Review: Sleepaway Camp

written by Rangga Adithia on July 1, 2010 in CinemaTherapy and Hollywood and Horror with 6 comments

How come Angela gets to talk to the boys all day, and we have to play volleyball? ~ Judy

Ooooh (mendesah) 80-an memang tepat jika dikatakan sebuah puncak orgasme dari era film-film slasher. Setelah kejayaan John Carpenter dengan Michael Myers dan Sean S. Cunningham lewat sabetan machete Jason Voorhees, genre psikopat membawa pisau lalu memburu gadis-gadis dengan celana ketat mulai berjamur dan menguasai setiap bioskop pada era tersebut. Judul-judul ajaib nan garang pun mulai bermunculan, Happy Birthday to Me, My Bloody Valentine, Chritmas Evil, Prom Night, Mother’s Day, mereka saling berlomba untuk melihat siapa yang paling sukses membuat penonton “ngompol”. Untuk sama-sama merayakan “The Golden Age of Slasher”, Robert Hiltzik pun segera mengisi buku tamu lewat film yang tak kalah mengerikan dan menyebalkan secara bersamaan. Membawa tema perkemahan musim panas, “Sleepaway Camp” siap untuk berpesta.

Liburan musim panas, keceriaan anak-anak, perkemahan sial, celana-sangat-pendek-ketat yang dipakai para gadis belia…tunggu dulu! dan juga anak lelaki ini, merupakan bumbu penyedap yang “menggairahkan”, sebelum kelak kita akan ditawari berbagai teror yang cukup menggelikan dari seseorang dibalik bayang-bayang malam. Camp Arawak, sudah seharusnya menjadi tempat yang seru untuk bersenang-senang, mencari teman, berkelahi, berburu teman kencan, memegang payudara untuk pertama kalinya, menyesal karena kehilangan keperawanan, dan dikalungi gelar “orang bodoh” seumur hidup. Sayangnya, ketika semua orang tampak tertawa berseri-seri selagi melakukan kebodohannya masing-masing. Angela (Felissa Rose) lebih senang duduk sendirian, diam seharian, dan tentu saja jadi bahan olok-olok teman-temannya. Wajar saja ketika ingatan masa lalu yang getir kehilangan ayah dan saudara laki-lakinya, sampai sekarang masih terpaku dalam pikiran dan mengoyak mental. Beruntung Angela yang kini tinggal bersama bibinya masih punya sepupunya yang setia menjaganya dari kenakalan anak-anak lain.

Selanjutnya bisa ditebak, satu – persatu penghuni perkemahan ini mulai menemui ajalnya dengan cara yang tidak lazim alias mati mengenaskan. Di lain pihak, Angela masih saja menjadi bulan-bulanan anak-anak yang tidak pernah melihat cermin, yah merasa percaya diri dengan menyebut diri sendiri lebih baik lalu dengan kejam menancapkan luka yang akan diingat seumur hidup. Melihat kenyataan yang tewas lebih dahulu adalah pecundang yang pernah menyakiti Angela –koki pedofil yang gagal mencabuli dan anak cowok yang tidak memiliki “burung” – saya langsung saja menebak-nebak dengan bodoh, tersangka utama pembunuhan kejam ini memang Angela, apakah iya gadis lugu, pendiam, dengan tatapan setan mampu melakukan teror kepada teman-temannya? hey! apakah saya tadi menyebut “tatapan setan”?

“Sleepaway Camp” jelas sangat diluar ekspektasi saya yang berharap bisa menikmati sajian dengan level kesadisan yang sanggup merontokan helai demi helai bulu di ketiak. Di luar dugaan mayoritas durasi film dikuasai oleh adegan-adegan sepi simbahan darah, jarang terdengar teriakan histeris, dan akting buruk setiap pemainnya. Mungkin hanya Angela yang bisa dikatakan lebih baik, itu pun karena dia terus saja bisa berpura-pura untuk terus diam dengan tatapan yang lebih jahat ketimbang Freddy Krueger bodoh di versi daur ulang A Nightmare on Elm Street. Saya bukannya ngeri ketika melihat sang koki terguyur panci besar yang berisi masakan mendidih, koki tewas di dapurnya sendiri memang menyedihkan, tetapi koki yang satu ini justru mati dengan menggelikan. Sang pembunuh memang punya segala cara untuk membuat perut ini terkocok dengan macam kreatifitasnya dalam membunuh. Termasuk kemunculannya yang mudah tertebak dan sama sekali tidak mengejutkan.

Saya tidak akan menyalahkan siapa-siapa, tidak juga dengan sutradara yang justru gemar mengotori mulut anak-anak ini dengan segala macam sumpah serapah. Walau saya terus menerus dikecewakan dengan adegan sadis yang “tumpul”, toh pada akhirnya keburukan film ini dalam menyajikan kemasan horornya justru menjadi kelebihannya, aneh memang dan saya terhibur dengannya. Ditambah dengan guncangan psikologis yang disebabkan karakter-karakter yang memang ditempatkan menjadi orang paling menyebalkan di bumi. Film ini memang lengkap menghadirkan rentetan kejadian “bulu ayam”, tusukan demi tusukan horornya makin menjadi ketika tiba saatnya intensitas ketegangan dinaikkan lebih tinggi, lewat makin bertambahnya kematian. Tapi tetap saja tidak menolong film ini menjadi lebih baik, seperti halnya Angela, film ini seperti anak yang paling pendiam, yah pendiam dalam urusannya membuat kita teriak ketakutan.

Beruntung saya tidak menyetop film ini dari awal karena kenikmatan yang sesungguhnya ternyata berada di akhir film ini. Layaknya posisi “bercinta” yang tidak bervariasi, lalu membuat si adik loyo tidak bersemangat, yah boring tetapi juga tanggung setengah mati karena *sensor yang mau keluar. Namun akhirnya malah menjadi puncak orgasme paling nikmat dalam sejarah hidup anda, seperti itulah saya menggambarkan film ini, walau saya malu mengatakan kalau saya masih perawan ting-ting (aw..aw). Asyik terlalu menebak-nebak sepanjang film menjadi kelemahan saya dan Hiltzik pastinya sadar akan hal itu, banyak penonton yang akan tersasar dengan cara dia manyajikan filmnya. Saya justru jadi merasa bodoh dengan terus mengolok-ngolok film ini, tapi pada akhirnya saya-lah yang dipermalukan oleh ending paling membuat-mulut-saya-menganga-lebar-sehingga-saya-bisa-menelan-mayat-busuk-yang-dari-mulut-nya-keluar-ular. Hiltzik yang awalnya terlihat sebagai anak dungu yang pantas dilempari balon air, sekarang malah terlihat jadi orang paling jenius di sekolahnya. 80 menit dijejalkan masakan busuk dari sang koki, dibayar dengan sajian ending klasik yang tidak akan pernah dilupakan. Sinting!


Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Deathgasm (...
Review - Juara (2016...
Review - Dukun Linta...
Review - The Girl wi...