Review: A Serious Man

written by Rangga Adithia on May 30, 2010 in CinemaTherapy and Drama and Hollywood with 2 comments

There’s some mistake. I’m not a member of the Columbian Record Club. ~ Larry Gopnik

Soal matematika, yah dijawab dengan rumus matematika, soal fisika, yah lagi-lagi harus buka buku fisika untuk tahu rumusnya. Lalu ketika berbicara soal kehidupan, takdir, dan kematian, apakah ada sebuah rumus baku yang akan membuat segalanya menjadi mudah atau sebuah “shortcut” untuk bisa melompati segmen “tidak indah” dalam hidup. Sebuah rumus yang membuat kita dapat hidup tanpa ujian, pertanyaan, dan soal-soal sepele tentang kehidupan. Apakah seorang professor di bidang fisika seperti Larry Gopnik bisa semudah dia menjawab soal-soal fisika paling rumit, ketika itu melibatkan pertanyaan paling mudah dalam hidupnya? Apakah Larry bisa mendapatkan solusi untuk misalnya mencegah perceraiannya dengan sang istri dengan rumus fisika yang sangat dia kuasai?

Rumus kehidupan memang seharusnya tidak sesulit membongkar rumus matematika atau fisika. Namun dalam pencarian formula yang tepat untuk sebuah rumus yang cocok bagi kita sendiri, kemungkinan itu akan lebih merepotkan ketimbang mengerjakan soal fisika maupun matematika. Karena ini adalah soal hidup, kita tentu tidak menginginkan sebuah nilai F dan gagal dalam hidup, kita tidak ingin punya hidup yang berantakan. Formula yang tepat bisa saja membuat hidup kita sukses, yah bisa juga berakhir gagal tetapi yang terpenting adalah kita sudah mencoba sebaik mungkin untuk merangkai jalan hidup yang sesuai dengan apa yang kita inginkan, tidak ada salahnya mencoba formula berikutnya. Lalu apa yang terjadi ketika kehidupan itu dijadikan sebuah “papan catur” oleh dua orang sutradara kakak beradik Joel dan Ethan Coen, mereka bermain dalam kehidupan Gopnik dengan menggerakkan pion-pion takdirnya dan menentukan langkah dia berikutnya.

“Permainan” ini berlatar tahun 1967 dan berfokus pada keluarga Yahudi di Saint Louis Park, Minnesota. Kepala rumah tangga di keluarga tersebut bernama Larry Gopnik (Michael Stuhlbarg), seorang profesor fisika yang mengajar di sebuah universitas. Rumitnya rumus-rumus fisika yang dia ajarkan ternyata tidak sebanding dengan hidupnya sebagai seorang suami, ayah dan juga dosen. Istrinya Judith (Sari Lennick) menginginkan perceraian untuk bisa menikah lagi dengan Sy Ableman (Fred Melamed), yang tak lain adalah teman Larry. Kedua anaknya, Danny (Aaron Wolff) memiliki kebiasaan buruk menghisap ganja dan selalu merengek kepada ayahnya tentang antena televisi yang tidak berfungsi. Lalu Sarah (Jessica McManus), lebih senang pergi keluar ketimbang dekat dengan keluarga, ditambah dia mencuri duit ayahnya untuk operasi kecantikan.

Soal-soal rumit Larry tidak berhenti sampai disitu, Larry terpaksa harus pindah dari rumah dan tinggal di sebuah motel dan tentu saja dia kembali harus membawa kakaknya Arthur (Richard Kind), yang sebelumnya tinggal bersama di rumah. Arthur pun nantinya hanya akan menambah masalah bagi Larry, berurusan dengan polisi dan perjudian. Di kampus, Larry juga terjebak dengan masalah anak didiknya yang gagal dalam ujian dan mencoba menyuapnya dengan seamplop uang. Clive (David Kang), si murid yang gagal ini ternyata tidak mengakui jika dia sudah memberinya uang. Belakangan ayahnya juga turut campur dengan mendesak Larry untuk meluluskan anaknya atau dia akan menuntut Larry ke pengadilan atas uang suap yang diterimanya. Bagaimana Larry menyelesaikan masalah-masalahnya? Apakah rumus-rumus fisika dan matematika dapat membantu menjawab soal-soal rumit yang sekarang hinggap dalam hidupnya?

