Review: Tekken

written by Rangga Adithia on June 4, 2010 in Action and CinemaTherapy and Hollywood with 5 comments

This is Iron Fist! ~ Miguel Caballero Rojo

Film yang diadaptasi dari sebuah game yang sudah memiliki fanbase-nya sendiri, apalagi jika permainan video game tersebut teramat terkenal dan masuk jajaran “legend”, pasti akan mengundang banyak penonton yang penasaran untuk menontonnya. Tapi sayangnya keinginan tulus para filmmaker (dalam hal ini industri film Hollywood) untuk membawa game-game favorit ke layar lebar masih belum membuahkan hasil yang memuaskan, yah jika tidak ingin dikatakan film-film adaptasi tersebut flop di pasaran dan hanya menjadi sasaran empuk cacian para penggila game. Nama-nama seperti Street Fighter, House of Dead, Doom, Max Payne, Alone in The Dark, adalah contoh film-film yang masuk dalam daftar film terburuk dari adaptasi game, masih banyak yang lain, kebanyakan adalah film yang tertera nama Uwe Boll sebagai sutradaranya. Resident Evil pertama masih saya anggap lumayan, karena suasana gamenya masih sangat terasa, sama halnya dengan game horor yang satu ini, Silent Hill, filmnya mampu membawa saya seperti kembali ke dalam game. Bagaimana dengan Tekken yang notabennya game fighting paling populer di muka bumi? Apakah akan bernasib hanya jadi bahan cemoohan?

Kita akan diajak ke masa depan, tepatnya di tahun 2039, dimana perang besar telah menghancurkan peradaban manusia. Negara-negara yang tersisa pun tidak lagi dikuasai oleh pemerintah namun dijalankan oleh perusahaan-perusahaan raksasa yang mengambil keuntungan dari kesengsaraan ini. Satu dari perusahaan tersebut adalah Mishima Zaibatsu yang sekarang menguasai Amerika. Heihachi Mishima (Cary-Hiroyuki Tagawa) yang tak lain adalah pimpinan Zaibatsu, mengadakan sebuah turnamen bernama “King of Iron Fist Tournament”atau Tekken. Turnamen inilah yang nantinya akan mengubah nasib jagoan kita Jin Kazama (Jon Foo) dan mempertemukannya dengan takdir yang selama ini jauh tersembunyi dibalik tembok Tekken City. Begitulah kira-kira film ini memulai ceritanya, memperkenalkan kita dengan Jin yang memiliki keahlian unik yang sayangnya dipakai untuk mencuri barang-barang berharga demi bertahan hidup, sampai kelak ia akan masuk menjadi petarung di turnamen paling prestisius di dunia ini.

Bagaimana Jin bisa ikut ke dalam turnamen Tekken ini? film yang dibesut oleh Dwight H. Little ini tidak perlu repot-repot membangun plot-nya kok, dengan “cerdik” film ini memasukkan unsur balas dendam (tema yang paling sering dipakai di film-film adaptasi game, termasuk adaptasi manga seperti film Dragonball Evolution pun memakai plot yang sama). Sekarang tinggal mencari korban tidak bersalah untuk menjadi alasan sang jagoan berteriak “tidaaaaaaaaaaaaak…aku akan balas dendam!!!”. Apa yang terjadi? Jin kehilangan Ibunda tercinta yang telah melindungi dan mengajarinya ilmu beladiri. Ibunya dibunuh oleh pihak Mishima, tepatnya oleh Kazuya (anak Heihachi) dan geng Jack-Daniels-nya, maaf maksud saya anak buah bersenjata bernama Jackhammer. Film ini memang keterlaluan, motto “buat apa repot-repot” ternyata berlanjut ketika berbicara soal motif dan bagaimana cara membunuh Jin dan Ibunya. Kazuya dan pasukan bertopengnya mencari Jin karena dia bertanggung jawab mencuri teknologi milik perusahaan, tidak berhasil menangkap anaknya, sang ibu justru dibunuh. Bukan dengan aksi pertarungan sampai mati, namun dengan ditembak roket, apakah bukan keterlaluan itu namanya? Maka hancurlah hidup Jin, kehilangan ibu dan menjadi buronan.

