Review: A Nightmare on Elm Street

written by Rangga Adithia on May 16, 2010 in CinemaTherapy and Hollywood and Horror with 10 comments

Why are you screaming? I haven’t even cut you yet! ~ Freddy Krueger

Jason Voorhess sudah lebih dahulu bangkit dari tidurnya di dasar danau “Camp Crystal”, si anak mama ini muncul tahun lalu lewat film remake-nya yang tidak istimewa. Begitu pula dengan si pembuat onar “Michael Myers”, Rob Zombie membukakan pintu kamar di rumah sakit jiwa dimana dia dikurung, membiarkan dia bermain dan membunuh orang. Wajar jika teman “seperjuangan” mereka, Freddy Krueger terlihat iri. Maka dari pada muncul film yang mengadu domba ketiga icon horor ini (sebelumnya sudah ada Freddy vs. Jason, bukan hal yang mustahil kelak akan ada film berisi trio pembunuh ini saling beradu mimpi buruk), Freddy berinisiatif mengadu pada orang-orang di Platinum Dunes. Curhat Freddy sepertinya membuat mereka tersentuh, maka tidak lama kemudian Freddy kembali ke layar lebar. Sial bagi Freddy, dia harus mengulang kembali apa yang pernah dilakukannya di tahun 80-an, karena “A Nightmare on Elm Street” kenyataannya adalah produk daur-ulang yang terkemas baru. Sabar yah Freddy!

Cerita bermula ketika seorang bernama Dean Russel (Kellan Lutz) melakukan bunuh diri di sebuah restoran, semua orang memang menyangka kematiannya wajar. Tapi faktanya, pemuda yang terlihat sudah tidak tidur beberapa minggu ini, tengah dihantui sesuatu. Seseorang yang misterius, mengenakan topi dan baju hangat bergaris-garis, lengkap dengan senjata pembunuh berupa jari-jari bermata pisau, mendatangi mimpinya. “Jika kita mati di mimpi, kita akan mati di dunia nyata” seperti itulah pesan awal Freddy sebelum dia menghabisi “mangsa”-nya yang lain. Kematian Dean ternyata bukan yang terakhir, Freddy mulai mengunjungi anak-anak muda lainnya. Nancy Holbrook (Rooney Mara) dan kawan-kawannya yang senasib bermimpi hal yang sama –Freddy yang ingin membunuh mereka ketika tertidur– ternyata terikat benang merah dengan Freddy, sebuah misteri di masa lalu bertanggung jawab memicu mimpi buruk ini. Nancy pun dipacu untuk berlomba dengan maut untuk mengungkap misteri munculnya pria berwajah “lucu” ini, tentu saja sambil melihat satu-persatu temannya bersimbah darah.

“1,2 Freddy is comin’ for you… 3,4 Better lock your door…” penggalan kata-kata magis dari lagu hits milik Freddy Krueger ini ternyata sukses membuat saya tertidur lelap dan bermimpi buruk tentang keseluruhan film yang berubah menjadi buruk, seburuk wajah Krueger. Ketika Nancy dan kawan-kawan berjuang setengah mati untuk tidak tidur, apa pun akan mereka lakukan demi terbangun dengan mata terbuka, dari memasang alarm sampai menyuntikan cairan adrenalin ke dalam tubuh mereka. Tapi tetap saja, bisikan Freddy lebih manjur untuk membuat mereka terlelap mimpi lalu terbangun sudah berada di peti mati. Saya tidak harus melakukan itu semua, tidak perlu membakar pergelangan tangan hanya untuk terbangun dan terlihat keren seperti anak emo dengan sekeliling mata terhias hitam (alias kurang tidur). 15 menit awal film terbukti sudah berhasil membuat saya menguap, bukan karena saya menonton jam tayang di malam hari, tapi karena film besutan Samuel Bayer ini manjur membuat kantuk layaknya pil tidur murahan.

