Review: Iron Man 2

written by Rangga Adithia on May 3, 2010 in Action and CinemaTherapy and Hollywood with 11 comments

You come from a family of thieves, and butchers. And like all guilty men, you try to rewrite your history, to forget all the lives the Stark family has destroyed. ~ Ivan Vanko

Kalau ditanya siapa superhero paling narsis di muka bumi ini? Mungkin untuk sekarang saya akan jawab Iron Man, dengan alter ego-nya yaitu Tony Stark (Robert Downey, Jr.). Bagaimana tidak, ketika para superhero dengan susah payah menutupi identitas aslinya –dengan berbagai alasan– Tony Stark justru terang-terangan mengakui dirinya pahlawan berbaju baja. Bukan lagi didepan keluarga atau teman-temannya tapi membuka kedok siapa sebenarnya “Iron Man” ke seluruh pelosok dunia. Tinggal menunggu waktu saja untuk para pembenci keluarga Stark untuk muncul ke permukaan dan mendeklarasikan perang dengan Iron Man. Ivan Vanko (Mickey Rourke) adalah salah-satu dari benih kebencian tersebut. Ditopang oleh dendam pribadi dan kecerdasan yang tidak kalah dengan Tony Stark sendiri, si pria bertato asal Rusia ini menyusun rencana jahatnya untuk mengalahkan Iron Man.

Tidak tanggung-tanggung, Ivan membuat teknologi “arc reactor” yang hampir sama dengan apa yang dimiliki Tony, yang sekarang tertancap di dadanya (alat yang bersinar yang befungsi untuk menopang hidupnya) dan juga jadi sumber kekuatan Iron Man. Ivan pun bermetamorfosis menjadi Whiplash, lengkap dengan pecut beraliran listrik yang siap mencabik-cabik Iron Man. Dilain pihak, Tony Stark yang belum menyadari kekuatan jahat yang sedang mengawasinya, sedang disibukkan dengan para senator di gedung parlemen, yang bersikeras menguasai Iron Man, dengan memaksa Tony Stark untuk menyerahkan teknologi Iron Man kepada negara. Tentu saja Tony menolaknya dengan alasan kuat bahwa dia dan Iron Man adalah satu. Pihak pemerintah pun dibantu oleh Justin Hammer (Sam Rockwell), yang tidak lain adalah saingan dari Stark Industries dalam urusan memasok senjata-senjata canggih ke militer Amerika.

Duet Hammer dan Senator nyatanya tidak berhasil “membujuk” Tony menyerahkan Iron Man yang nyata-nyata telah membuat dunia betah dan berleha-leha dengan kedamaian. Belum selesai urusannya dengan pihak pemerintah, Tony juga harus berurusan dengan masalah yang menyangkut nyawanya. “Arc Reactor” yang selama ini membuatnya hidup, ternyata lambat laun menggerogoti dirinya. Tony sadar dengan racun di tubuhnya yang sudah diambang “mematikan”, dia akan segera kehilangan hidupnya selama-lamanya, jika dia tidak menemukan elemen baru pengganti “palladium”. Kenyataan pahit tersebut akhirnya mencapai klimaksnya ketika Ivan muncul di hadapannya, Whiplash hampir saja membunuhnya namun Iron Man masih sempat mengalahkannya. Tony pun terkejut pada saat mengetahui Ivan memiliki teknologi yang sama dengan dirinya.

“Iron Man 2” yang masih disutradarai oleh Jon Favreau (bermain juga sebagai Happy Hogan di film ini), kembali akan menyuguhkan kita dengan aksi-aksi heroik “pembela kebenaran” Iron Man, tentu saja lengkap dengan pertempuran maha dasyat dan tidak lupa kehidupan pribadi Tony Stark sendiri. Malah bisa dibilang drama kehidupan Tony kali ini diberi porsi yang lebih besar, namun tentu saja tidak melupakan kalau ini film adalah action. Penonton tidak akan rela menonton film superhero yang isinya hanya obrolan-obrolan bikin ngantuk. Maka peran Favreau sebagai sutradara (sekuel pertama untuknya) dipertaruhkan, dan untung saja dia terbukti bisa mengemas film ini menjadi hiburan yang seutuhnya. Lupakan ekspektasi kita akan melihat Iron Man dalam balutan full-action dari menit pertama sampai 124 menit durasinya. Favreau membawa Iron Man ke level yang lebih baik dari sekedar film superhero yang hanya mengandalkan efek dan action.

Favreau berhasil mengajak kita ke dalam sisi “manusiawi” seorang Iron Man, melalui tingkah laku, keonaran, dan terkadang kebodohan Tony Stark. Memperlihatkan kalau Iron Man sebenarnya hanya manusia biasa yang walau dari luar dia adalah superkuat, dari dalam kita akan melihat Tony itu juga bisa rapuh, takut, dan akhirnya depresi. Kematian yang sekarang ada di depan wajahnya menjadi momok menakutkan yang akhirnya memperngaruhi kehidupannya sebagai Tony juga kewajibannya membela bumi sebagai Iron Man. Depresi membuatnya gelap mata dan bertindak bodoh, ketika musuh berdiri menantangnya untuk maju, Iron Man justru tidak melakukan apa-apa, bahkan teman sekarang menjadi lawan. Sisi sensitivitas kehidupan Tony benar-benar ditampilkan apa adanya, Favreau menyajikannya dengan tidak berlebihan dan itulah yang membuat film ini semakin menarik selain segudang adegan ledakan dan letusan peluru.