Berbicara soal judulnya “A Serious Man”, ternyata filmnya sendiri tidak seserius itu, dalam artian saya tidak harus menyentuh tombol konsentrasi penuh untuk menyala agar bisa menikmati karya The Coen Brothers ini. Kenyataannya saya tidak harus berusaha keras untuk mengerti apa yang coba ingin disampaikan oleh Joel dan Ethan, karena toh pada akhirnya sepanjang film bergulir dari menit ke menitnya, film ini lah yang berbicara kepada saya melalui Larry si karakter utama. Layaknya mata kuliah tambahan, Larry mengajak saya untuk mengerti apa yang sedang terjadi dalam dirinya, bukan melalui soal-soal rumit yang harus dikerjakan dengan rumus fisika super-duper susah, melainkan lewat penjelasan “bersahabat” dari adegan demi adegan yang terikat dengan solid di film ini. Larry tidak lagi berbicara sendiri dengan kapur dan papan tulis seperti halnya dengan murid-muridnya di kelas, sebaliknya dia akan memandang langsung kepada penonton dan langsung bercerita, apa adanya dan secara bersamaan mengikat saya dengan film ini.

Walau padat menceritakan segala tentang kehidupan keluarga Yahudi, saya sama sekali tidak terganggu dengan segala tradisi dan bahasa Yahudi yang menghias pernak-pernik di film yang mendapat nominasi film terbaik di ajang Oscar yang lalu ini. Sebaliknya saya justru menikmati mendapat pengetahuan tambahan tentang tradisi Bar mitzvah dan lain-lain yang bisa disaksikkan film ini. Coen Brothers juga tidak hanya mengisi filmnya dengan segala hal yang berbau Yahudi, tetapi juga ternyata bisa menghibur saya dengan beberapa sisipan komedi. Tetapi jangan bayangkan kakak beradik ini menyajikan sajian humor “murahan”, saya sedikit bersusah payah untuk bisa menangkap momen lucu dari dialog-dialog yang diucapkan Larry atau tingkah polanya agar setidaknya terlukis sebuah senyuman manis di wajah saya ini. Adegan percakapan Larry dengan seorang Rabbi yang bercerita tentang dokter gigi yang menemukan sebuah ukiran bahasa Yahudi adalah salah satu momen yang bisa membuat saya tertawa.

Coen Brothers ternyata tidak hanya sukses membuat saya “terhibur” dengan karakter Larry, cerita, dan juga komedi. Mereka juga sanggup membuat saya terjerumus dalam mood yang pas, kadarnya tepat untuk nantinya saya dengan asyik melahap rumus-rumus menyenangkan dari Coen Brother. Apalagi ketika pembangun mood tersebut, teracik sempurna lewat sajian pembukaan tentang “dybbuk” (arwah penasaran), yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan kisah Larry. Tapi cerita singkat yang meninggalkan pertanyaan-pertanyaan tersebut berhasil membangun mood yang tertidur di dalam diri saya. Menyiapkan saya untuk tidak terkejut dengan segala lika-liku kehidupan Larry, mood tersebut alhasil membuat saya sangat menikmati film yang berdurasi 106 menit ini. Apalagi ditambah dengan faktor seru lain dari film ini, yaitu berangkat dari permainan akting Michael Stuhlbarg yang sangat memukau dengan dukungan pemain lain yang tidak kalah menarik dalam memerankan lakonnya masing-masing. “A Serious Man” pun ditutup dengan pertanyaan besar di wajah saya sekaligus senyum lebar tanda film ini tidak mengecewakan. Jadi sekarang giliran anda membayangkan wajah saya ada simbol tanda tanya lagi senyum lebar…enjoy!

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

15 Film Indonesia Te...
Review - The Green I...
Review - Surat Dari ...
Review - Cipali KM 1...