Review: Dogtooth

written by Rangga Adithia on July 6, 2010 in Cinema of Europe and CinemaTherapy and Drama with 5 comments

You know what dad do if he finds out that I lick your keyboard?

Dogtooth bukanlah sebuah film tentang bagaimana cara mendidik anak dengan cara yang tepat. Memproteksi berlebihan, bisa dibilang aneh dan di luar akal orang tua normal, agar sang anak bebas dari pengaruh dunia luar, itulah apa yang diperlihatkan film ini. Tapi visi Giorgos Lanthimos tampaknya tidak sekedar mempertontonkan ketidaksehatan hubungan antara orang tua dan anak-anak mereka. Disfungsi keluarga dengan kecacatannya dalam berkomunikasi dan menyikapi arti berkeluarga, mungkin saja sebuah kritik Lanthimos yang ditujukan untuk korupnya sebuah kepemimpinan di sebuah pemerintahan. Kursi empuk para pemimpin yang memang dihuni oleh orang-orang yang pintar berbohong dan ketika rakyat diproteksi secara berlebihan dengan aturan-aturan omong kosong, rakyat dengan sendirinya akan menemukan cara untuk bebas.

Lanthimos tanpa basa-basi memperkenalkan kita dengan keluarga tanpa nama ini, tentu saja kesemua anggota keluarganya pun diberi label tanpa nama. Rutinitas setiap hari anak-anak di keluarga ini – 2 orang anak perempuan dan 1 anak laki-laki – mungkin saja terlihat normal pada awalnya, tapi tidak ketika suara dari sebuah tape recorder mulai terdengar. Anak-anak berusia 20-an ini ternyata sedang mendengarkan pelajaran harian yang diberikan oleh sang Ibu (Michele Valley), berkaitan dengan penggunaan kata-kata dalam kehidupan sehari-hari, sebuah pelajaran “twisted-vocabulary”. Yah kata-kata normal yang sering kita dengar, tapi sang ibu mengartikannya dengan tidak biasa, semua diputarbalikkan. Laut diartikan sebagai kursi kulit, shotgun disamakan dengan burung, kelamin wanita diartikan sebagai lampu dan nanti ketika anak laki-laki bertanya apa itu zombie, sang ibu menjawab zombie itu adalah bunga.

Lain ibu lain juga sang ayah (Christos Stergioglou), tugas si ayah lebih gila lagi, dialah orang yang bertanggung jawab mengedit versi asli dunia lalu mengubahnya jadi sebuah cerita fiksi yang menggelikan (bagi kita). Tidak bagi anak-anak yang secara fisik dewasa namun secara mental masih polos, sepolos anak berumur 5 tahun. Anak-anak ini percaya saja ketika sang ayah mengatakan diluar itu sangat berbahaya (sampai harus menutupi sekeliling rumah dengan pagar kayu yang tinggi). Anak-anak ini juga dilarang menginjak kaki keluar rumah, karena sang ayah memberitahu ada binatang bernama kucing yang sangat berbahaya dan suka memakan anak laki-laki. Hanya si ayah yang bisa seenaknya keluar masuk rumah untuk pergi kerja di sebuah pabrik. Anak-anak pun kembali diisi oleh impian semu, mereka boleh keluar jika gigi “dogtooth” (taring) mereka sudah tanggal dan tumbuh kembali. Apakah sang ayah mampu menjaga lingkungan di keluarga ini tetap “steril” dari pengaruh dunia luar?

Lanthimos tidak menawarkan narasi atau perkenalan dari salah satu karakter di film ini untuk mengundang kita masuk ke rumah keluarga tanpa nama ini. Sebaliknya, sepertinya film ini bisa dengan sendirinya “memaksa” saya untuk menjadi tamu asing disini. Tanpa basa-basi film ini juga langsung menjejalkan saya dengan adegan-adegan aneh, lugu, dan lucu namun tidak lucu. Memprovokasi saya untuk kasihan kepada anak-anak yang tidak punya nama ini (serius, mereka tidak diberi nama oleh orang tuanya). Lanthimos pun dengan cerdik berhasil mengontrol emosi dengan beberapa adegan kekerasan yang bagi saya cukup meyakinkan dan disturbing (walau masih terlihat bersahabat) secara bersamaan “terganggu” dengan beberapa adegan seks-nya. Aggeliki Papoulia (anak perempuan tertua), Mary Tsoni (anak perempuan paling muda), dan Hristos Passalis (anak laki-laki) bener-benar telah memberikan porsi akting yang sangat meyakinkan, membuat semua adegan yang melibatkan mereka jadi terlihat “nyata”.

Sang ayah yang diperankan dengan sangat baik oleh Christos Stergioglou telah sukses menggambarkan sosok monster dalam keluarga, namun juga secara anehnya menjadi idola bagi anak-anaknya. Walau tidak jarang berlalu kasar pada anak-anaknya, mereka masih tetap turut apa perintah sang ayah, seperti anjing kepada majikannya. Lanthimos tentunya tidak lupa memberi dosis tambahan pada ceritanya, tidak melulu menyajikan satu keanehan demi keanehan, temasuk permainan kedua anak perempuan yang dengan sengaja membuat diri mereka tertidur dengan anestesia lalu bertaruh siapa yang lebih dahulu terbangun. Lewat sosok Christina yang merupakan satu-satunya orang luar yang ada di rumah ini, film pun mulai berkembang dari aneh menjadi lebih disturbing. Christina yang awalnya difungsikan oleh sang ayah untuk pemuas nafsu anak laki-lakinya, namun lambat laut apa yang dibawa masuk sang ayah ke dunia “steril” ini mulai berbalik menggerogoti keharmonisan keluarga.

Disilah Lanthimos mulai lagi mengumpani otak saya yang sudah penuh teka-teki dan pikiran janggal, dengan berbagai adegan di luar akal. Tetapi secara bersamaan dosis-dosis tambahan yang diinjeksikan oleh sutradara asal Yunani ini justru menjadi zat penenang bagi saya untuk tidak panik dengan cerita yang makin menggila, namun justru asyik merangkai puzzle-puzzle psikologis yang ditawarkan olehnya dari awal. Lanthimos juga tidak lupa menambah pernak-pernik komedi, bukan…bukan yang akan mengocok perut anda, tetapi justru menertawakan penontonnya sendiri dengan adegan pemancing moral. Adegan Ibu dan ketiga anaknya menggonggong memang terlihat lucu, tapi saya sama sekali tidak bisa membuat mulut saya tersenyum sedikitpun. Perasaaan ini terus saja diaduk-aduk oleh dinginnya tangan Lanthimos dalam mengarahkan setiap adegannya sampai akhir. Sebuah ide gila, naskah orisinil, dengan esekusi yang sakit dari Lanthimos, pada akhirnya akan membawa kita pada persepsi ganda tentang apa sebenarnya makna film ini, tapi tetap setuju pada satu hal, sebuah proteksi yang berlebihan itu memang tidak sehat.

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - The Green I...
Review - Aach... Aku...
Review - Iblis (2016...
Review - The Invitat...