Ketidakbecusan (jika tidak mau dibilang bodoh) Dwight dalam menggarap film ini pun berlanjut dengan mengemas semuanya menjadi tidak jelas dan terkesan buru-buru. Sang sutradara yang terbiasa menyutradarai serial-serial televisi dan terakhir menangani film “Anacondas: The Hunt for the Blood Orchid” ini dengan sangat terpaksa dan tidak iklas menerima cerita yang memang dari awal sepertinya ditulis oleh orang yang terkesan tidak pernah memainkan gamenya (okay ternyata penulisnya orang yang sama yang menulis cerita untuk Spawn). Film ini sepertinya secara “random” mengambil karakter-karakter dalam game lalu menyebutnya sebuah adaptasi atau apalah namanya. Saya tidak akan lebih jauh membanding-bandingkan dengan elemen-elemen penting dalam game-nya. Karena saya selalu memperlakukan film-film adaptasi, apakah itu dari game atau novel, sebagai karya yang berbeda, jadi mari kita fokus kepada filmnya saja, toh sebagai film yang berdiri sendiri tanpa embel-embel adaptasi, film ini sudah lebih dahulu hancur.

Dari segi cerita, film ini sama sekali tidak berkutik, sudah lebih dahulu K.O sebelum pertandingan yang sebenarnya dimulai. Berangkat dari tema balas dendam, jalan cerita selanjutnya sudah dapat ditebak, berujung klise dengan plot yang ringan dan mudah dicerna. Okay saya akan maklum jika Dwight bisa menghadirkan adegan-adegan laga yang mampu menginjeksi saya dengan larutan adrenalin dosis tinggi. Jika itu formula yang akan disajikan film ini, action diatas segala-galanya, saya akan bersalaman dengan Dwight, melupakan kalau ceritanya hancur dan nikmati saja pertarungan sampai mati di arena turnamen yang diadakan di sebuah bangunan mirip Madison Squre Garden namun dengan gambar kepalan tinju di atapnya ini. Untung tak dapat diraih malang tak dapat ditolak, unsur action dalam film ternyata sama hancurnya dengan paket cerita-nya. Ketika saya menyukai setting arena pertarungan yang bisa berganti-ganti tempat layaknya game, hal tersebut tidak diikuti dengan pertarungannya itu sendiri.

Skema turnamen yang aneh dan disajikan secara tiba-tiba menjadi titik kelemahan fatal. Saat pertarungan dirasa akan berlangsung seru, belum saya berkedip, pertarungan sudah selesai. Padahal para petarungnya dilengkapi dengan biodata menyeramkan, ahli inilah ahli itulah, tetapi ketika giliran maju selangkah dia sudah tersandung dan kalah. Dwight juga membalut adegan laganya tanpa “soul”, tanpa turut membawa mood penonton untuk ikut ke arena turnamen. Alhasil sudah dapat ditebak, saya tak bersimpati sama sekali dengan tokoh utama dan satu-satunya harapan untuk menyelamatkan film ini lewat adegan laga-nya pun akhirnya terhempas jatuh terkena sabetan samurai Yoshimitsu. Lalu semua menjadi lengkap, ketika para pemainnya dengan asyik berakting datar mau itu ketika dalam porsi drama maupun pada saat bertarung. Sekarang, saatnya saya untuk memanggil calon penantang untuk kandidat film terburuk tahun ini, dengan keahlian dalam membuat penonton tidak terhibur dan “mematikan” dengan adegan laga yang loyo, kita sambut “Tekken”!!

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

20 Film Indonesia Wa...
Review - The Green I...
Review - Aach... Aku...
Review - Cipali KM 1...