Review: Rayuan Arwah Penasaran

written by Rangga Adithia on May 22, 2010 in CinemaTherapy and Film Indonesia with 13 comments

Saat malam menggantikan siang,  Dengarlah rayuannya Rayuan seram perawan jepang Mengerang marah mencari nyawa

Gw nulis ini dalam keadaan tidak enak badan karena flu, belum mandi, plus sebetulnya nga mood untuk nulis apapun, apalagi nge-review film se-masterpiece karya KKD paling baru ini. Hanya niat dan kecintaan saya pada setan-setan di film ini yang membuat gw masih semangat dan kuat untuk menulis (tulisan ini 100% tanpa rekayasa). Tapi coba tanya apa gw nulis dalam keadaan sadar 100%, hmm apa masih sadar ketika otak ini miring sampai 45 derajat akibat kedasyatan formula cerita yang sekali lagi ditulis dengan brilian oleh sang maestro horor K.K Dheraj. Film “Rayuan Arwah Penasaran” memang layaknya kentut yang tidak bersuara, tapi seperti yang kita tahu, mitos “silent fart” justru adalah yang paling mematikan dari segala jenis kentut (jorok!? malah nulis soal kentut segala, maaf bagi yang lagi makan).

Lanjut soal kentut…haduuh, maksudnya berbeda dengan film pendahulunya yakni “Dendam Pocong Mupeng” yang ramai kontroversi, sampai mengakibatkan filmnya gagal tayang (walau pada akhirnya tayang juga), film kedua KKD di tahun 2010 ini justru anehnya tanpa “gaung” kontroversi yang berarti, yah itu tadi gw memakai istilah kentut sebagai perumpamaannya. Diam-diam, tiba-tiba muncul di bioskop tanpa bisik-bisik tetangga terlebih dahulu, hanya mengandalkan poster untuk promosinya. Trailernya saja tidak dirilis secara umum, hanya ditayangkan di beberapa bioskop “elit” sepertinya. Tapi walau begitu, dari hanya sebuah poster, film ini ternyata masih bisa membuat gw terjebak dengan rasa penasaran (duh gampangnya gw terjebak dengan wangi kentut). Posternya sendiri sudah menyimpan misteri terbesar abad ini, di poster yang lagi-lagi dengan sangat kreatif “terinspirasi” dari poster film lain ini terpampang nama pemain yang tidak bernama. Sebagai gantinya tertulis “Artis Jepang no.1” di poster tersebut.

Di antara tagline film yang tiada duanya, didasarkan kisah nyata, dan si aktris misterius asal Jepang ini, gw pun memberanikan diri untuk menonton film yang juga dibintangi oleh Rahma Azhari ini, sekali lagi dengan modal satu box kantung muntah dan suntikan ajaib untuk menidurkan otak. Maka dimulailah perjalanan gw menuju dunia maha ajaib, ditandai dengan munculnya logo K2K Production yang dipuja bagai berhala. Kita pun diperkenalkan dengan karakter bernama bejo (okay karena gw lupa nama-nama orang di film ini jadi gw putuskan untuk memakai nama yg spontan melintas di pikiran). Bejo ini diceritakan sedang gundah gulana, depresi, patah hati, karena kekasih yang dicintainya hilang entah dimana rimbanya (hutan kali rimba, yuuk). Sejak si bejo bertanya-tanya dimanakah sang kekasih hati yang kata posternya sih artis dari negeri sakura, dia mulai rajin menulis, menumpahkan segala isi hatinya lewat tulisan-tulisan puitis tak karuan dan berantakan tak berisi. Walau sepertinya diperlihatkan menulis 24 jam anehnya si muka bloon ini (serius dari awal kemunculannya nih orang mukanya bloon mode: on) tampak-nya tidak pernah menyelesaikan tulisannya, bahkan satu paragraf pun.

Bejo kayanya nga hanya curhat tentang kekasihnya tetapi kepada film ini, kenapa dia bisa-bisanya terpancing untuk bermain di film ini (well, penyesalan memang slalu datang belakangan boi). Satu-satunya yang bisa menyenangkan hati-nya adalah kenangan manis bersama sang kekasih, seperti bercumbu mesra di kamar dan mandi bersama lengkap dengan buih-buih cinta sabun mandi. Itulah kenapa gw namain dia “Bejo” abisnya yang diinget yang jorok-joroknya doang (bejo=bengong jorok). Lucunya memori-memori multi-mesum-nya si bejo itu dituliskan di “curhatan” ibarat sedang merajut kisah manis sehidup semati ala film-film romantis romeo dan juliet saja. Lanjut, si Bejo juga punya adik perempuan bernama Putri, si adik ini tak kuat melihat kakaknya terus menerus sedih memikirkan Ira kekasihnya (ooowh namanya ira toh).

Ketika permasalahan hilangnya Ira si artis Jepang belum tuntas, muncul lagi masalah lain yang datangnya bukan dari dunia kita, tetapi datang dari kantor K2K, maksudnya dunia gaib. Kedua kakak beradik ini kerap diteror oleh kedatangan setan-setan, entah itu di kehidupan nyata sampai ke dalam mimpi sekalipun. Apakah kemunculan hantu penghuni gerobak bubur ini ada hubungannya dengan hilangnya kekasih Bejo? well gw nga peduli dengan pertanyaan itu, karena gw sendiri sudah punya pertanyaan besar dikepala ini, yakni kenapa Bejo tidak pernah ganti-ganti baju? selain bermuka bloon ternyata dia mengidap penyakit “tidak pernah mandi”. Disinilah kesalahan gw, ketika terlalu fokus dengan kebodohan di film ini, gw jadi tidak konsen memecahkan misteri sebenarnya dan akhirnya KKD sukses membuat gw seperti orang bodoh. Yah KKD kali ini sukses men-twist ceritanya dengan rapih sekaligus menipu gw dengan alur ceritanya. Bravo KKD!

