Turkish Film Festival 2010: Vizontele

written by Rangga Adithia on May 9, 2010 in Cinema of Europe and CinemaTherapy and Comedy and Drama with 2 comments

Radio with pictures. You listen Zeki Müren in the radio, right? Now, you’ll be able to see him as well! ~ Nazmi

Tak terbayangkan sebelumnya jika sebuah televisi akan mendatangkan banyak perubahan kepada sebuah kota kecil, peristiwa biasa yang justru bisa berkembang menjadi sebuah cerita yang unik. Kisah ajaib ini datang dari kota kecil di Turki bernama Hakkari di tahun 70-an, yang sepertinya lumayan terpencil dan belum banyak mengenal teknologi. Bahkan surat kabar pun sampai terlambat dua hari di kota ini. Sebuah bioskop kecil menjadi satu-satunya hiburan rakyat, selain radio, bioskop dengan tempat duduk dari kayu dan tidak memiliki atap ini beruntungnya tidak pernah sepi penonton. Berita besar pun akhirnya menghebohkan kota tersebut, dengan datangnya sebuah televisi. Sang walikota segera mengumpulkan penduduk kota untuk menyambut televisi pertama tersebut. Namun pada saat “radio with picture” (sebutan lain untuk televisi di kota itu) sampai, tidak ada yang tahu bagaimana cara menggunakannya, termasuk si walikota.

Sebagian penduduk senang dengan datangnya televisi ini, tapi sebagian lagi menganggap televisi adalah barang “iblis” karena bisa memunculkan gambar dari berbagai tempat. Orang yang paling menentang adanya televisi ini tentu saja si pemilik bioskop karena dia takut akan kehilangan penontonnya. Dia pun mulai menghasut para penduduk tentang televisi yang dimiliki Walikota mereka. Walikota sendiri mulai mencari cara agar televisi bisa menyala dan memunculkan gambar, akhirnya dia memanggil Emin. Emin terkenal ahli elektronik namun terkenal juga karena penduduk menganggap dia sedikit aneh dan gila. Namun ternyata Emin juga masih gagal memunculkan gambar setelah membongkar televisi tersebut. Padahal televisi dan antena sudah ditempatkan ditempat tinggi sesuai dengan intruksi yang ada, yang muncul justru hanya gambar semut. Emin dan Walikota tidak patah semangat, mereka memutuskan untuk mendaki dari bukit yang satu ke bukit yang lain, hanya untuk mendapatkan gambar di televisi.

“Vizontele” yang jika diterjemahkan menjadi “televisi” ini kembali menyajikan uniknya cerita-cerita dari Turki. Lewat dua sutradara, Yilmaz Erdogan dan Ömer Faruk Sorak, kita akan diajak menengok hebohnya suatu kota ketika televisi datang untuk pertama kalinya. Yilmaz dan Faruk pandai menyajikan cerita ini, walau dengan banyak karakter yang lalu-lalang di film ini, saya sama sekali tidak terganggu, karena kedua sutradara tersebut mampu menyatukan karakter yang satu dengan yang lainnya untuk melebur ke dalam alur cerita. Setiap karakternya pun, dari Walikota, Emin, sampai penjual semangka sekalipun, bisa menghadirkan keunikannya sendiri dalam cerita, setiap masing-masing karakter punya perannya sendiri. Mereka semua bisa dibilang nyawa untuk membuat film ini hidup dan menarik, selain plotnya yang memang sudah menarik dari awal.

Seperti sudah dikatakan sebelumnya, film ini punya banyak karakter, saya sendiri sempat kebingungan mengenal satu-persatu karakternya. Disinilah peran ajaib Yilmaz dan Faruk, mereka ternyata mampu menjawab rasa penasaran saya. Pertanyaan-pertanyaan mengenai karakter-karakter di film ini mampu terjawab bersamaan dengan bergulirnya cerita dari menit ke menitnya. Jadi awal yang membingungkan itu menjadi unsur “magnet” yang menarik juga, karena saya menjadi betah untuk duduk selama hampir dua jam, menunggu jawaban-jawaban atas pertanyaan saya diungkap sang sutradara. Ketika meninggalkan bioskop pun, yang ada pada akhirnya adalah kepuasan karena sudah terhibur dengan cerita sekaligus puas dengan jawaban yang ditawarkan oleh Yilmaz dan Faruk.

