Review: Fiksi.

written by Rangga Adithia on June 19, 2010 in Asian Film and CinemaTherapy and Fantasy and Film Indonesia and Thriller with 5 comments

Semua kejadian selalu ada tujuannya Alisha…

Alisha (Ladya Cheryl) dari negeri dongeng? bisa dikatakan seperti itu ketika kita melihat tubuh mungil itu dikelilingi manik-manik impian, yang bagi kebanyakan gadis seumurannya terbatas hanya menjadi bunga tidur yang manis. Tapi kisah Alisha ini bukanlah refleksi dari putri Cinderela, ya Alisha memang punya segalanya, orang tua yang kaya, rumah bagai istana, fasilitas yang selalu tersedia dan ia tidak akan kehilangan semua itu saat jarum-jarum jam “beristirahat” di angka 12 malam. Namun Tuhan memang Maha Adil, tidak akan ada yang namanya kesempurnaan, termasuk dalam sebuah kisah “FIKSI.”. Alisha tampaknya kehilangan sepatu kacanya dalam artian ada yang kurang dalam hidupnya. Saat kemilau materi begitu menyilaukan mata, sinar di hati Alisha justru kian redup, karena arti sebuah kebahagiaan telah terenggut darinya. Bahkan bisa dibilang Alisha seperti mati.

Alisha baru bisa merasakan kehidupan ketika dia memainkan cello kesayangannya, setiap gesekan seperti sebuah suara hati yang selama ini terkurung, menciptakan melodi-melodi indah yang pada akhirnya menumbuhkan semangat-semangat kecil untuk terus bertahan. Namun ketika nada-nada itu berhenti bernyanyi, Alisha kembali terbangun dalam mimpi buruk, menatap benci pada foto sang ayah yang sudah tercorat-coret penuh amarah. Yah, ayahnya yang otoriter adalah penyebab kebisuan dalam keluarga ini, membatasi ruang gerak Alisha dan menganggapnya sebagai anak kecil yang masih harus dituntun kemana-mana. Alisha berpikir inilah penjara abadinya, apakah ia bisa lari darinya? ketika trauma pahit masa lalu juga kerap menghampiri lewat mimpi, apakah ia bisa melupakannya? Alisha tak bisa menjawab, dia mengunci hatinya sampai kelak seseorang datang entah dari negeri mana. Seseorang yang akan “menculiknya” dari menara penderitaan.

“Pangeran” tersebut datang dalam sosok Bari (Donny Alamsyah), pria gondrong berparas tampan yang kerap muncul setiap pagi untuk membersihkan kolam. Alisha yang tampak jelas jarang melihat pria lain di rumah ini, kecuali ayahnya dan supirnya Pak Bambang, langsung saja “terpesona” dan mengintip dari balik jendela kaca kamarnya. Setiap hari Bari muncul, setiap kali itu juga tumbuh benih-benih kehidupan dalam diri Alisha. Kali ini Alisha punya alasan lebih kuat untuk keluar dari “penjara”, bukan karena sang ayah dan tidak juga untuk “meghilangkan” noda hitam masa lalunya, tapi semata-mata hanya mengikuti kemana Bari melangkah. Membawa cello, koper berisi pakaian, dan entah apa yang ada dalam dirinya, Alisha pun akhirnya meninggalkan istananya. Dia menemukan rumah barunya di sebuah rumah susun, sengaja memilih kamar disebelah Bari untuk bisa mendekati pria yang ternyata sudah punya pasangan tersebut. Alisha kini tinggal dalam dunia kecil, sebuah sirkus kehidupan yang selama ini terhalangi oleh tembok kemewahan yang mengurungnya. Alisha pun diberi pilihan (atau dia sudah memilih), dimana dia akan menempatkan karakternya dalam dunia nyata terbungkus fiksi ini?

Pilihan tersebut ternyata tidak hanya menunjuk pada diri seorang Alisha atau Mia –nama yang di pilihnya sebagai identitas baru di rumah susun ini sekaligus untuk berkenalan dengan Bari dan Renta (Kinaryosih)– namun juga menunjuk saya sebagai penonton untuk segera memilih “kamar” yang akan dihuni. Saya tentu saja memilih kamar yang lebih dekat tapi juga tidak terlalu mencolok, sebisa mungkin setidaknya masih bisa mengamati gerak-gerik Mia (saya akan mengganti namanya di rumah susun ini). Sesekali saya akan turun ke bawah dan naik ke atas untuk bisa melihat sendiri seseru apa atraksi sirkus kehidupan yang tidak pernah tertidur ini. Ternyata Mouly Surya dengan detil dapat menghadirkan suasana sesungguhnya dari sebuah rumah susun yang setiap tingkatnya dihuni oleh orang, status, dan komunitas yang berbeda. Mulai dari kelompok pebisnis di lantai terbawah, keluarga kecil bahagia di lantai dua, komunitas transeksual di lantai tiga, pelacur-pelacur “mahal” di lantai empat, bandar candu di lantai lima, pekerja dan mahasiswa di lantai enam, kaum gay ”berdansa” di lantai tujuh, lalu ada lantai delapan yang dihuni oleh istri-istri simpanan. Terakhir rumah susun ini juga memberikan tempat bagi mereka yang sudah meninggal, kamar-kamar kosong di lantai sembilan itu dihuni arwah gentayangan.

