Review: The Reeds

written by Rangga Adithia on June 27, 2010 in Cinema of Europe and CinemaTherapy and Horror and Thriller with no comments

Sometimes they play tricks on you

Serupa tapi tidak sama, itulah yang ingin ditawarkan oleh film asal Inggris ini. menonton “The Reeds” mungkin saja akan mengingatkan anda pada film-film semacam “Triangle” (2009) dan “Timecrimes” (2007). Tapi tentu saja jika dibandingkan dengan kedua film tersebut, film ini jadi terlihat sangat biasa dan justru mengecewakan. Bahkan di awal film saya sempat mengira film ini akan mengikuti jejak “Eden Lake” tapi saya salah besar kali ini (tertawa dalam hati). Film karya Nick Cohen ini, mengawali ceritanya dengan sekelompok muda-mudi London yang hendak berlibur dengan sebuah kapal kecil. Entah kebodohan apa yang ada di otak Joe (Daniel Caltagirone) dan kawan-kawan saat mereka memutuskan untuk menyewa kapal bernama Corsair Star, yang jika dilihat dari fisiknya saja sudah tampak bermasalah.

Sebelum memulai perjalanan ke tempat antah berantah hanya untuk menemukan sebuah pub rahasia, mereka dikejutkan dengan sekelompok anak-anak remaja yang menguasai kapal yang mereka sewa. Beruntung anak-anak ini pergi begitu saja tanpa melakukan sesuatu yang merugikan, tapi jelas ada yang aneh dengan mereka (disinilah saya mengira akan melihat lagi perlakuan anak-anak setan di Eden Lake). Joe dan kawan-kawan pun melanjutkan perjalanan, melewati sungai kecil yang dikelilingi padang rumput ilalang sepanjang mata memandang. Sampai pada akhirnya mereka melakukan kebodohan yang berikutnya, mencoba memotong jalan tanpa tahu kemana arahnya. Ketololan mereka akhirnya berbuah hasil, tentu saja kejadian tidak menyenangkan menimpa mereka. Kapal Corsair Star menabrak besi panjang, lalu menusuk lambung kapal hingga mengenai salah satu teman mereka. Mereka pun berupaya menyelamatkan teman mereka yang tertusuk sampai tembus ke perut tersebut, sekaligus memikirkan cara agar kapal tidak tenggelam.

Selanjutnya sudah bisa ditebak, serangkaian peristiwa tak menyenangkan, aneh, dan juga memilukan akan segera menghampiri para awak Corsair Star. Pertanyaannya sekarang apakah Nick Cohen bisa mengemasnya dengan semenarik mungkin? jawabannya adalah tidak. Film dengan bujet kecil ini memang menawarkan deretan plot yang menjanjikan di awal film, membawa saya untuk naik ke kapal, lalu “tersasar” oleh cerita yang dihadirkan oleh Chris Baker ini. Padang ilalang sukses menjadi tempat bersembunyinya kengerian yang sebenarnya, membuat saya untuk selalu siap dengan siapa saja yang keluar secara tiba-tiba dari balik kegelapan dan misteriusnya rumput-rumput tinggi tersebut. Saya bisa katakan film ini terampil dalam urusannya membangun pondasi ketegangan, sekaligus juga memenuhi otak kita dengan berbagai pertanyaan ini dan itu.

Sungguh disayangkan memang ketika saya sudah siap untuk atraksi-atraksi seru yang meledakkan otak, film yang tergabung dalam antologi “Afterdark Horrorfest” ini justru lebih asyik mengendap-ngendap dan berjalan perlahan, membuat saya menunggu dengan kesal apa yang akan terjadi selanjutnya. Saya akan bersikap maklum jika Nick akhirnya bisa mengelupas misteri demi misterinya dengan sayatan yang dalam, tapi saya harus kecewa karena film ini hanya pintar menumpuk pertanyaan lalu tidak memberikan jawaban yang cukup untuk membuat saya pada akhirnya mencium Corsair Star. Apalagi Nick sepertinya keteteran menguasai ceritanya, alhasil plot yang sudah dibangun dari awal, mulai tercecer ketika sampai di tengah film dimana semua kekacauan mulai terjadi. Menuju ke akhir, ketika misteri-misteri tersebut mulai terkuak, kejutan yang telah disiap-kan Nick menjadi sia-sia karena penyelesaiannya ternyata memang sudah bisa ditebak.

Walau masih menyimpan “twist” di akhir, sepertinya sudah percuma bagi Nick, karena film ini sudah kehilangan momentumnya. Pondasi yang terbangun cukup solid dan ketegangan yang masih terkait kencang dengan adegan-adegannya di awal film mulai mengendur di pertengahan dan akhirnya putus pada saat Nick mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi dengan film ini. Beruntung film ini masih punya lokasi yang dari awal secara instan menjadi pembangkit mood yang pas, walau pengambilan gambarnya tidak maksimal dalam memotret ketegangan dan kengerian yang ada. Dari segi akting juga tidak ada yang istimewa, tapi juga Daniel Caltagirone (The Fall, The Pianist) dan kawan-kawan tidak bermain seburuk itu. tampaknya “Lake Mungo” masih jadi favorit saya untuk antologi yang rilis pada tahun 2009 ini dan “The Final” masih menjadi yang terburuk dari ketiganya.

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Dukun Linta...
Review - Telaga Angk...
Review - Ouija: Orig...
Review - The Girl wi...