Review: Ratu Kostmopolitan

written by Rangga Adithia on May 26, 2010 in CinemaTherapy and Comedy and Film Indonesia with 10 comments

Demi Cintaaaaaaaaaaaaaaaaaaa ~ Supir Taksi

Ratu Kostmopolitan memperkenalkan kita dengan kehidupan anak kost lengkap dengan problematika sehari-hari, termasuk soal makan dan bayar uang kost. Lewat Gina (Luna Maya), Tari (Tyas Mirasih), dan Zizi (Imey Liem), sepertinya kehidupan anak kost yang sudah penuh masalah tersebut akan bertambah menarik saja ketika mereka nantinya akan dihadapkan dengan preman-preman yang membuat onar di lingkungan tempat mereka nge-kost. Gerombolan preman yang berseragam rapih ini diketuai Rido (Reza Pahlevi), tugas mereka adalah memaksa warga untuk menjual rumah mereka dengan harga yang tentu saja sangat murah. Apakah Gina dan kawan-kawan akan diam saja ketika melihat para preman ini mengintimidasi warga, ditambah lagi kenyataan kalau tempat mereka tinggal juga terancam tergusur? Bagaimana juga reaksi para warga kepada para preman?

Film besutan Ody C. Harahap ini sudah mulai beraksi menampilkan humor-humor-nya sejak awal dengan tingkah laku sehari-hari Gina, Tari, dan Zizi. Tari yang memilih untuk menjadi guru aerobik, sepertinya tidak becus mengajar padahal dia punya kewajiban bayar uang sewa kamar kepada Ibu Laksmi (Yatti Surachman). Bukannya mendapatkan uang, Tari justru kehilangan uang karena kecerobohannya mengajar aerobik. Hasilnya dia hanya bisa menangis kepada ibu kost supaya bisa “ngutang”. Begitu pula dengan kedua temannya, Gina yang bekerja sebagai wartawan selalu saja salah menuliskan berita dan Zizi yang berprofesi sebagai seniman tato lebih parah lagi, pelanggannya selalu berakhir marah karena tatonya tidak sesuai dengan keinginan mereka. Ada-ada saja kelakuan tiga cewek cantik ini, cantik-cantik tetap saja “ngutang” bayar kost-nya.

Film ini tidak hanya menampilkan jurus rayuan “ngutang” yang dipraktekkan Gina dan kawan-kawan sebagai siasatnya memancing tawa penonton, tapi juga menambahkan sisi kehidupan cinta yang unik lewat persaingan ketiganya dalam memperebutkan ketua Karang Taruna bernama Seno (Fathir Mochtar). Lewat gaya dan caranya masing-masing dalam mendapatkan perhatian Seno, Gina dan kawan-kawan juga secara tidak langsung bersaing untuk menjadi siapa yang paling lucu di film ini. Komedi pun bertambah ramai ketika ketiga cewek tangguh ini mesti berhadapan dengan para preman berbadan besar dan bertampang sangar. Tapi walaupun punya kriteria preman yang menyeramkan, toh ternyata Ody membalut mereka dengan imut, lihat saja “tarian” wajib yang muncul setiap saat mereka berbaris menuju perumahan warga.

Lalu apakah gerombolan “komedi” yang dijejerkan Ody berhasil mengocok perut saya yang ketika itu sedang kosong bin lapar setengah mati (kenapa saya tidak keluar saja sejak menit pertama). Saya terpaksa dengan todongan sapu di kepala untuk mengatakan bahwa perut saya sama sekali tidak terkocok, mulut ini tidak pernah diam mengomentari adegan-adegan yang punya bunyi mirip jangkrik yang sedang bernyanyi, alhasil saya toh makin merasa saya akan mati kelaparan di dalam bioskop. Akan sangat memalukan keluarga ketika halaman depan surat kabar esok hari bercerita tentang saya yang tewas dengan mulut penuh busa (karena filmnya) dan perut keroncongan (karena lapar). Apa yang disajikan Ody kenyataannya memang tidak membuat saya “kenyang” dan lupa jika saya sedang kelaparan, satu-satu-nya yang menghibur saya justru teman yang duduk di sebelah yang terus melontarkan kalimat-kalimat ajaibnya untuk menghibur saya.