Dunia kecil yang memanjakan daya imajinasi tersebut digabungkan dalam rangkaian apik cerita yang sudah ditulis oleh Joko Anwar (Dead Time: Kala), memadukan sebuah fiksi dengan aksesoris cantik kehidupan nyata. Hasilnya adalah eksplorasi cerita yang berhasil masuk ke dalam ruang-ruang gelap psikologis manusia. Pada saat saya mengintip dari balik jendela kamar, saya melihat deretan kalimat-kalimat magis dari naskah tersebut diproyeksikan ke dalam adegan bagaikan jemuran yang menggantung di setiap kamar rumah susun. Adegan demi adegannya terkait dengan kuat sampai pada akhirnya saya lupa sedang memasak makan malam hingga gosong. Plot yang dibangun bertahap demi bertahap oleh Mouly Surya pun dipasangkan dengan alur yang “bersahabat”, hasilnya saya sangat menikmati setiap asupan cerita yang disuapkan Mouly, mengunyahnya tidak terburu-buru lalu mencernanya. Ketika saya gagal memasak makan malam, saya senang bisa dihidangkan kudapan lezat dari seorang Mouly Surya.

Saya yang tinggal tidak jauh dengan mereka (Mia-Bari-Renta) makin dibuat penasaran ketika plot berkembang menjadi sangat menarik, sebuah kisah cinta yang berubah jadi sebuah obsesi menakutkan. Ketika saya berpapasan dengan Mia di lorong menuju kamar saya, saya tahu dia sudah menjadi orang yang berbeda. Mouly telah merekayasa Mia ber-tubuh mungil itu menjadi sosok yang sepertinya butuh perhatian lebih, tentu saja bukan dari saya yang hanya bisa menonton dan bersimpati. Mouly mulai melepas umpan-umpan “menggiurkan” untuk makin memancing saya mendekat dan “menguping” kisah Mia yang mulai tergerak oleh lembar demi lembar fiksi karya Bari ini. Disinilah Alisha tlah menjelma sepenuhnya menjadi Mia dan memilih untuk menjadi Mia lalu masuk ke dalam tulisan-tulisan Bari yang terinspirasi dari kisah nyata beberapa penghuni rumah susun. Termasuk didalamnya kisah wanita tua yang memiliki banyak kucing dan tak pernah keluar kamar. Saya hanya bisa berkata dalam hati “cerita makin menarik saja”.

Peranan Mouly menjaga jalan cerita untuk tetap pada jalurnya, terlaksana dengan baik bersamaan dengan makin meleburnya setiap bagian dari rumah susun ke dalam plot yang teraduk rapih. Setiap kisah nyata yang diketikkan oleh Bari menjadi berlembar-lembar cerita fiksi kini menjadi suguhan atraksi utama dalam sirkus kehidupan rumah susun dengan sorotan lampu tertuju pada Mia. Semua makin terkemas manis ketika cerita yang bergulir dari menit ke menitnya ini terpotret dengan cantik. Saya makin terbius dengan “kelembutan” Mia ketika gambar terlihat saat anggun menangkap setiap langkah gelap yang dipijakinya. Semakin saya mengikutinya ke daerah paling gelap dalam dirinya, saya pun makin tidak bisa lepas untuk bisa melihat akhir dari putaran gangsing dunia kecil ini. Kesunyian tanpa kata-kata yang hanya menyisakan “bahasa gambar” yang kerap hadir menghias wajah dingin Mia terkadang juga menjadi penuntun saya yang berjalan diantara hiruk pikuknya huruf-huruf ini, sampai akhirnya saya tiba pada sebuah titik.

Yah hanya titik yang kelak akan mengakhiri cerita ini, memutus benang antara sebuah realita yang tetap harus berjalan dan sebuah fiksi yang sudah dikodratkan untuk berakhir di suatu tempat. Saya pun harus meninggalkan kamar di rumah susun bersamaan dengan sketsa-sketsa imajinasi saya yang mulai luntur. Apa yang tersisa adalah euphoria, karena telah tinggal dalam sebuah dunia kecil namun memiliki pelajaran hidup yang sangat luas dan mungkin saja tidak terbatas. Mengambil poin-poin bijaksana dari sebuah fiksi lalu menempatkannya dalam kehidupan nyata, saya hanya tidak ingin tersesat dalam gelapnya cinta seperti Alisha/Mia yang diperankan dengan sangat meyakinkan oleh Ladya Cheryl. Lakon putri dari negeri dongeng telah mampu membuat saya betah tinggal lama-lama dalam kamar rumah susun  –diiringi musik indah dari Zeke Khaseli dan tentu saja favorit saya “cello suite no. 1″ dari Johann Sebastian Bach, hanya untuk mengintip kehidupannya. Ketika seharusnya saya keluar mencari santapan makan malam pengganti yang telah gosong. Akhirnya saya juga harus mengakhiri tulisan ini dengan sebuah titik, hidup memang harus terus berjalan.

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

15 Film Indonesia Te...
Review - Ghost Diary...
Review - Cipali KM 1...
Review - Train to Bu...