Favreau sepertinya juga ingin mendekatkan kita melalui drama tidak kacangan dari Tony Stark, sebagai penonton untuk digiring agar lebih dekat dengan tokoh superhero yang kelak akan bergabung dengan Hulk, Captain America, dan Thor dalam Avenger ini. Tidak salah jika nantinya kita akan makin cinta dengan Iron Man dan bersimpati kepada Tony Stark walau dengan sikap semberononya. Bagi saya Favreau sudah berhasil dengan formulanya tersebut, walau banyak juga yang pada akhirnya mencemoohkan film ini karena terlalu banyak omong dan ceritanya menjadi lembek. Tapi sekali lagi, saya sangat cocok dengan cerita yang ditawarkan oleh Favreau. Porsi drama yang bagi saya tidak membosankan ini menjadi satu dengan plot yang bersabahat dan tentu saja menu istimewa di film ini, yaitu efek-efek brilian yang menjadi jaminan akan membuat penonton tercengang dan terhibur.

Berbicara soal efek, Iron Man 2 ditaburi oleh efek-efek yang sangat memanjakan mata. Turun ke lab bawah tanah Tony, kita akan dimanjakan oleh kecanggihan komputer yang diawaki oleh teknologi kecerdasan buatan yang bernama Jarvis. Naik ke permukaan kita akan disajikan duel antara Iron Man dan calon sidekick-nya yang menaikkan adrenalin ke titik penuh sensasi. Terbang ke monako, pertarungan pembuka antara Whiplash dan Iron Man adalah sebuah “fairplay” yang luar biasa. Momen perubahan Tony menjadi Iron Man dari sebuah koper tak ubahnya sarapan pagi dengan cavier dan white wine. Efek yang sangat mewah dan terajut dengan detil istimewa ini pun tak berhenti di awal, namun bergulir sampai ke pertarungan akhir yang benar-benar fantastis. Adrenalin kita akan dibawa terbang dengan kecepatan tinggi dan merasakan sensasi roller coaster yang menggiurkan.

Sajian spesial dari film ini juga datang dari para pemainnya, diluar dugaan Ivan, Hammer berhasil mencuri perhatian disini. Kedua musuh Tony yang diperankan oleh Mickey Rourke (Ivan) dan Sam Rockwell (Hammer) ini tampil maksimal mendukung plot yang ada dengan akting masing-masing yang sangat memuaskan, walau tidak mendominasi jalan cerita. Apalagi seorang Rourke yang tampil meyakinkan sebagai pria Rusia penuh dendam, menakutkan, namun tetap tenang menghadapi semuanya. Kita juga akan diperkenalkan dengan Scarlett Johansson sebagai Natalie Rushman alias Black Widow yang merupakan agen terbaik di Shield yang membantu Tony menyelesaikan masalah-masalahnya. Penampilan memukau Scarlett tidak hanya karena kecantikannya yang dengan mudahnya membius saya untuk tidak mengedipkan mata tetapi juga karena dia juga pandai memamerkan keahlian beladiri dengan super-seksi.

Tentunya bintang yang paling bersinar disini adalah sang Iron Man sendiri. Film ini bisa dikatakan adalah one man show dari seorang Robert Downey, Jr. Peran Tony Stark telah melekat kuat kepada actor yang sebelumnya juga terlihat sangat “Stark” di Sherlock Holmes ini. Sepertinya otak ini sudah membentuk image-nya sendiri, Stark adalah Downey dan sebaliknya Downey adalah cerminan dari Stark. Favreau benar-benar telah memilih pemain yang sangat cocok dan Downey sudah sepantasnya berterima kasih kepada film ini dan Favreau karena berkat Iron Man, namanya kembali terangkat menjadi seorang bintang besar Hollywood. Entah seperti apa jadinya jika Iron Man tanpa dirinya, keangkuhan, kebodohan, kemewahan, gaya nyentrik, tingkah sembrono dan juga lucu, semua hadir jadi satu dari seorang Downey.

Sebagai pembuka atraksi film-film blockbuster di musim panas dan juga perannya sebagai sebuah sekuel, “Iron Man” 2 secara keseluruhan telah tampil memuaskan menghadirkan sebuah tontonan yang menghibur. Dengan kemasan cerita yang diolah sedemikian menarik dengan tempelan-tempelan mengkilau efek-efek spesialnya, film ini juga tidak mengecewakan dan berhasil menjadi tontonan yang nyaman selama 2 jam penayangannya. Tidak sabar untuk melihat Captain America dan Thor nantinya, apalagi kelak akan ada Avenger yang menggabungkan para superhero ini, temasuk Hulk dan Iron Man didalamnya. Enjoy!


Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

15 Film Indonesia Te...
20 Film Indonesia Wa...
Review - Cipali KM 1...
Review - The Girl wi...