada saya dan berhasil membuat saya mual dan ingin mengeluarkan semua isi perut ini lewat adegan-adegan yang sangat menjijikkan. Seperti apa menjijikannya? sulit untuk menggambarkannya, selain karena saya tidak pintar untuk menggambar sketsa orang mual, film ini memang dibuat untuk dirasakan sendiri efeknya dengan menontonnya. Satu hal yang pasti, film ini seperti mengurung saya dalam lorong waktu, ketika saya merasa sudah cukup dengan adegan-adegan yang diumpankan oleh Jörg, saya baru sadar durasi film ini baru mencapai setengahnya. Parahnya ternyata apa yang sudah saya lihat masih belum seberapa dengan adegan-adegan gila selanjutnya.

“Nekromantik” seperti lebah yang perlahan-lahan memaksa masuk ke dalam perut lewat pusar (gimana caranya hanya ada di ruang khayal saya), pertama saya hanya geli-geli saja melihat mayat hasil kecelakaan yang menyisakan setengah bagian tubuhnya dan saya masih sempat-sempatnya tertawa. Tapi ketika lebah tersebut berhasil masuk, saya mulai merasakan sakit ditambah si lebah asyik menyengat organ di dalam perut. Apakah saya masih bisa tertawa? tidak, saya diam seperti orang yang belum belajar dan diberikan soal oleh guru, gobloknya saya salah masuk kelas pula (bisa bayangkan saya sediam apa atau penggambaran saya terlalu aneh). Belum cukup lebah yang masuk, film ini mengundang capung, lalat, cacing, ulat bulu, dan kelabang untuk masuk ke perut saya lewat jalan yang sama. Jörg sepertinya tahu betul menciptakan siksaan untuk penontonnya dan dia tidak terburu-buru sekaligus dalam mengeluarkan semua ide menjijikkannya itu.

Seperti adegan three-some (dengan mayat tentunya), Jörg tahan untuk tidak dikendalikan oleh nafsu pesakitannya untuk secara berlebihan menampilkan nya dengan vulgar dan justru malah terlihat seperti film porno sakit jiwa murahan. Jörg malah menuangkan takaran visual yang cukup untuk adegan ini, membiarkan kita untuk berimajinasi sendiri betapa mualnya adegan tersebut. Jörg juga menyorot adegan gila tersebut yang anehnya terlihat artistik di mata saya, tapi tetap saja tidak mengurangi efek rangsang asam lambung untuk terus bergejolak, menciptakan rasa mual yang dasyat. Formula mual ditambah dengan musik sintesis mengalun-ngalun kelam, sukses membuat adegan-adegan yang dihadirkan Jörg sepertinya akan betah untuk tinggal di memori saya (tampaknya saat ini saya butuh Cobb dan kawan-kawan laskar extraction-nya) untuk waktu yang lama.

Hiburan menjijikan dalam “Nekromantik” tidak terlepas dari betapa realistisnya film ini menghadirkan mayat dan segala pernak-pernik mainan Rob. Walau dengan efek terbatas di jaman itu dan dengan kenyataan bahwa film ini dibuat tanpa bujet—Jörg membuat film ini dengan kamera 8mm, barang-barang pinjaman dan menyelesaikannya dalam 2 tahun—namun film ini bisa menghadirkan mayat dan efek-efek spesial yang terlihat tidak murahan dan justru meyakinkan mata saya untuk berkata itu nyata. Saya seperti melihat mayat sungguhan dengan cairan-cairan lengket menjijikkan, itu membuktikan film ini memang begitu serius dibuat. Jörg yang pernah ditolak masuk sekolah film ini seperti ingin menyampaikan kekesalannya dengan menuangkannya ke dalam film ini. Terlepas dari ide necrophilia yang sudah membuat film ini kontroversial, ide tersebut belum sebanding dengan  sebuah kontroversi lain. Bagaimana Jörg membuat film “tak layak tonton” menjadi sebuah kreatifitas sinting berkat kesungguhan  dan semangat selama 2 tahun, mengemasnya menjadi realitas yang tak pernah terbayangkan tentang sisi lain dari manusia. Endingnya terpahat dipikiran dan review ini membuat saya mual lagi.

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Turbo Kid (...
Review - Iblis (2016...
Review - Ouija: Orig...
Review - Under the S...