Lalu apa keistimewaan lain film ini? Dari sudut pandang orang yang gampang tertawa, saya menilai “Vizontele” pintar meracik formula komedinya. Kelucuan-kelucuan hadir kadang muncul seperti tidak disengaja, tidak dipaksakan, dan begitu saja mengalir untuk menjadi lucu, yang memang pada akhirnya mujarab memancing saya untuk tertawa lepas. Dari Emin yang latah sampai cucu-cucu walikota yang super-nakal, semua bekerja sama dengan baik dalam misinya memancing kita untuk tergelitikk melihat tingkah pola lucu mereka. Yilmaz dan Faruk juga cerdik menyisipkan dialog-dialog lucunya, tidak murahan dan joke yang pintar. Dari awal film ini tidak berhenti membuat saya tertawa, bersamaan dengan menjadi saksi kehidupan kota yang tenang, damai, sekaligus punya penghuni-penghuni lucu dan unik, termasuk Emin si ahli elektronik. Kelucuan tersebut ditambah “kronis” ketika televisi pembawa “bencana” datang, adegan-adegan lucu pun berlanjut ke level berikutnya. Sebuah obat penghilang stress yang mujarab!

Komedi pintar yang dihadirkan film ini tidak terlepas dari akting-akting cantik yang diperlihatkan masing-masing pemainnya, mereka semua bisa tampil lucu tanpa harus dipaksakan untuk terlihat lucu. Cukup dengan alamiah dan sederhana, kelucuan tersebut dengan sendirinya bisa muncul begitu saja, dengan dialog-dialog yang memang sudah dipersiapkan. Tidak perlu adegan orang bodoh yang jatuh tertimpa tangga atau orang sial yang jatuh dari kursi busa atau adegan komedi kasar, film ini nyatanya mampu membuat kelucuan yang hadir lewat kehidupan sehari-hari, termasuk kehidupan sebuah keluarga di walikota sendiri. Film ini tidak berhenti sampai disitu, puas karena berhasil membuat penonton dan juga saya tertawa terbahak-bahak. Seperti halnya film Turki lainnya, mau itu film depresi atau pun komedi, para sutradara ini tidak pernah lupa menangkap keindahan Turki.

Melalui film-filmnya, kita tidak hanya akan ditawarkan hiburan filmnya namun juga diajak bertamasya, dimanjakan dengan keindahan lanskap-lanskap Turki. Termasuk film komedi yang satu ini, saya terpukau dengan hamparan gunung-gunungnya, walaupun terkesan tandus dan berupa batu-batu, namun dengan begitu sederhana bisa memancarkan keindahannya tersendiri. Film-film Turki sepertinya sudah terbiasa untuk tidak hanya fokus untuk memamerkan kebudayaan mereka lewat film, tetapi juga memperkenalkan keindahan alam negeri mereka kepada dunia. Saya sekilas berpikir, film-film Indonesia kenapa jarang sekali bangga dengan keindahan alamnya, yah? jarang memperlihatkan kalau Indonesia itu layaknya surga yang belum terjamah dunia dan lewat film kita sesungguhnya mampu memperkenalkan Indonesia, tidak hanya Bali yang nyata-nyata sudah jauh lebih terkenal. Kembali ke “Vizontele”, secara keseluruhan film ini adalah hiburan yang lengkap, komedi yang ajaib, drama yang unik, sekaligus akan mengajak kita untuk tersentuh di akhir cerita. Emin benar-benar mencuri perhatian, enjoy!


Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

20 Film Indonesia Wa...
Review - Aach... Aku...
Review - Turbo Kid (...
Review - Indonesia K...