Sutradara yang sebelumnya kerap menyutradarai video musik, termasuk band Marilyn Manson ini, sepertinya lupa waktu antara memberikan pemanasan untuk penonton dan memasukkan penonton ke dalam cerita. Kenyataannya, bagi saya Samuel menjatahkan kita untuk melakukan pemanasan terlalu lama, saya tidak ingin terlihat kejam tetapi porsi pemanasan yang membosankan menghabiskan lebih dari setengah durasi. Freddy… oh Freddy! ternyata dia tidak puas menghukum para remaja kurang tidur ini, dia justru melampiaskan kekesalannya karena bajunya terlalu sempit dengan mengajak kita juga ke mimpi buruknya. Sebuah mimpi paling membosankan yang pernah diciptakan seorang Freddy, sepertinya dia telah kehilangan kreativitasnya membuat kita mengompol karena ketakutan hanya dengan melihat bayangannya di depan pintu kamar. Freddy berubah dari pria menyeramkan yang siap menyajikan menu santap malam yang mengerikan, menjadi pelayan restoran bertopi murahan yang hanya mampu menyajikan makanan basi.

Lupakan tentang plot tidak menyegarkan, tidak istimewa, dan tentu saja mudah diprediksi dari awal. Ditambah saya tidak merasa nyaman mengikuti langkah Freddy dari menit ke menitnya, saya seperti dipaksa untuk enjoy tapi pada dasarnya saya sudah “tertidur” dari sayatan pertama Freddy. Mari kita simak bagaimana cara Freddy membawa film ini ke level tegang dan tingkat horor yang sesungguhnya. Freddy pintar muncul dimana-mana dengan tambahan efek musik yang mengagetkan, tapi sayangnya lagi-lagi formula yang dipakai Samuel adalah produk basi yang sudah dipakai di ratusan film horor. Jeda antara adegan “kaget” yang satu ke yang lainnya pun diracik tanpa perhitungan, sudah jelas-jelas gagal tapi tetap saja dimunculkan, alhasil hanya menambah nilai minus untuk film ini karena bukannya menakuti, Samuel sekali lagi berhasil mengganggu fantasi saya akan Freddy yang menakutkan. Ibaratnya Samuel menempelkan kertas bertuliskan “saya tidak seram” di punggung Freddy. Turut berduka untuk Freddy.

Dahulu saya tidak perlu menunggu adegan Freddy Krueger menghabisi “tamu” di mimpi-mimpinya, sebaliknya hanya dengan melihat wajah seram dengan tempelan luka bakar saja, itu sudah membuat saya menutup mata. Image yang sudah terbentuk dari Freddy versi Robert Englund ini sepertinya tidak bisa tergantikan. Mimik wajah pcycho dengan tatapan mata melotot tajam sudah cukup menghadirkan mimpi buruk tersendiri. Sebalik-nya, Jackie Earle Haley terlihat mengecewakan dalam balutan wajah terbakarnya. Film ini mungkin ingin “mencuci otak” penonton dengan tampilan teranyar dari Freddy, tetapi langkah itu gagal dibarengi aksi-aksi tumpul sang monster. Akting Jackie pun tidak menyelamatkan film ini dari kobaran api yang menghanguskan nilai positip filmnya. Luka bakar versi terbaru ini mungkin saja terlihat lebih alami, namun malah terlihat seperti topeng “Scarecrow” yang terjahit berantakan. Saya pun kembali merasa kasihan dengan Freddy, terutama Jackie yang tampaknya kesulitan untuk menyanyikan lagu “nina bobo” nya dibalik riasan tidak nyamannya itu. “9,10 Never sleep again…”

Satu-satunya yang menarik dan membuat saya terbangun dari tidur, sayangnya adalah ketika film sudah mencapai menit-menit akhirnya. Freddy dan sepertinya sudah kesal sendiri dengan filmnya mulai memperlihatkan siapa dia sesungguhnya, dan dunia mimpi yang diciptakannya sekarang mulai membuat saya membuka mata. Dari awal dunia alam bawah sadar milik Freddy ini, memang elemen paling menarik dari film ini, karena berhasil menghadirkan dunia yang aneh dan “spooky”. Samuel tampaknya kini harus pintar membujuk Freddy yang sedang “ngambek” di pojok kamarnya, membuatkan film sekuelnya juga sepertinya bukan ide yang brilian. Jason dan Freddy sepertinya harus segera ikut sesi terapi, karena ulah Platinum Dunes yang sukses membuat dua icon horor legendaris ini menjadi bahan lelucon. No more hide and seek, Freddy!

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - A Copy of M...
Review - Aach... Aku...
Review - Talak 3
Review - Before I Wa...