Review: Not For Sale

written by Rangga Adithia on June 25, 2010 in CinemaTherapy and Film Indonesia with 11 comments

Kalau lo masih perawan, lo bisa beli laptop dan 5 blackberry sekaligus ~ Shasi

Adakah yang “iseng” menghitung sudah berapa film yang Nayato buat sampai bulan ini? jika hitungan saya benar (kok jadi saya yang menghitung, kan saya yang bertanya kepada anda) ada total 7 film yang sudah disutradarainya sampai detik saya menulis review ini. Ada te(rekam) yang memakai nama Koya Pagayo, lalu dengan memakai nama kebesaran Nayato Fio Nuala, ada 18+, Kain Kafan Perawan, Belum Cukup Umur, Affair, Akibat Pergaulan Bebas, dan yang terbaru Not For Sale. Sebuah produktivitas yang sepatutnya diacungi jempol (jika) saja “prestasi” si punya banyak nama ini mau diikuti dengan kata yang sepertinya hilang dari kamus filmnya, kualitas!. Tapi anehnya walau “sepi” kualitas, film-film Nayato masih saja ramai penonton tuh, ketika saya menonton film ini, saya bisa jumpai sekitar lebih dari 10 orang. Saya memang tidak melakukan survey lebih lanjut, gila aja kalau harus memeriksa jumlah penonton setiap jam tayang atau pindah ke sinema lain, mungkin sekarang saya tidak lagi sedang menulis review ini, kemungkinan besar sudah terbaring lemah ditemani suster seksi di rumah sakit.

Untuk saat ini saya cukup membandingkannya dengan jumlah penonton di bioskop yang sama, ketika saya menonton “Minggu Pagi di Victoria Park”, yang notabennya masuk ke dalam daftar film-film berkualitas. Tapi sungguh miris ketika harus melihat siapa teman nonton saya pada waktu itu, tengok ke kanan kosong lalu tengok ke kiri kosong, begitu pula di depan dan di belakang saya, hanya terlihat jejeran bangku tanpa penonton. Walau pada akhirnya saya baru sadar ternyata ada 2 orang penonton yang keluar bersama saya ketika filmnya selesai. Saya bertambah sedih ketika film ini harus dipaksa “turun” dari layar lebar, hmm padahal baru saja seminggu dari tanggal rilisnya (jika tidak salah ya). Berbeda dengan “Akibat Pergaulan Bebas” yang masih saja bertengger di bioskop sampai berminggu-minggu. Apakah lagi-lagi saya harus menyalahkan penonton kita yang lebih memilih film A, mewakili kata A-ncur, dan memandang sebelah mata film B, yang nyata-nyata memang B-agus. Apakah saya harus menyalahkan pihak sinema? Atau saya harus menunjuk para filmmaker dan studio-studio “besar”? karena “keluguan” mereka, kita jadi tidak punya pilihan tontonan yang berkualitas, setidaknya pantas ditonton di bioskop.

Saya yang tidak tahu apa-apa ini, hanya bisa menggeleng-geleng kepala, tanda saya tidak punya jawaban untuk pertanyaan tersebut (mungkin) untuk sekarang. Sinema lokal kita bukannya tidak bisa membuat sesuatu yang beda, toh setiap tahun masih ada orang-orang hebat yang mau dan berani membuat film yang punya takaran gizi cukup, alhasil kita tak hanya “kenyang” dengan cerita tetapi juga “sehat”, yah dalam arti sesungguhnya, keluar bioskop tidak mengalami pendarahan otak atau kejang-kejang, separah itukah? tentu saja separah itu. Nah, sayangnya film-film bergizi itu selalu kalah laku ketika muncul film-film “fastfood” yang dengan segala cara selalu saja pintar menarik penonton berbondong-bondong pergi ke bioskop, dengan segala macam embel-embel kisah nyata, artis luar negeri, lebih “besar” dan lebih mesum. Film yang seharusnya diapresiasi lebih dan jadi jawara di negeri sendiri pun terpaksa harus mengalah dan tersingkir dengan terhormat. Di luar negerilah film-film ini justru punya nama, dihargai, dan diapresisi.