Baju yang tidak diganti, seisi rumah yang gelap, barang-barang dirumah yang ditutup kain putih, dan Bejo yang berbicara bloon dan tidak menghadap ke pembicaranya seharusnya menjadi sebuah bukti yang dengan mudahnya mengarahkan gw kalau dia sebenarnya adalah “engingeng”. Gw jadi tidak fokus juga karena KKD pintar sekali mengalihkan perhatian gw, yang seharusnya kepada cerita tetapi justru kepada adegan-adegan bodoh yang berpola tumpang-tindih, ramai dengan “flashback” hingga otak ini tak kuat lagi menahan gempuran “virus-virus” idiot yang terus menyerang tiada henti (ah alasan aja lo, bilangnya aja kalah sama otak brilian KKD yang berhasil menipu dengan twist supernya). Film ini pun bertambah ramai ketika karnaval hantu-hantu jenaka datang dan bukannya menjalankan misinya untuk menakut-nakuti, mereka justru pintar melucu dan terus saja mengeluarkan joke-joke yang mengocok perut hingga gw menghabiskan banyak kantung muntah (untung stoknya banyak).

Yah bersiaplah untuk parade model-model hantu yang berlenggak-lenggok layaknya di catwalk acara fashion show. Kostum desainer kondang dari kuburan jeruk purut dan make-up hantu dari pohon mangga di depan rumah bang Dheraj siap menghias hantu-hantu yang muncul di film ini. Make-up sempurna hantu yang seperti habis ditumpahkan kuah bakso yang mendidih dicampur bumbu somay basi dengan satu sendok kecap manis dijamin akan membuat anda loncat (saya pun loncat) tapi bukan karena kaget atau takut. Loncat karena terlalu menggelikan melihat hantu muka bubur yang giat mengintip wanita di kamar mandi atau suka banget membuka pintu lalu lari sekencang-kencangnya karena tidak ingin ketahuan (setan sialan mainin pintu terus…lol). Belum lagi cara mereka untuk menampakkan diri tidak kalah seram dengan make-up carut marutnya, ada yang sambil membawa kepala, ada yang tiba-tiba muncul di belakang lalu di zoom kasar, sampai ada kepala yang muncul di kolong meja namun posisinya sungguh membuat simpatik karena terbalik (KKD sudah melanggar hak asasi para hantu, karena sudah menyiksa mereka).

Sudah cukup sepertinya gw membicarakan film ini, karena tidak hanya karena mood gw yang sudah berkurang 80% tapi kenyataan tubuh ini tidak berdaya karena flu ini (uuuuh kesian…ckckckc). Otak gw pun kembali bertambah miring 2 derajat ketika menuliskan review ini, karena teringat kembali betapa “menghipnotis” cara KKD mengemas filmnya. Yah gw tahu dia bukan sutradara, tapi gw lebih nyaman memakai namanya untuk menjadi kambing hitam (bangeeeeeeet) di keseluruhan film. Pengambilan gambar yang bergaya “handheld” goyang disko, ditambah zoom in-out yang seperti berjalan di jalan berbatu, sampai stok-stok adegan yang penuh dengan gambar jalanan, mobil-mobil, orang yang berjalan, sampai banyaknya kemunculan lampu merah (mungkin ini tanda yang berkata kepada gw untuk stop menonton dan keluar dari bioskop sebelum terlambat) kesemuanya sukses menghabiskan satu box kantung muntah yang gw bawa.

Walaupun sudah bilang “cukup” di paragraf sebelumnya, tapi kenyataannya gw masih saja mengetik review ini seolah jari-jari ini tidak mau berhenti (apakah gw dikutuk untuk menulis selamanya tidaaaaaaaaak *backsound dramatisir). Sebelum gw benar-benar mengakhiri tulisan ini dan menuliskan surat wasiat, gw akan berbicara soal artis Jepang yang sama sekali tidak punya dialog di film ini, satu-satunya suara yang keluar dari mulut artis yang katanya bernama Leah Suzuki ini (whatever) adalah suara erangan dan desahan mengganggu, perlu orang yang ahli film-film “desahan” untuk membuktikan apakah artis yang satu ini otentik dari Jepang (serius amat yah gw). Sepertinya film ini sengaja tidak memberikan dia dialog karena takut terbuka rahasia kalau si Leah ini bukan orang Jepang bahkan dari wajahnya saja meragukan. Okay gw akhirnya bisa terbebas dari kutukan ini, dan keseluruhan film ini membuat gw kecewa, bukan karena lagi-lagi film Indonesia di nodai oleh film horor-mesum ala KKD (karena ini sudah pasti) tapi karena film ini level ancur-lebur-rusak-parah-nya masih kurang di mata gw.


Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Iblis (2016...
Review - Train to Bu...
Review - Lukisan Ber...
Review - Ouija: Orig...