Review: Prince of Persia

written by Rangga Adithia on May 27, 2010 in Action and Adventure and CinemaTherapy and Hollywood with 10 comments

I’ve seen it’s power with my own eyes. Releasing the Sand turns back time. Only the holder of the Dagger is aware what’s happened. ~ Prince Dastan

Dastan (Jake Gyllenhaal) tumbuh dari seorang anak miskin yang diadopsi oleh penguasa Persia menjadi pangeran yang tidak hanya akan mewarisi tahta Raja Sharaman, namun juga pejuang gagah berani dan mahir dalam strategi perang. Singa persia yang merupakan julukan baginya bukan sembarang “panggilan” belaka, apalagi ketika Dastan seorang diri berhasil membuka “pintu” kemenangan bagi Persia ketika menyerang kota suci Alamut. Dastan pun disambut dan dielu-elukan layaknya pahlawan perang yang merobohkan tembok kota yang terkenal tak pernah tertembus musuh selama 1000 tahun. Saudaranya Garsiv (Toby Kebbell) dan Tus (Richard Coyle) bangga kepadanya, termasuk Nizam (Ben Kingsley) pamannya dan tentu saja sang Raja sendiri yang datang ke Alamut setelah mendengar kabar penaklukkan tersebut.

Perayaan kemenangan ini layaknya mimpi indah sesaat, karena Dastan justru terbangun dengan sebuah mimpi buruk ketika dia melihat sendiri ayahnya tewas. Raja Persia telah diracuni melalui jubah yang diberikan langsung oleh Dastan sebagai hadiah. Sang singa Persia pun langsung dituduh sebagai penghianat dan pembunuh ayahnya. Dastan yang membantah disebut pembunuh ayahnya sendiri, yang sudah mengadopsinya dari jalanan dan membesarkannya di lingkungan kerajaan yang mewah, lalu melarikan diri bersama dengan putri Tamina (Gemma Arterton). Tamina yang tak lain adalah penguasa dari kota Alamut, terpaksa menolong Dastan yang kenyataannya sudah menghancurkan kotanya karena dia memiliki benda keramat milik kota tersebut. Dastan pun belakangan akhirnya mengetahui jika belati yang selama ini dibawanya adalah pusaka yang memiliki kekuatan dewa. Tamina pun menjelaskan jika benda tersebut bisa mengembalikan waktu dan akan sangat berbahaya jika jatuh ke tangan yang salah, bahkan bisa mendatangkan akhir bagi dunia. Dastan dan Tamina pun terpaksa mengarungi padang pasir, menghindangi kejaran pasukan Persia, sekaligus menyelamatkan “Dagger of Time”.

Setelah Walt Disney Pictures membawa kita berlayar mengarungi lautan luas nan ganas bersama Jack Sparrow dan Black Pearl-nya di franchise Pirates of the Carribean, kini sosok kapten bajak laut nyeleneh tersebut berganti dengan Dastan yang hobi melompati bangunan kesana-kemari. Disney masih bersama dengan produser Jerry Bruckheimer pun mengajak kita kembali bertamasya ke negeri asing, bukan lagi esotika pulau-pulau di karibia, namun negeri yang beraksesoris istana-istana megah di timur tengah lengkap dengan hamparan permadani padang pasir yang hangat. Prince of Persia: Sands of Time jelas disiapkan untuk menjadi amunisi franchise terbaru bagi Disney, dengan mengangkat sebuah judul franchise game terkenal ke layar lebar. Sub judul “Sands of Time” sendiri diambil dari judul seri game ini pada tahun 2003, menandai rilis pertama dari Ubisoft sebagai pengembang yang melanjutkan tahta “Prince of Persia” yang sudah muncul sejak tahun 1989 lewat kreativitas Jordan Mechner sang kreatornya.