Saya mulai melantur kemana-mana, maaf jika curhatan saya terlalu panjang dan malah jadi membosankan. Sekarang yang dibutuhkan hanya sikap optimis, percaya akan selalu ada film-film berkualitas hadir ditengah-tengah kita dan para penjual “fastfood” itu sadar untuk tidak terus mengeruk keuntungan dengan tetap membodohi penonton. Masih mau membaca review ini, atau kalian sudah terlalu malas melanjutkan cerita saya tentang aksi terbaru Nayato. “Not For Sale” lagi-lagi membawa tema kehidupan remaja yang punya setumpuk masalah, bermasalah dengan sekolah, cinta, orang tua, dan entah dengan apa lagi. Viva Westi kembali diajak mendampingi Nayato sebagai penulis, tidak lupa dia juga memboyong aktris kesayangannya Arumi Bachsin untuk main disini. Sampai-sampai cerita di film-film sebelumnya juga ikut terbawa, yah dengan sedikit pergantian karakter, tambahan plot dangkal, dan tentu saja menambahkan lebih banyak probematika semu.

Film ini punya segala aspek kejutan yang tidak terduga, tiba-tiba yang tadinya lugu dan pemalu menjadi nakal, yang tadinya germo jadi tiba-tiba berubah sok bermoral, yang tadinya menjadi sumber masalah tiba-tiba menghilang (lalu tiba-tiba muncul lagi), tiba-tiba semua jadi sok sahabat yang seperti sudah kenal ratusan tahun (rela melakukan apa saja demi sahabat). Semua yang serba tiba-tiba memang sepertinya jadi kelebihan film ini, sampai-sampai film pun tiba-tiba diakhiri dengan mudah, semudah saya tertidur di antara mulut yang masih penuh dengan popcorn. Saya jadi bingung, apa yang sebenarnya ingin disampaikan film ini. Menghadirkan sebuah realita atau sebaliknya menyajikan sebuah fiksi berlebihan yang dikemas begitu bodoh. May (Chindy Anggrina) pada awal-nya diceritakan sebagai anak baik-baik, tapi dia justru terkena masalah karena dituduh sebagai pelacur di sekolahnya, lalu dikeluarkan dari sekolah lanjut dimarahi oleh orang tua dan berakhir tidak ingin pulang kerumah. May yang sedang menangis pun bertemu dengan Shasi (Arumi Bachsin), yang ternyata bernasib sama dikeluarkan dari sekolah. Bedanya Shasi dituduh sebagai germo oleh temannya sendiri.

Shasi dan May pun akhirnya ditakdirkan menjadi sahabat berkat minuman teh segar, yah bukan karena kesamaan nasib mereka berdua, aneh? wajar. Shasi mengajak May yang tidak berani pulang (aneh padahal dia sudah dimarahi oleh ibunya di sekolah, tapi dia tetap takut pulang karena takut dimarahi ibunya lagi…hebat!) ke sebuah kost, tinggal disana untuk sementara dan berkenalan dengan teman Shasi, Dessy dan Andhara. Dessy punya pekerjaan sebagai penari striptis dan Andhara yang pemakai, bekerja di bar yang sama sebagai bartender. Film pun berakhir dengan bahagia…itu harapan saya, tapi ketika saya melihat jam film baru berjalan 20 menit, oh serasa berada di lorong waktu, 1 menit disini sama seperti 1 jam di luar sana. Masalah demi masalah pun bermunculan tapi tentu bersamaan dengan dilupakannya masalah sebelumnya.

May sepertinya sudah lupa dia sekarang tidak sekolah dan lupa dia masih punya keluarga (saya sudah lupa siapa nama saya sendiri). Apalagi ketika seorang cowo yang menyukai May namun ditolak, bunuh diri di kamar mandi, tapi malang nasib orang yang namanya saya lupa ini, dia mati sangat sia-sia, tidak ada tuh adegan yang memperlihatkan May kaget dengan kematiannya, bahkan sepertinya dia tidak tahu si cowo bunuh diri. Padahal Nayato sudah membujuknya jika dia mau “dimatikan”, dia akan dapat peran lagi sebagai hantu yang terus saja mengganggu May, pintarnya Nayato ternyata memberinya naskah film lama. Si cowo sampai sekarang pun masih menunggu adegan dia selanjutnya tanpa sedikitpun tahu filmnya sudah tayang. Bagaimana dengan May? ah lagi-lagi dia menangis karena mengetahui ayahnya tidak bekerja dan rumahnya sudah disita, yah tiba-tiba May punya keluarga lagi dan selanjutnya bisa ditebak masalah ini pun dilupakan.

