Review: Cape Fear

written by Rangga Adithia on July 9, 2010 in CinemaTherapy and Drama and Hollywood and Thriller with 5 comments

Granddaddy used to handle snakes in church, Granny drank strychnine. I guess you could say I had a leg up, genetically speaking. ~ Max Cady

Apa yang ada dibenak kita tentang gambaran sosok monster yang menakutkan? jika saya akan menyebut monster itu dengan makhluk dengan deretan gigi yang tajam layaknya gergaji. Atau bertubuh raksasa dengan kaki yang meremukkan apa saja yang dilewatinya. Bagaimana jika penggambaran monster yang mengerikan itu datang dari manusia seperti  Max Cady (Robert De Niro) yang tidak bertubuh raksasa dan tanpa gigi gergaji. Max secara fisik justru terlihat seperti pria “charming” pada umumnya, dengan tambahan tato disana-sini sebagai aksesoris tambahan, saya malah mengira dia hanya pria playboy yang kerjanya mengoda wanita di bar. Tapi Max Cady mungkin saja terlihat ramah dan orang yang menyenangkan dari luar. Namun cobalah tengok ke dalam jiwanya, disana ternyata sudah menunggu monster yang sepertinya tidak sabar untuk melepaskan balas dendam. Terkadang manusia bisa jadi apa saja, termasuk monster yang lebih mengerikan daripada makhluk buruk rupa yang sering saya lihat di televisi dan bisa melakukan hal yang lebih mengerikan dari sebuah mimpi buruk.

Keluarga Bowden hidup di rumah yang besar dan berkecukupan, namun keharmonisan keluarga in sedang diuji. Sam Bowden (Nick Nolte) dan Leigh Bowden (Jessica Lange) sering bertengkar dan anak perempuan mereka Danielle Bowden (Juliette Lewis) benci sekali ketika kedua orang tuanya melakukan itu. Danielle hanya bisa mengunci dirinya di kamar dan mendengarkan musik seharian. Keluarga ini memang sedang dalam masalah, namun ujian sebenarnya akan segera tiba dalam bentuk seorang Max Cady. Sam tentu tidak berharap bisa bertemu lagi dengan Max, orang yang dahulu pernah dia bela di pengadilan. Max baru saja bebas dari penjara, setelah dihukum selama 14 tahun karena didakwa bersalah atas sebuah kasus pemerkosaaan. Kini Max kembali ke dalam kehidupan Sam yang harmonis, meminta “sedikit” pertanggung jawaban mantan pengacaranya tersebut. Max menyalahkan Sam, karena dia telah gagal membelanya di pengadilan dulu. Sam awalnya menganggap Max hanya ingin mengganggunya dengan gertakan dan ancaman omong kosong, lalu pada akhirnya meminta sejumlah uang.

Sam ternyata salah besar, Max tidak menginginkan uangnya. Setelah Sam beberapa kali bertemu dengan Max (tentu saja karena Max terus membuntutinya), Sam akhirnya sadar jika Max memang sedang mengincar dirinya dan kemungkinan mengancam kehidupan Sam serta keluarganya. Max pun mulai “menampakkan diri”, menjalankan rencana jahat untuk membuat Sam dan keluarga paranoid dan terganggu. Max benar-benar membuat keluarga ini merasa takut dengan keberadaannya dan perlahan tapi pasti membuat mereka sengsara. Muncul secara tiba-tiba di malam hari, menganiaya rekan wanita Sam, sampai membunuh anjing Sam, merupakan sebuah permulaan bagaimana Max melampiaskan apa yang selama ini dia rasakan di penjara. Mimpi buruk sebenarnya baru akan dimulai, lalu apa yang akan dilakukan Sam ketika Max telah bertransformasi total menjadi sosok monster yang paling ditakutinya?

“Cape Fear” sesuai dengan judul film ini, seperti mengurung saya dalam gelapnya gua dan menyelimuti saya dengan rasa takut yang kronis. Tidak bisa kemana-mana dan tidak bisa keluar dan hanya bisa pasrah dibawa terombang-ambing oleh “amukan” Max kepada keluarga Sam yang malang. Pembuka film ini pun dengan sederhana mampu membentuk mood dan atmosfir menegangkan dengan dosis yang pas. Visualisasi dan musik di awal film mujarab menggiring saya perlahan ke dalam dunia Martin Scorsese. Anehnya saya merasa akan menonton film berisi monster-monster yang siap melahap keberanian saya dan ternyata memang benar, monster tersebut hadir dalam sosok Max Cady. Film yang merupakan remake dari film berjudul sama pada tahun 1962 ini sukses membuat saya terpaku selama 128 menit durasinya. Rangkaian plot dan setiap adegannya benar-benar membuat saya seperti “dipaku” karena Scorsese mengemasnya dengan begitu ajaib.

