Review: A Prophet (Un Prophete)

written by Rangga Adithia on August 22, 2010 in Cinema of Europe and CinemaTherapy and Drama with 2 comments

If you eat. It’s thanks to me. If you dream, think, live. Its thanks to me. ~ Cesar

A Prophet (Un Prophete) mengawali kisahnya samar-samar sama seperti tindak-tanduk Malik El Djebena (Tahar Rahim) ketika “telanjur” masuk ke dunia kriminalitas mafia di penjara. Film ini membuka tirainya dengan kehadiran Malik yang sedikit babak belur dan tidak jelas kenapa dia bisa sampai dihukum 6 tahun, tuduhan menyatakan dia dinyatakan bersalah memukuli seorang polisi tapi Malik tidak mengakuinya dan sepertinya pasrah saja dijebloskan ke dalam penjara. Nasibnya kurang lebih sama dengan Lo Ka Yiu dalam film hongkong “Prison on Fire” yang sama-sama berlatar belakang penjara, Malik juga tidak punya teman ketika pertama kali hidup dibalik jeruji besi. Bahkan bisa dibilang dia sendirian di dunia ini, tidak punya keluarga yang mengunjunginya, tidak punya saudara yang bisa menjaminnya bebas. Di penjara, Malik seperti dilahirkan kembali tanpa orang tua, tidak punya siapa-siapa dan tidak diakui oleh kelompok manapun.

Walau dia orang Perancis keturunan Arab, dia sadar tidak bisa berbaur dengan kelompok Muslim-Arab karena Malik sendiri sepertinya tidak yakin dengan keyakinannya. Sampai pada akhirnya takdir menghampiri Malik lewat Cesar Luciani, seorang godfather bermata dingin yang memimpin mafia Corsica dan “menguasai” beberapa penjaga penjara. Cesar mengundang Malik ke dalam kelompoknya karena dengan wajah Arab dan keluguannya, Cesar berpikir bisa memanfaatkannya untuk kepentingan dirinya. Pada umumnya ketika seseorang masuk ke dalam suatu kelompok, dia akan diuji lebih dahulu, Malik pun harus menjalankan “pembaptisan” ala Corsica, membunuh atau dibunuh. Malik ditugasi untuk menghabisi seorang informan Arab bernama Reyeb, membunuh dengan silet tersembunyi adalah pelajaran pertama yang Malik dapatkan di penjara. Walau tidak serapih yang dia rencanakan, Malik akhirnya berhasil menyelesaikan debut karirnya di dunia kriminal dan mendapatkan imbalan proteksi dari Cesar selama 6 tahun hukumannya.

Setahun berlalu, Malik sekarang resmi menjadi “babu” di keluarga Corsica, menjalankan apa yang diperintahkan oleh Cesar sang majikannya, termasuk membuatkan kopi. Namun Malik bukanlah orang yang bodoh dan tidak bisa memanfaatkan situasi yang sebenarnya menguntungkannya ini. Tampak diam diluar, di dalam pikirannya yang misterius, pikiran Malik terus memainkan strategi-strateginya untuk bisa bertahan di penjara sekaligus juga mengecoh penonton dengan tindakannya yang tidak bisa ditebak. Penjara tidak hanya jadi batu loncatan karir dan membentuk Malik menjadi pribadi yang kuat, tetapi dibalik jeruji Malik dirubah dari bocah ingusan-lugu yang tidak tahu apa-apa menjadi sosok pria yang matang, tegas, dan spontanitas dalam pemikiran, tingkah laku, dan mengambil keputusan. Hebatnya Malik, dia tetap bisa terlihat rendah diri di lingkungan penjara, termasuk pintar menyembunyikan semuanya dari Cesar. Penjara adalah sarana edukasi gratis sekaligus eksklusif yang tidak bisa Malik dapatkan di luar, disini dia bisa belajar baca tulis (walau dia bisa berbahasa Arab dan Perancis) bersamaan dengan secara otodidak memantapkan dirinya sebagai penjahat sejati, menyerap diam-diam ilmu yang diberikan Cesar.