Teman saya itu lebih peduli ketimbang filmnya yang kian giat membuat saya menelan muntah sendiri karena terus dijejali humor-humor yang “merdu” yang kembali berasal dari jangkrik yang kali ini sedang bersiul. Saya tidak akan menyalahkan Ody karena tidak sukses membuat saya tertawa secara ikhlas, tapi saya akan intropeksi diri sendiri kenapa saya tidak bisa tertawa melihat dua orang preman yang terpaksa buang air besar berdua karena tidak tahan lagi menahan serangan obat pencuci perut. Mungkin bagi penonton lain adegan itu lucu tapi bagi saya yang sedang kelaparan, adegan itu hanya mengurangi cadangan lemak yang tertimbun di perut. Alhasil perut ini makin berteriak dan otak ini makin berontak ingin cepat-cepat keluar, tapi karena hati saya masih berbisik “tunggu saja sampai film selesai” maka saya mengurungkan niat saya untuk keluar bioskop. Kenapa saya terus curhat tentang kelaperan yah?

Ketika saya tidak bisa menikmati suguhan komedi, saya kemudian berpaling ke segmen drama yang juga menyusup diam-diam dalam gempuran humor disana-sini. Jika semua komedi dibuang, film ini sebenarnya bercerita tentang perjuangan, dimana Gina dan kawan-kawan berjuang atas apa yang telah dicintainya, tempat kost dan Ibu Laksmi, dan lingkungan yang mereka tinggali. Tapi lagi-lagi ketika saya sedang asyik menikmati para cewek seksi…ups maksudnya drama yang bergeliat, komedi yang memang ditempatkan digaris depan, kembali menggempur pertahanan saya yang lemah. Adegan demi adegan penggelitik urat syarat pun kembali dilancarkan Ody, tapi seperti sebelumnya semua itu gagal dalam misinya membuat saya yang tidak punya urat malu (apa hubungannya) untuk tertawa terbahak-bahak. Padahal saya sudah menuruti apa kata dokter pribadi saya untuk meminum pil-pil yang memudahkan saya ketawa.

Seno yang latah, Rido yang sangar tapi manja ketika bajunya kotor, preman-preman yang berlarian kesana kemari mencari toilet padahal bau-nya sudah kemana-mana, atau aksi duel antara Gina dan kawan-kawan versus Rido dan preman-preman, lalu seluruh warga yang punya atraksi sirkusnya masing-masing. Deretan daftar komedi yang dilemparkan kepada saya tersebut satu-persatu saya coret karena tidak hanya gagal menghibur, tetapi juga keseluruhan kemasan yang sudah kadaluwarsa. Humor-humor yang ditampilkan tidak lagi segar, karena untuk apa saya datang ke bioskop jika saya bisa melihat sajian humor ini di televisi. Formula orang bodoh yang terus jatuh tersandung kotoran lalu tertimpa tangga dan sialnya tercebur ke selokan dan saya dipaksa untuk tertawa.

Dialog-dialog yang melibatkan Gina, Tari, dan Zizi ketika berbicara bahasa daerah pun berubah menjadi bencana ketika kelucuan yang diharapkan tidak sampai ke saya. Mungkin bagi yang mengerti bahasa Bali-nya Gina, Menado-nya Tari, atau Jawa-nya Zizi bisa langsung terpancing untuk tertawa, tapi sayangnya saya hanya bisa mendengar suara mereka ribut tanpa mengerti maksudnya. Mungkin sedikit terjemahan di lain waktu. Secara keseluruhan Ratu Kostmopolitan merupakan sirkus kehidupan yang walaupun ceritanya tersaji ringan dan menarik tapi tidak demikian dengan komedi yang menjadi daya jual utama film ini (termasuk menambahkan Luna dan kawan-kawan). Komedinya justru sangat berat, bukan berat untuk dicerna, tetapi berat memikul beban kekecewaan. Kekecewaan yang datangnya dari ekspektasi saya melihat humor yang menyegarkan.


Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Iblis (2016...
Review - Cipali KM 1...
Review - Don't Breat...
Review - Blair Witch...