Film ini punya beribu masalah yang ditumpuk menjadi satu, penyelesaian bagaimana? gampang kok tinggal pilih saja yang mana kira-kira mudah untuk diselesaikan. lalu apa yang terjadi dengan konflik lainnya, gampang kok! save as “problem” as new document, yah konflik-konflik yang belum selesai bisa dimasukkan ke film Nayato berikutnya. May yang pada akhirnya terjerumus ke lembah gelap, loh namanya juga film Nayato harus gelap donk, tiba-tiba lagi melupakan masalah keluarga karena dia punya masalah lain harus menolong Andhara yang masuk penjara. Shasi yang lupa kalau dia masih syuting film ini dan menghilang lama, akhirnya muncul lagi menjadi dewi penyelamat. Tapi apalah solusi yang bisa diberikan seorang germo, tidak ada selain ikut pusing sok peduli. Sampai akhirnya Shasi tersenyum karena apa yang dia tunggu-tunggu diucapkan juga oleh May, yah dia minta “dijual”, kenapa tidak dari dari awal saja May! kan saya tidak menderita menahan bokong saya yang mulai kaku, parahnya hanya untuk menunggu May mengeluarkan kata-kata sakti “jual gw”.

Singkat cerita Andhara bebas karena uang 30 juta hasil dari keperawanan yang dijual. Wah ternyata film ini berakhir bahagia, tidak! karena formula “tiba-tiba” masih belum selesai. Entah kapan mereka semua di film ini mulai akrab, karena yang saya lihat hanya cewek-cewek setengah telanjang joget di atas meja bar dan diulang beratus-ratus kali, tanpa membuat saya bergairah sedikit pun (bukan berarti saya tidak normal). Sama persis ketika Nayato terus saja mengulang-ngulang adegan pemain cewenya yang berbalut pakaian dalam menguap selebar-lebarnya (gila nguap aja didramatisir), dalam hati saya hanya ingin menjejalkan popcorn yang sudah saya kunyah hancur ini ke mulut mereka, dan muntahannya dijejalkan ke mulut Nayato. Film ini seharusnya berjudul “look at me” yang sedang tidur dengan seksi, dipelototi kamera berjam-jam durasi, lalu “look at me” lagi dong yang sedang menguap karena habis gaul semalaman.

Cerita daur ulang, esekusi berlebihan, plot yang berantakan seperti potongan puzzle yang saya kencingi, ditambah dengan akting melengkung, bukan datar lagi, lalu dialog-dialog super ajaib “gw bisa beli bb donk klo dijual” atau “parah lo jual diri mulu” lalu dibalas dasyat dengan “nah lo lebih parah jual gw”. Semua itu dikemas dengan seperti apa yang saya bilang sebelumnya, “fastfood”. Jalan pintas mengerjakan semuanya dengan cepat, tanpa peduli dengan kualitas termasuk nasib penonton yang sudah rela mengeluarkan uang hanya untuk melihat kualitas film yang tidak lebih dari hasil “muntahan”. Lalu apa hubungannya dengan judul “Not For Sale”, oh ternyata film ini juga tidak menjual pesan moral (selain tidak juga menjual kualitas) kecuali dijual cepat dada-dada pemainnya yang masih dalam masa tumbuh kembang, lalu setelah itu memberi pelajaran bagaimana menjadi germo yang sukses dan punya bb dan laptop dengan cara mudah. Maaf tapi itu yang bisa saya petik dari buah yang sudah busuk ini. Sekali lagi pertanyaan itu muncul, siapa sih sebetulnya yang harus disalahkan? atau saya juga termasuk tersangka karena terus saja melihat film model begini dan bodohnya punya waktu mereview film ini. Nayato saya masih menunggu anda membuat film zombie!


Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Surat Dari ...
Review - Deathgasm (...
Review - 3 Srikandi
Review - Telaga Angk...