Review: Pocong Keliling (Poling)

written by Rangga Adithia on July 11, 2010 in CinemaTherapy and Film Indonesia with 13 comments

Kamu pake baju pocong kek, aku tetep nafsu sama kamu ~ Pak Jamal (Batman)

Jika dunia hantu punya lembaga hak asasi hantu, mungkin mereka akan menuntut balik kepada para filmmaker kita, bagaimana tidak! contohnya pocong, sudah berapa kali icon hantu khas Indonesia ini “dieksploitasi” terus menerus dalam sinema horor lokal. Seperti kehabisan ide horor yang orisinil, lagi-lagi kita harus melihat hantu paling populer ini muncul lagi di layar bioskop lewat “Pocong Keliling” disingkat menjadi Poling. Saya tidak akan keberatan, begitu pula si pocong, jika mereka diperlakukan “manusiawi”. Tapi kenyataannya lebih banyak film hantu pocong yang justru menghancurkan nama horor mereka, tentu saja dengan filmnya sendiri yang mati dalam hal kualitas. Alhasil jika ada film yang memunculkan pocong sebagai hantunya, penonton akan lebih dahulu pesimis dan berkomentar “pocong lagi…pocong lagi…”. Saya termasuk salah-satu penonton itu, penggemar horor yang sudah berada di titik jenuh melihat kualitas, kemasan, dan isi film horor yang tidak lagi mengandalkan kreatifitas intelektual dalam menakuti penontonnya.

Horor sepertinya menjadi genre yang disepelekan di negeri ini, dibuat asal jadi! yang penting ada hantu bermuka bumbu otak-otak basi (gw makan ini pulang nonton film ini) ditempel di setiap adegan, lalu setiap menit sekali muncul dari balik pantat panci. Supaya lebih mengundang penonton ramai ke bioskop, horor pun terkadang dicemari oleh hadirnya komedi-komedi mesum murahan. Tapi hasilnya hanya menambah nilai “merah” pada rapor film-film model seperti ini. Penonton untuk sekian kalinya akan menjadi korban jebakan para produser berotak mesum dan berhati lebih “horor” dari para pocong. Formula horor yang diadopsi “Poling” pun tidak jauh-jauh dari plot kadaluarsa dengan tambahan komedi-mesum murahan tersebut. Memakai banyak karakter yang satupun tak ada yang bermain serius, Poling hanya menjadi ajang lomba bagi para pemainnya untuk terlihat menggelikan di depan kamera. Plotnya tak kenal ampun dalam “menyiksa” saya dengan terus menerus menyajikan hal-hal bodoh yang diulang 400 kali. Konfliknya hadir sebatas numpang lewat atau muncul secara tiba-tiba dan dilupakan begitu saja.

“Pocong Keliling” membuka kisahnya dengan petualangan ala “Indiana Jones” yang dilakoni oleh dua maling kuburan, Bombay (Yadi Sembako) dan Asbun (Daus Separo). Keduanya gagal mencuri perhiasan dari pemakaman Cina karena malah diganggu oleh hantu wanita. Mereka juga gagal “mencuri” perhatian saya dengan umpan humor yang hanya berisik di mulut tapi tidak punya isi dan tidak lucu. Lelucon-lelucon basi yang saya sering lihat di televisi itu manjur membuat saya manyun sampai akhir film. Bagaimana dengan si hantu wanita penghuni makam Cina? dia juga sepertinya harus melapor kepada LCH (Lembaga Curhat Hantu), karena sudah ditipu oleh film ini. Ditawari main sebagai hantu utama dan berharap bisa sepamor teman arisannya kuntilanak, ternyata dia hanya muncul sekilas padahal sebelumnya si hantu yakin kalau dia syuting selama 4 bulan. Mari lupakan nasib malang si hantu wanita, karena BomBun (Bombay dan Asbun) berencana untuk memanfaatkan isu pocong keliling di sebuah komplek perumahan. Mereka akan menyamar sebagai pocong, menakuti para warga dan dengan mudah bisa menggasak barang-barang berharga di rumah mereka.

Di lain pihak, ada Monique (Donita) yang punya impian bisa menjadi reporter handal. Satu-satunya cara menuju kesana, pertama dia harus mendapatkan berita kriminal, bukan! politik, juga bukan…! eng ing eng sebuah berita mistis tentang pocong keliling. Bersama dengan kameramennya (diperankan oleh Adipati yang pernah bermain cemerlang dalam 18 plus Nayato) Monique pun mengejar berita ini sampai ke sebuah kompleks yang saya sendiri lupa namanya. Teror pocong yang sering mendatangi warga beberapa waktu belakangan ini membuat kompleks ini menjadi sepi, karena penghuninya sudah banyak yang pindah dan tidak ada yang mau membeli rumah disini. Singkat cerita, maaf karena saya harus memotong 533 jam durasinya, isu pocong tersebut bukan bohong belaka. Tapi saya bertanya dalam hati kenapa si pocong memilih kompleks ini yah. Oh ternyata paman pocong ini selain doyan keliling (nga capek yah lompat-lompat kesana-kemari), dia juga mupeng (sepertinya diracuni hantu-hantu KKD).

