Review: Misery

written by Rangga Adithia on June 30, 2010 in CinemaTherapy and Hollywood and Horror and Thriller with 2 comments

I just wanted to tell you I’m your number one fan. ~ Waitress

Paul Sheldon memang bisa mengubah nasib karakter bernama “Misery” dalam novelnya, membuatnya tetap hidup atau membuat para fans menangis tersedu-sedu mendapati karakter kesayangannya dibuat tewas oleh sang pengarang. Tapi apakah novelis terkenal ini juga bisa menjadi “Tuhan” ketika berhadapan dengan kehidupan nyata? terlebih saat dipertemukan dengan penggemar nomor satu. Keberuntungan yang tidak beruntung, mungkin itu yang akan di hadapi oleh Paul Sheldon, novel terakhirnya baru saja selesai ditulis dan dia pun dalam perjalanan menuju New York. Tapi ditengah sapuan badai salju, mobilnya mengalami kecelakaan, beruntung seorang wanita baik hati mau menolongnya dan membawa Paul ke rumahnya. Annie Wilkes (Kathy Bates) yang mantan suster, dengan wajah penuh senyum merawat Paul yang kedua kakinya patah dan dislokasi bahu. Apa yang tidak diketahui oleh Paul adalah Annie bukan seperti apa yang terlihat, didalam jiwanya, sesosok iblis mulai meraung-raung menginginkan seorang korban.

Annie mulai membuka topengnya perlahan demi perlahan, menyibak tirai yang menutup siapa dirinya yang sebenarnya. Annie yang sangat terobsesi dengan novel Paul terutama dengan karakter Misery, langsung mengikis habis bulu domba yang selama ini sudah menyembunyikan gigi-gigi tajam serigala, ketika dia mengetahui Paul membunuh Misery dalam novelnya. Paul yang hampir terbunuh, sekarang terbangun dari mimpi indahnya, sadar jika dia berada satu rumah dengan psikopat. Paul pun berusaha untuk melarikan diri dari mimpi buruk ini, tetapi tentu saja semua usahanya gagal. Annie pun memaksanya untuk menulis ulang novel terakhirnya sesuai dengan keinginannya dan menghidupkan kembali Misery. Paul tidak punya pilihan lain selain menuruti kemauan Annie yang kali ini memegang kendali atas hidupnya, menghidupkan Misery dalam novelnya atau dirinya yang tewas dalam kehidupan nyata. Senyum manis memang masih menghias wajah tidak bersalah Annie, tetapi Paul tahu, dia sedang menghitung mundur kematiannya sendiri.

Kathy Bates memang gila! saya tidak perlu menunggu dia untuk menyiksa Paul yang di perankan oleh James Caan, untuk bisa tahu wanita ini benar-benar psikopat tulen. Hanya melalui tatapan matanya, saya seolah-olah melihat dia memenjara sesosok iblis yang tak tahan untuk segera keluar, yah dari matanya saja! Segera setelah Annie bertransformasi dari wanita baik-hati-murah-senyum menjadi monster yang siap menelan bulat-bulat sang pengarang novel. Saya tak hanya terpukau dengan bagaimana akting Bates bisa membuat saya terhipnotis ketakutan, tetapi sekaligus berpikir apakah saya bisa selamat menonton film ini sampai selesai? karena Annie dengan meyakinkan, seperti berada di sebelah saya siap dengan palu besar untuk menghancurkan kepala saya, kapan pun saya menoleh ke arah lain kecuali ke layar televisi.

Peranan Annie sebagai pendokrak ketegangan dalam film ini memang manjur membuat saya bersembunyi di balik papan bertuliskan “saya bukan Paul Sheldon”. Ketakutan saya memang beralasan, bukan hanya karena Annie bisa melakukan aksi kejam-nya kapan pun dia mau, tapi lebih menakutkan ketika dia juga bisa tiba-tiba merubah wajah iblisnya, menyembunyikannya untuk sementara, dan mengambil topeng malaikat lalu memakainya untuk kembali mengelabui saya. Annie memang terampil dalam urusan bersembunyi, tapi dia tak bisa menutupi tatapan penuh nafsu membunuh itu. Rob Reiner (The Bucket List, When Harry Met Sally) pun dengan apik bisa melebur karakter psikopat Annie dengan cerita yang penuh ketegangan disana-sini, memancing kengerian, dan mengundang rasa simpati pada hmm tidak hanya Paul, tetapi juga kepada Annie. Entahlah, ketika tiba saat-nya Paul dalam posisi terancam, saya akan merasa iba kepadanya dan memohon supaya dia tak terbunuh. Tetapi rasa iba itu musnah, ketika rasa simpatik (oh Tuhan..) saya justru lebih berat pada Annie (saya belum gila kan). Saya tidak akan menyalahkan Rob.

Film ini sudah sepantasnya berterima kasih dengan akting meyakinkan dari Kathy Bates, dan berkat perannya sebagai Annie, Bates pun berhasil mendapatkan Oscar dan Golden Globe di tahun yang sama untuk aktris terbaik. Rob Reiner juga telah membuktikan jika visinya dalam mengemas film ini sudah berhasil menterjemahkan imajinasi liar dari sang master horor Stephen King. Tapi memang jika melirik lebih jeli, dari segi plot-plot yang disajikan, film ini masih jauh dari kata sempurna, ceritanya pun mengalir sederhana tanpa adanya twist yang hebat. Disinilah Rob Reiner cerdik untuk bisa mengolah sesuatu yang biasa jadi terlihat istimewa, beberapa adegan dibuat se”cantik” mungkin. Alhasil dengan peran Annie yang memang sudah ditakdirkan untuk Bates, film ini jadi punya adegan-adegan yang tak bisa dilupakan, tapi itu pun sekali lagi karena memang tertolong oleh si Annie yang “lemah lembut” dalam menyiksa Paul. “Misery” adalah sebuah kisah klasik thriller psikologis yang wajib ditonton bagi siapa saja yang menjadikan horor sarapan pagi sehari-hari. Film ini memang bukan horor yang penuh hantu tapi level terornya mampu berlipat-lipat menghantui pikiran penontonnya.

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Turbo Kid (...
Review - Ghost Diary...
Review - Raksasa Dar...
Review - Ouija: Orig...