Review: The Twilight Saga: Eclipse

written by Rangga Adithia on July 3, 2010 in CinemaTherapy and Drama and Fantasy and Hollywood with 32 comments

She’s still human. The Volturi don’t give second chances ~ Jane

Apa yang saya harapkan? saya sudah lupa dengan film pertama “Twilight” (2008), saya (menyesal) tidak menonton film kedua “New Moon” (2009), tolong jangan paksa saya menonton film itu, lalu saya bukan penyembah novelnya dan tidak juga menggilai tokoh vampir pucat berusia ratusan tahun bernama Edward. Jadi apa yang kira-kira bisa ditawarkan oleh film ketiga, “Eclipse”, untuk penonton awam seperti saya yang benar-benar buta dengan dunia Stephenie Meyer ini? pertama saya ditawarkan adegan laga yang diklaim lebih banyak dari pendahulunya. Kedua, orang yang duduk di bangku sutradara adalah David Slade. Jika tidak ada yang mengenal namanya, dia adalah orang yang patut “disalahkan” karena sudah membuat vampir menjadi punya taringnya lagi. “30 days of Night” punya segala alasan bagi saya untuk mencintai film ini, vampir beringas, adegan tegang, dan kemasan yang penuh darah. Okay! untuk saat ini cukup dua alasan tersebut yang menjadi modal saya untuk menonton film ini dan berharap kisah cinta segitiga Bella dengan vampir dan manusia serigala bisa menghibur…maaf saya hanya bercanda.

Setelah dua film berlalu, ternyata persaingan antara Edward dan Jacob belum selesai. Bella juga masih saja plinplan padahal sudah diberi kesempatan di dua film sebelumnya. Hey yang lebih mengagetkan saya adalah, Bella masih perawan (what?!) apakah vampir pucat itu tidak punya “taring”? bukannya durasi film selalu dihabiskan oleh adegan mereka dua-duaan di kamar (dan entah dimana lagi), berciuman…oh tunggu dulu dan juga beratus-ratus jam obrolan yang saya tidak mengerti tentang apa. Jadi film ini akan fokus pada lagi-lagi obrolan memakan waktu, tidak ada ujungnya, dan hasil yang sumpah lagi-lagi menggantung, tentang Bella yang ingin menjadi vampir setelah dia lulus SMU. Yah tentu saja Edward gugup harus menjawab apa, karena dia takut pada akhirnya Bella tahu jika gigi-nya sudah digadaikan untuk membeli cincin perkawinan. Yah..yah kalian tidak salah baca, mereka memutuskan untuk menikah dan itu membuat Bella menjadi bergairah dan ingin melepas keperawanannya. Tapi tunggu dulu, Edward dengan berbagai macam alasan menolak untuk melakukan hubungan terlarang ini, katanya sih karena dia punya satu peraturan, tidak akan melakukan itu sebelum menikah (wow!).

Edward, selamat anda sudah membuat hal paling romantis di dunia ini dan penonton wanita pasti sudah teriak histeris, membawa spanduk bertuliskan “nikahi saya…” dan disebelah ada ibu-ibu tukang gado-gado yang juga membawa spanduk…oh ternyata kertas bertuliskan daftar hutang makan Edward di warungnya (memalukan). Saat Bella dibuat “kentang” dengan Edward, dia berpaling kepada si manusia serigala, Jacob. Saya harus bersabar ketika untuk sekian kali film ini mencoba membuat saya tertidur karena 470 jam dialog antara Bella dan Jacob, tidak usah bertanya apa isinya? saya tidak ingat!!. Mari kita tinggalkan obrolan panjang dan tiada akhir ini, di luar sana Victoria sedang merencanakan balas dendam (kekasihnya James yang dibunuh Edward), dia membentuk semacam tentara vampir untuk membunuh (jangan kaget) hanya untuk membunuh Bella. Sudah bisa ditebak, semua orang di film ini sibuk melindungi putri yang satu ini. Terima kasih Tuhan akhirnya akan ada pertempuran maha dasyat…

Menunggu dan menunggu, ternyata pertempuran yang saya tunggu-tunggu tidak kunjung tiba. Film pun sekali lagi masih punya cadangan obrolan omong kosong sekitar 500 jam. Layaknya akan diserang pasukan besar vampir, keluarga Cullen kebingungan harus apa karena jumlah mereka sedikit. Beruntung Bella punya Jacob yang bersedia membantu untuk melindungi dia dari serbuan vampir-vampir boneka Victoria. Vampir pun sekarang bersekutu dengan para anggota klub celana pendek ketat yang punya aturan sakral tidak membolehkan anggotanya untuk memakai baju. Terima kasih David Slade karena sama sekali tidak menyelamatkan film ini, adegan laga yang dinanti ternyata hanya sebatas pertempuran konyol anak kecil dan jelas hanya dipaksakan untuk tampil agar film ini punya “taring”, tapi nyatanya taring itu jelas sangat-sangat tumpul.

Seperti apa yang saya katakan di awal, apa yang saya harapkan di film ini? jika semua elemen vampir dan adegan laga itu ditelanjangi, apa yang disajikan “Eclipse” hanyalah tak lebih dari kisah cinta segitiga yang dipanjang-panjangkan dan penuh dramatisasi tidak perlu. Dialognya yang aneh seperti itu, penuh hal-hal berbau romantisme dangkal, yah memang disesuaikan dengan cerita film ini yang pada kenyataannya berada di dunia anak-anak sekolah bukan percintaan ala romeo dan juliet. Apa lagi yang bisa diharapkan ketika film ini juga sudah disegmentasikan untuk pasar anak-anak muda yang haus akan film yang berisi percakapan omong kosong, ringan, dan tidak perlu mereka harus berpikir lagi, ditambah dengan karakter-karakter yang dari awal sampai film ketiga ini tidak bisa lagi dikembangkan, karena sudah dari sananya dibuat ala-kadarnya.

Apa lagi yang bisa saya harapkan ketika film ini hanya mementingkan ketiga aktor utamanya, menjual sisi fisik mereka tanpa menggali lebih dalam aktingnya, saya percaya Kristen Stewart, Robert Pattinson, dan bahkan Taylor Lautner bisa berlakon lebih dari itu. Kombinasi yang sudah sempurna untuk sebuah drama yang hanya menawarkan efek semu tentang cinta. Jadi apa lagi yang bisa saya harapkan dari film ini? tidak ada karena dua modal awal saya menonton film ini sudah dihancurkan begitu saja, parahnya sejak menit pertama film ini. Adegan laga yang saya harapkan bisa menyelamatkan film ini hanya muncul sebagai “pemanis” yang pahit, pasukan vampir yang saya kira berjumlah ratusan ternyata hanya  satu angkot penuh.  Oh iya adegan kalian muncul dari air, maaf Romero sudah melakukannya  5 tahun lalu dengan “Land of the Dead” (para zombie itu melakukannya lebih baik). “Eclipse” terima kasih sudah membuat saya mengantri untuk sebuah film yang istimewa dan tak terlupakan, yah tentu saja karena ketumpulan karakternya, kekonyolan ceritanya, dan seluruh kemasan yang buruk. Sudahlah, saya mau mendaftar menjadi anggota klub Jacob saja!

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

15 Film Indonesia Te...
Review - A Copy of M...
Review - Talak 3
Review - Ouija: Orig...