Kompleks ini memang dihuni oleh para wanita socialita yang hobinya selingkuh, pamer kekayaan, kebodohan dan pamer dada. Si pocong mesum pun dengan semangat datang ke pemilik rumah yang baru saja menikah, tentu saja niat untuk mengintip malam pertama. Bodohnya si pocong tidak sengaja tersandung dan malah terpentok pintu, mubajir sudah dipermak seseram mungkin dengan wajah layaknya limbah tahu, si pocong pun langsung menampakkan seram mode on. Malang memang nasib si pocong tidak jadi merekam aksi panas yang akan dijualnya dalam bentuk vcd ke temen-temannya di kampung hantu, mau bagaimana lagi kedua pasangan tidak cocok lahir dan batin ini justru pingsan setelah membuka pintu dan melihat “po..po….po…pocoooooooong!!!!”.

Nasib beruntung malah didapat BomBun, menyamar sebagai pocong tanpa meminta ijin dan membayar royalti, mereka dengan mulus bisa mencuri barang-barang berharga di rumah warga yang tengah dilanda paranoid akan Poling. Padahal jika dipikir-pikir pakai logika (hey! buang-buang waktu saja) si Asbun tidak pakai kostum pocong saja sudah seram, ketika di-pocongi dia malah terlihat lucu tetapi kenapa warga justru lebih takut kepada dia (dengan dandanan seadanya) ketimbang pocong be…be..beneran yang sudah susah payah minta ampas tahu sama pabrik tahu. Biarkan saya bernafas sebentar sebelum melanjutkan menulis, okay. Oh iya saya belum menceritakan nasib Monique, misi dia untuk mencari Poling ternyata belum berhasil. Tapi jangan cepat kecewa, karena reporter kita yang satu ini bertemu dengan sosok yang lebih heboh daripada Poling. (Backsound) jreng…. jreng…jreng!! toeeeeeet mereka bertemu dengan “Beling” alias Bencong Keliling yang tidak jauh menyeramkan, meneror setiap rumah warga dengan suara ala Sindel dari game Mortal Kombat. Menyiksa setiap korbannya dengan bas betot yang menyimpan misteri.

Si Bencong keliling memang hanya jadi cameo disini, sempat diwawancara soal adanya pocong. Tetapi karena tak mau tersaingi, dia memarahi balik Monique dengan berkata “nga ada poling…yang ada beling…inget B-E-L-I-N-G…capcus” (pingsan). Saya masih berharap kelak akan ada spinoff yang menceritakan kebrutalan beling dalam menyiksa korbannya. Sedikit berkhayal, filmnya kurang lebih ripoff dari “Once Upon a Time in Mexico”, mengambil karakter mariachi diganti dengan bencong ber-bas betot. Tentu saja dibalik alat musik si bencong juga sudah lengkap tersedia pisau, gunting, bom molotov, pencukur jenggot, make-up warna-warni, konde, wig, sepatu hak setinggi 7 meter, long-dress, nasi bungkus, AK-47, basoka, dan dildo beracun. Tema filmnya juga dipilih yang sedikit gila, torture-galactical-porn-comedy, lengkap ada sajian sadis ala film slasher dan ditambah balutan kisah komedi fiksi ilmiah, terakhir menambalnya dengan mesum.

Mari kembali ke kisah semu berantakan dan tak berarah di Poling, atau anda semua sudah cukup dengan kebodohan film ini dan meminta saya lanjut saja dengan kisah heroin si bencong keliling. Partner-in-crime-nya Nayato, Viva Westi seperti tak habis akal untuk membuat film ini semakin hancur, dengan cerita yang bertumpuk dan dipaksakan untuk saling berhubungan, film ini terus saja menebar pesona ketidakbecusannya dalam komedi dan kemunafikan mesum-nya. Film model seperti ini memang sudah punya formula baku yang jika tidak dipakai dipercaya bisa membawa sial kepada filmnya, mitos warisan dari produser cacat dan impoten yang mengatakan “jika tidak mesum maka filmnya tidak bisa laku…tapi jangan full mesum, setengah-setengah saja, setengah telanjang gitu”. Padahal film berbau mesum saja juga bisa dibuat bagus asal sekali lagi pakai otak membuatnya, tapi kenyataannya tidak terbukti dengan kebanyakan horor lokal yang tayang hari ini.

Nasib sama menimpa “Pocong Keliling”, film ini tidak berusaha menarik pencinta film Indonesia dengan cerita bermodal kreatifitas positip, sebaliknya untuk sekian kalinya berharap untung besar dari kemasan horor yang mengobral kemolekan tubuh pemain yang memang dipilih yang seksi dan berdada montok. Ketika tonjolan-tonjolan birahi di jadikan komoditas peraih untung cepat, cerita sepertinya hanya akan menjadi nomor ke seribu lima belas. Poling pun akhirnya hanya akan menambah panjang daftar film-film yang akan saya jemur bersampingan dengan deretan kancut pocong yang belum dicuci. Komedi yang sama sekali tidak menyentuh urat syaraf tertawa saya, horor daur ulang yang lemah dalam urusannya menakuti, adegan mesumnya tidak usah saya ceritakan lagi. Oh iya cerita diatas hanya fiktif belaka, jika ada kesamaan tokoh dan bla-bla-bla, semua itu murni kesengajaan saya untuk membuat diri saya sendiri terhibur. Apakah salah ketika saya perlu hiburan sebagai penetralisir apa yang sudah dijejalkan oleh film ini, obat penurun kecerdasan? semoga ada yang mau mencuri ide Beling saya.


Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Surat Dari ...
Review - Juara (2016...
Review - Ada Apa Den...
Review - Indonesia K...