Review: Bebek Belur

written by Rangga Adithia on April 12, 2010 in CinemaTherapy and Comedy and Film Indonesia with no comments

Dari desa Cibebek datang suatu cerita yang mengerikan yang bakal membuat penonton tegang sampai ingin teriak. Untung kita tidak menggunakan cerita itu untuk film Bebek Belur.

Alkisah tersebutlah dua desa yang saling bertetangga, Cibebek dan Cibulu. Tampak dari luar tidak ada yang ganjil dengan kedua desa tersebut. Tapi tengoklah lebih dalam, maka kita akan menemukan keunikan-keunikan tersendiri dari masing-masing desa. Di Cibebek terdapat band yang mirip sekali dengan GIGI, namun disini berubah nama menjadi GUSI dan permainannya amburadul tak karuan. Desa ini juga memiliki stasiun radio lokal, yang dihuni oleh anak-anak remaja yang unik. Salah satunya yang diperankan oleh Valentino, selain bekerja di toko elektronik, dia juga mengklaim dirinya manajer band gusi dan dipercaya untuk mempromosikan pegelaran musik yang diadakan oleh Pak Sam (Sam Bimbo). Desa tetangga tidak mau kalah, Cibulu punya pasangan cinta sejati layaknya Romeo dan Juliet. Sari dan Dadang sudah memadu kasih selama lebih dari 3 tahun dan akhirnya memutuskan melanjutkan kisah cinta mereka ke jenjang pernikahan, apalagi sekarang Dadang sudah sarjana dan diterima bekerja. Tukang bakso langganan pun jadi saksi betapa mesranya mereka. Walau cobaan menerjang, badai menerpa, atau gerobak bakso menghalangi, cinta mereka sepertinya akan sulit untuk dipisahkan.

Takdir akhirnya mempertemukan kedua desa ini dengan jalan yang tak terduga dan juga becek-berlumpur. Seorang lelaki paruh baya bernama Pak Toro dari Cibebek kebetulan lewat di daerah Cibulu, karena asyik melihat kembang desa, mobil yang ditumpanginya hampir saja menabrak seorang bapak-bapak. Supir Pak Toro ternyata juga ikut asyik menikmati wajah ayu gadis yang belakangan diketahui bernama Sari ini. Terbutakan oleh nafsu, Pak Toro pun menyiapkan “seribu jurus sakti” untuk mengambil hati Sari. Namun pertama-tama dia harus menaklukan orang tua Sari terlebih dahulu. Dengan bersembunyi dibalik nama barunya, Pak Toro yang mengaku bernama Pak Sugi ini, berhasil memikat ibunda Sari yang mata duitan. Melihat Toro yang terlihat kaya, sang Ibu rela “menjual” putrinya untuk dinikahi oleh pria lebih tua yang sebenarnya sudah punya istri di desa asalnya ini. Sari yang sudah cinta mati dengan Dadang, yang berjanji akan melamarnya, tentu saja tidak suka dengan perlakuan ibunya dan tidak setuju dijodohkan. Walau sang Ayah ada dipihak Sari, dia tidak bisa berbuat banyak dan hanya bisa pasrah. Dadang juga tidak bisa melakukan apa-apa ketika melihat rencana masa depannya dengan Sari akan segera hancur oleh kehadiran Pak Toro. Untungnya Dadang tidak sendirian, dia punya teman-teman yang baik di desa Cibebek dan kelak akan membantu masalahnya sekaligus membongkar siapa sebenarnya Pak Sugi.

“Bebek Belur” sepertinya punya cara berpromosi yang bisa dikatakan ajaib, tengok saja poster dan trailer film ini. Di trailernya, film ini dengan iseng menampilkan cuplikan-cuplikan adegan yang tidak jelas sebenarnya ini film apa dan dengan sengaja menutup-nutupi tema dan cerita dengan mencampur adukan berbagai genre ke dalam satu trailer. Lucunya, sempat mengira bahwa “bebek belur” adalah iklan sebuah merk motor, yang sengaja dibuat panjang untuk dipertontonkan di bioskop. Sama dengan trailernya, film ini juga punya poster dengan berbagai versi, yang mewakili masing-masing genre, ada horor, action, cinta, drama keluarga, dan musikal. Sinopsis yang ada juga sama sekali tidak memberikan gambaran jelas akan dibawa kemana film ini. Lalu bagaimana dengan filmnya sendiri? Apakah se-ajaib poster dan trailernya?