Perkenalan dengan tokoh Max Cady lalu dilanjutkan dengan teror demi teror yang dia lakukan kepada keluarga Sam, sudah cukup menjadi pondasi yang kokoh dalam film ini. Untuk nantinya Scorsese tinggal membangun rasa paranoid tersebut secara perlahan kepada penontonnya. Lewat semakin terganggunya Sam dengan teror Max, giliran saya untuk menunggu-nunggu apa yang akan dilakukan Max selanjutnya. Film ini memang lihai dalam upayanya menjejalkan kita dengan rasa penasaran. Cara Scorsese mengemas film ini bisa dikatakan brilian, bagaimana dia bisa mengajak saya untuk ikut merasakan apa yang dirasakan oleh keluarga Sam. Alurnya yang berjalan bersahabat membuat saya secara tidak sadar ikut masuk ke dalam cerita, lalu bersimpati kepada keluarga Sam. Ketika mereka ketakutan, saya juga “dipaksa” untuk ikut merinding menunggu kegilaan apa lagi yang akan dihadirkan oleh Scorsese lewat tokoh psikopat Max Cady.

Max Cady memang berada di sisi “evil”, tapi itu tidak menjadikan dia sepenuhnya terlihat jahat di film ini, disinilah uniknya Scorsese dalam bercerita, dia membuat film ini lebih dari sekedar yang jahat melawan yang baik, dan akhirnya dimenangkan oleh yang baik. Film buatan tahun 1991 ini justru bisa dipandang dari dua kacamata yang berbeda. Max memang psikopat gila, tapi itu semua secara tidak langsung adalah kesalahan Sam yang membuatnya menderita di penjara. Max hanya ingin balas dendam, seperti halnya para jagoan di film-film, mereka juga biasanya dilandaskan rasa ingin balas dendam kan. Cara Max-lah yang tidak dibenarkan disini, dengan segala kekerasan dan kegilaan yang melebihi batas kewajaran yang dia lakukan. Tokoh Sam sendiri juga tidak 100% orang yang baik, bahkan disini saya selalu mempertanyakan tindakannya untuk membela diri, apakah bisa dibenarkan atau tidak, apakah dia seorang hero? saya bisa jawab: tidak ada kata “pahlawan” di film ini. Karena kedua belah pihak punya “kebenaran” yang mereka pegang masing-masing, mereka punya alasan cukup kuat sebagai alibi dari tindakan mereka. Si A ingin minta pertanggung jawaban dan si B membela diri atas nama keluarga. Seperti apa yang saya katakan sebelumnya film ini lebih dari hanya sekedar yang jahat melawan yang baik.

Tidak ada kata bosan, ketika saya terus menatap layar dimana Max dan Sam terus saja memuji diri mereka sendiri yang paling benar. Disaat Max “memperkosa” keharmonisan yang retak diantara keluarga Sam, saya akan bilang itu salah. Namun ketika Sam lambat-laun berubah menjadi tidak waras, saya juga akan bilang itu salah. Akhirnya saya akan menyalahkan Scorsese karena menyulap saya menjadi penonton yang terus tidak yakin kepada siapa harus berpihak. Sangat menarik Scorsese! dan semua ditambah menarik dengan pengambilan gambar yang begitu jenius ditangan Freddie Francis. Semua momen ketakutan, ketegangan, dan kekerasan di film ini tersorot dengan unik. Terakhir, film ini tentunya harus berterima kasih dengan penampilan akting para pemainnya yang sangat luar biasa. Terlebih Robert De Niro yang sudah menghadirkan sosok monster psikopat dengan sangat-sangat meyakinkan. Juliette Lewis juga patut diacungi jempol karena sudah berhasil berakting sebagai putri yang lugu, mudah digoda, dan ragu-ragu dalam bertindak, tapi tak dipungkiri spontan dan pintar. “Cape Fear” secara instan menjadikan-nya sebuah kisah horor yang klasik, ketakutan solid dan momen menegangkan yang tidak akan pernah bisa dilupakan. Saya tidak akan lupa dengan tatapan Max Cady itu.

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

15 Film Indonesia Te...
Review - Cipali KM 1...
Review - Don't Breat...
Review - Ratu Ilmu H...