Mike Newell yang sebelumnya menyutradarai Harry Potter and the Goblet of Fire, kali ini dipercaya memimpin pasukan Persia ke medan pertempuran film-film blockbuster di musim panas, tentu saja tidak untuk meraup sedikit keuntungan tapi merampas sebanyak-banyaknya kepingan emas dan sudah pasti untuk merebut tahta box office. Saya cukup terkesan dengan pembukaan film ini lewat penyerangan Persia ke kota suci Alamut, tidak hanya untuk pertama kalinya saya disuguhkan ramainya aksi pertempuran disana-sini, tetapi juga kagumnya saya dengan keindahan hasil rekayasa digital untuk kota Alamut itu sendiri. Megah, mewah, dan berdiri kokoh dengan sombong meminta saya untuk hanyut sebentar dalam “keramahtamahan” visual yang disajikan film ini. Sampai akhirnya saya berhasil melarikan diri bersama Dastan, yah apalagi jika bukan untuk fokus kepada cerita dan tidak terlena terlalu jauh melihat visual yang menyihir tersebut.

Pangeran Persia ternyata tidak terlalu mahir dalam urusan merangkai plot yang menarik, berbeda ketika dia diberi pedang, film ini mengemas porsi action-nya dengan maksimal lengkap dengan berbagai duel dasyat Dastan dengan musuh-musuhnya, yah lagi-lagi kita juga akan disajikan atraksi solo Dastan melakukan “Parkour”. Begitu kita kembali dalam alunan cerita, dengan cepat pernak-pernik laga yang mendampingi perjalanan Dastan pun akan menghilang dari ingatan, pertanda penyihir-penyihir Persia yang jahat justru lebih unggul dalam mencuci otak saya untuk melupakan film yang memang mudah terlupakan ini. Ditambah lagi deretan plot yang tertanam di hamparan padang pasir yang gersang, ternyata gagal menghadirkan oase yang menyegarkan.

Apa yang saya bisa ingat dari film ini adalah betapa lucunya aksi Dastan dan Tamina ketika beradu siasat untuk menguasai belati keramat yang bisa membalikkan waktu tersebut. Porsi menarik di film ini bertambah lucu ketika mereka berdua bertemu dengan Sheik Amar (Alfred Molina), yang kenyataannya menyelamatkan film ini dari kekeringan akibat datarnya cerita dan juga lakon tidak menonjol yang dimainkan oleh Gyllenhaal dan Arterton. Molina yang bermain sebagai orang yang menciptakan “Las Vegas” di bukit yang dinamakan “Valley of the Slave” ini justru sukses merebut perhatian saya hanya dengan modal komedi yang pas. Di saat bersamaan Gyllenhaal masih bersusah payah terlihat keren dengan bermain seluncur di pasir dengan latar belakang reruntuhan bangunan batu yang mengancam menimpanya, tetap saja saya tidak terkesan.

Beruntung Arterton bisa mengisi kekesalan saya dengan Dastan yang gemar “menari” diatas kuda tersebut, kecantikan aktris yang sebelumnya terlihat di Clash of the Titans itu telah sukses mendamaikan mata ini, untuk pada akhirnya mengurungkan niat saya mendorong Dastan dari pinggir jurang. Sekarang kekesalan itu tertuju pada pembunuh bayaran yang bangga menyebut diri mereka Hassasins. Jika boleh jujur, para Hassasins yang pemimpinnya hobi memelihara ular sebagai binatang peliharaan sekaligus senjata ini adalah assasins terbodoh yang pernah saya lihat di film. Mereka memang sangat mahir memainkan seni membunuh dengan berbagai senjata uniknya, tetapi secara bersamaan juga sangat mahir dikalahkan. Secara keseluruhan, dari kacamata orang yang tidak pernah bermain gamenya, Dastan dan para penghuni padang pasirnya tidak begitu “menggebrak” sebagai sebuah film yang direncanakan sebagai sebuah franchise, awal yang tidak begitu istimewa dan mudah terlupakan, yang tersisa hanya pasir.

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Talak 3
Review - Deathgasm (...
Review - Dukun Linta...
Review - Before I Wa...