Film ini mengingatkan saya dengan “Carandiru”, sama halnya dengan film tahun 2003 asal Brazil tersebut, penjara menjadi seperti dunia dalam kotak sereal, semua kisah hidup dengan segala permasalahan dibungkus menjadi satu dalam tembok penuh coretan dosa manusia ini. Jacques Audiard juga sanggup dengan jujur menggambarkan situasi penjara di Perancis dengan apa adanya. Jika di “Carandiru” saya menjadi saksi begitu bebasnya penjara sekaligus betapa miripnya tempat tersebut dengan neraka melalui mata seorang dokter. A Prophet juga memperlihatkan kondisi penjara yang tidak bisa terbayangkan oleh saya sebelumnya, penghuni yang berkuasa bebas memilih selnya dan bisa mengatur siapa saja untuk tinggal di sel yang diinginkan. Kurungan jeruji besi sudah seperti kamar hotel murahan yang bisa seenaknya diisi televisi dan perangkat elektronik lainnya. Beda di Brazil, tentu berbeda pula di Perancis, disini sepertinya penjara lebih bersih dan tidak semerawut di penjara Sao Paolo tersebut. Saya pun baru tahu jika penjara Perancis punya aturan yang membolehkan napinya untuk “liburan” dalam waktu yang ditentukan dan dengan syarat-syarat tertentu. Seperti Malik yang bisa menghirup bebas udara luar dalam satu hari untuk menyelesaikan tugas dari Cesar dan juga membangun koneksinya sendiri.

A Prophet ternyata memang memiliki banyak kesamaan dengan “Carandiru” dalam segi realitas yang ditampilkan dan kedua film crime-drama ini juga sama-sama punya durasi panjang, tapi menariknya kedua sutradara sanggup mengisi menit ke menitnya dengan adegan-adegan yang tidak membosankan. Hasilnya dengan durasi 155 menit, saya justru merasakan sebaliknya, film ini terlalu sebentar hanya karena saya terlalu menikmati apa yang disajikan film yang dinominasikan untuk film berbahasa asing terbaik pada ajang Oscar tahun 2010 ini. Audiard dengan matang dan brilian sanggup mengesekusi serta memvisualisasikan setiap baris naskah yang dibuatnya bersama Thomas Bidegain, Abdel Raouf Dafri, dan Nicolas Peufaillit menjadi film “The Godfather” versinya sendiri. Saya bukan ingin menjajarkan film ini dengan film mafia legendaris yang sudah bertahan 30 tahun lebih tersebut, tapi menonton film ini memang layaknya kembali mencium tangan Corleone namun dalam kemasan modern, perasaan yang sama ketika menyaksikkan Vito Corleone merangkak naik dari nol membangun kekaisarannya tidak lagi di kota New York tapi dimulai dari sempitnya penjara di Perancis.

Malik diperankan dengan sangat cemerlang oleh Tahar Rahim, aktor baru yang ternyata bisa mengimbangi akting aktor senior seperti Niels Arestrup, sebagai Cesar yang arogan. Keduanya bisa menciptakan chemistry yang luar biasa, walau diperlihatkan tidak seperti ayah dan anak atau sahabat layaknya Stephen Dorff dan Val Kilmer di “Felon” atau Tim Robbins dan Morgan Freeman di “The Shawshank Redemption”. Tapi hubungan mutualisme antara Malik dan Cesar yang saling bergantian mengisi slot adegan sepanjang bergulirnya film ini tak pelak menjadi sajian menarik. Jacques Audiard sama sekali tidak menyiakan-nyiakan setiap adegannya, bertempo cepat dan sesekali melambat dia sanggup menghadirkan plot yang selalu menarik untuk ditonton, membiarkan saya untuk mencerna dan menebak-nebak cerita dan aksi Malik selanjutnya. A Prophet bukanlah film gangster penuh action namun drama realistis yang sederhana tentang seorang pria muda bernama Malik yang dibangun oleh Audiard menjadi karakter kompleks ambisius. Film ini bukan hanya soal akhir, tapi jalan penuh intrik, menuju kesana yang dikemas apik oleh Audiard, dimaksimalkan oleh akting Rahim dan Arestrup, serta di sempurnakan oleh keseluruhan kisah yang memaksa saya untuk terus membuka mata.

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - The Green I...
Review - Warkop DKI ...
Review - The Girl wi...
Review - Before I Wa...