Review: Alangkah Lucunya (Negeri Ini)

written by Rangga Adithia on April 15, 2010 in CinemaTherapy and Comedy and Drama and Film Indonesia with 11 comments

Itu hasil pendidikan sul, kalo lo nga berpendidikan, lo nga akan tahu kalau pendidikan itu nga penting, makanya pendidikan itu penting ~ Muluk

Sejak lulus 2 tahun yang lalu, Muluk (Reza Rahadian) masih juga belum mendapatkan pekerjaan. Keinginannya untuk membantu sang ayah, Pak Makbul (Deddy Mizwar) dan kenyataan ia sudah dijodohkan dengan anak gadis Haji Sarbini (Jaja Miharja) membuat Muluk sedikit frustasi karena terlalu lama menganggur. Muluk akhirnya menemukan ide untuk beternak cacing, tapi belum apa-apa sudah banyak orang yang mengejeknya. Pintu kesempatan tampaknya baru saja terbuka dan takdir mempertemukannya dengan seorang pencopet cilik. Merasa tertolong karena tidak diadukan ke polisi, pencopet cilik ini mulai akrab dengan Muluk dan dia membawanya ke markas pencopet. Di tempat ini, Muluk diperkenalkan dengan Bang Jarot (Tio Pakusadewo) selaku bos pencopet yang mengurus sekumpulan anak-anak yang pekerjaannya tidak lain adalah mencopet. Lahirlah ide gila yang muncul entah darimana, Muluk mengajak Bang Jarot dan anak-anak pencopet ini untuk melakukan kerjasama dengannya. Sebuah kerjasama yang melibatkan ilmu yang didapatnya dari bertahun-tahun kuliah, yakni manajemen.

Bukan manajemen biasa, melainkan manajemen copet! Muluk menjelaskan bahwa dia akan membantu mengatur keuangan para pencopet, dengan mengelola pendapatan yang dihasilkan pencopet setiap harinya untuk disimpan dalam bentuk tabungan. Sedangkan Muluk sendiri akan mendapat 10% sebagai “upah”-nya. Tidak hanya akan ditabung, si sarjana manajemen ini juga menjanjikan kelak mencopet akan menjadi masa lalu, karena Muluk akan memikirkan usaha yang lebih halal dengan uang simpanan di bank. Awalnya ide Muluk ini tidak begitu saja diterima oleh anak-anak yang sudah “terbiasa” mencopet seenaknya tanpa aturan. Mereka tidak suka diatur-atur oleh Muluk, tetapi manajemen baru ini tetap berjalan dengan didukung oleh bang Jarot, yang sangat percaya kepada Muluk. Melihat anak-anak yang tidak bisa membaca dan menulis, Muluk pun mengajak Syamsul (Asrul Dahlan) yang seorang sarjana pendidikan untuk mengajari mereka. Anak-anak yang sama sekali tidak mengenyam bangku sekolah ini pun diajari ilmu agama, lewat bimbingan Pipit (Tika Bravani) setelah diajak juga oleh Muluk. Apakah kegiatan rahasia Muluk ini akan berlangsung lama? Apakah ayahnya akan mengetahui pekerjaan Muluk yang sebenarnya?

Alangkah Lucunya (Negeri Ini), tidak ubahnya seperti “curhatan-curhatan rakyat yang diproyeksikan ke dalam sebuah film, melalui visi tajam seorang Deddy Mizwar, yang menjadikan film ini sebuah jaminan tontonan yang menarik. Sutradara yang sebelumnya sukses membesut Nagabonar Jadi 2 di tahun 2007 ini, seperti biasa berhasil menyisipkan kritikan-kritikan berani ke dalam filmnya. Dengan cemerlang, Deddy Mizwar dapat membungkus pesan-pesan menusuk tersebut lewat kemasan komedi yang menghibur. Walau disampaikan dengan tidak serius dan dibawakan lucu oleh para pemainnya, namun jangan salah, justru formula seperti ini yang biasanya mujarab menyentil hati nurani kita. Sepertinya tidak ada satu pun yang luput dari kritikan, apalagi ketika berbicara soal para petinggi negeri ini yang duduk di kursi empuk setiap harinya. Dialog-dialog yang hadir sepertinya secara halus menyentil mereka (para pemimpin negeri) yang tidak lagi peduli dengan nasib bangsa ini dan mereka yang “betah” memperkaya diri sendiri, membuang muka dari kenyataan bahwa negeri ini sedang menderita. Mungkin juga kritikan tersebut akan mampir mengetuk hati nurani kita, setidaknya berharap bisa sedikit mengingatkan betapa “lucunya” tanah air yang kita tinggali dari lahir ini.

Pedas terkecap namun manis terucap, secara singkat mungkin seperti itulah film yang juga menghadirkan Aria Kusumadewa sebagai sutradara pedamping ini, menyuarakan pesan-pesan curahan hati rakyatnya. Walau di beberapa bagian terlihat raut marah dan dialog dengan tensi tinggi tapi tetap saja masih terbilang “manis” jika dibandingkan “kepahitan” yang ditinggalkan oleh para perampok berpendidikan di negeri ini. Dengan arahan bang Deddy dan cerita yang diolah oleh Musfar Yasin, film ini mengalir dengan cerita yang sangat bersahabat dalam artian tidak akan membebani otak kita untuk mencerna isi keseluruhan cerita film, toh ini adalah film yang ringan. Kelucuan-kelucuan pun saling berbalas, ada saja dialog ataupun adegan yang cukup pintar untuk memancing tawa penonton. Bang Deddy memang tahu betul bagaimana harus mengesekusi filmnya menjadi sebuah hiburan yang utuh dan kritikan-kritikannya dengan apik melebur menjadi satu bersama jalinan cerita dan suguhan komedi yang jauh dari kesan murahan. Film ini bertambah cantik dengan pengambilan-pengambilan gambar yang sangat Indonesia-sekali, menyorot tajam dan menggambarkan sudut kota yang sering terlupakan dengan “kuas” carut-marut apa adanya, hasilnya adalah sebuah lukisan yang jujur.

ALNI (menyingkat judul filmnya) juga didukung oleh pemain-pemain yang mahir dalam berakting dan dengan sederhana dapat melakonkan peran mereka masing-masing, manis- semanis filmnya. Selain Deddy Mizwar yang juga ikut meramaikan film ini, hadir juga Slamet Raharjo, Jaja Miharja, Tio Pakusadewo, dan Rina Hassim yang aktingnya tidak usah dipertanyakan lagi. Apalagi Tio Pakusadewo yang nampaknya sangat menjiwai perannya sebagai bos copet, dengan wajah yang mendukung ditambah seram dengan salah-satu bola matanya yang berbeda. Reza Rahadian, Tika Bravani, dan Asrul Dahlan yang mewakili generasi muda, juga bisa mengimbangi akting senior-seniornya di film ini dengan bermain cukup baik memerankan Muluk, Pipit, dan Syamsul. Tapi bintang yang paling menyita perhatian justru datang dari kumpulan copet-copet cilik, entah darimana bang Deddy dan kawan-kawan menemukan aktor-aktor kecil yang nyata-nyata bisa dengan luwes dan polos berakting di depan kamera. Komedi-komedi yang hadir juga sering muncul dari tingkah pola dan kata-kata yang terucap dari mulut mereka. Secara keseluruhan ALNI bisa diartikan sebuah cermin besar yang merefleksikan “kelucuan” negeri ini dan sebuah pesan sederhana bagi kita sebagai rakyatnya.

Rating: 3.5/5

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Turbo Kid (...
Review - Cipali KM 1...
Review - Lights Out
Review - Rumah Malai...