Lewat deretan pemain yang membanjiri film bertema komedi ini, tak pelak memang jika pada akhirnya hanya akan menjadi bumerang sendiri bagi Adrianto Sinaga sang sutradara untuk menemukan racikan yang pas untuk filmnya sekaligus memberikan porsi yang cukup untuk masing-masing pemainnya. Sudah bukan rahasia umum, jika sebuah film dengan segudang pemain akan keteteran dengan plotnya sendiri jika tak digarap dengan matang oleh si sutradara, apalagi jika kumpulan pemain tersebut terdiri dari bintang-bintang papan atas (seperti halnya sering dilakukan Hollywood). Bukan perkara mudah mencari formula yang tepat menghadirkan pemain-pemain tersebut untuk sejalan dengan cerita yang ada, membagi porsi peran untuk masing-masing pemain saja mungkin jadi PR tersendiri yang menyulitkan. Kembali ke “Bebek Belur”, secara mengejutkan film yang menghadirkan barisan pemain muda dan bintang-bintang kawakan ini bisa tampil dan menuturkan ceritanya dengan cukup menyegarkan.

Apalagi dengan tambahan opening yang bisa dibilang sukses memancing rasa penasaran penonton, adegan pembuka tersebut dikemas dengan citarasa film-film Hollywood, layaknya ini adalah film action-super-tegang. Menyorot bumi dari luar angkasa, lalu masuk ke dalam, memperlihatkan kota-kota dengan gedung-gedung pencakar langit, rumah-rumah yang berbaris rapih, dan kesibukan manusia yang mendiaminya. Ditambah sedikit adegan perang, adegan pembuka akhirnya mengantarkan kita di sebuah desa nan permai bernama Cibebek. Unik, tapi sayangnya cerita seputar Cibebek dan Cibulu tidak seseru adegan pembuka tadi. Ceritanya lagi-lagi didasarkan romantika cinta dua anak remaja dengan konflik klise, kekasih direbut orang lain plus orang tua tidak setuju karena masalah uang, martabat, dan harga diri. Beruntung Adrianto Sinaga tidak terlena dengan mengandalkan para pemainnya saja –termasuk Didi Petet didalamnya– karena apa yang disajikannya terbukti menghibur, walau dengan cerita yang klise tersebut.

Ringan dalam bercerita, sutradara yang sebelumnya membesut “Hantu” ini , menopang film ini dengan tumpukan komedi yang justru tidak terlihat murahan dan tidak norak. Beberapa adegan lucunya terbukti bisa memancing gelak tawa, setidaknya senyum manis di wajah penontonnya. Ajaibnya Adrianto bisa mengarahkan para pelawak yang biasanya tampil menyebalkan di film-film “kacrut”, untuk tampil lebih baik di film ini. Begitu juga dalam urusan pembagian porsi lakon masing-masing pemain. Walau tidak tampil dengan akting maksimal, Didi Petet, Slamet Rahardjo, Rima Melati, dan Jajang C. Noer yang notabennya muncul sesekali bisa memerankan perannya masing-masing dengan baik. Deddy Mizwar dan Sam Bimbo yang menjadi cameo juga tampil tidak mengecewakan. Secara tidak terduga band Gusi yang diperankan Arman dkk dari Gigi, ternyata bisa menambah kelucuan film ini. Selebihnya para pemain utama yang mondar-mandir mendominasi seperti Torro Margens, Ully Artha, dan yang lainnya juga dapat mengisi perannya dengan akting yang pas dan mendukung film secara utuh. Secara keseluruhan film yang berdurasi 108 menit ini, terkemas menarik dan menghibur dengan komedi yang tidak murahan. Jangan lupakan kehadiran trio Didi Petet, Deddy Mizwar dan Slamet Rahardjo dalam satu scene di akhir film, sebuah sajian penutup yang spesial. Enjoy!

Rating: 3/5

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Surat Dari ...
Review - Warkop DKI ...
Review - Blair Witch...
Review - Under the S...