Review: te[rekam]

written by Rangga Adithia on March 20, 2010 in CinemaTherapy and Film Indonesia with 10 comments

Piring gw pindah ~ Julia Perez

Setelah mencoba menu slasher tak berbumbu di “Affair” besutan Nayato, kali ini sebuah tema film yang asing dan baru diperkenalkan ke khalayak ramai oleh “Keramat”, menyita perhatian Koya Pagayo lewat filmnya “Terekam”. Film-film sejenis dengan embel-embel “found footage” ini sebetulnya bukan sesuatu yang baru di dunia perfilman, gaya yang juga disebut dengan “mockumentary” ini jelas-jelas sudah lama menulari beberapa film horor di luar negeri. Contoh yang paling gampang adalah “Paranormal Activity” yang belum lama ini sempat dibicarakan banyak orang dan disinggung sebagai film horor terbaik tahun lalu, tidak hanya laku di Amerika Serikat, film yang punya bujet kecil ini ternyata juga digemari di tanah air. Jadi wajar saja, jika gaya yang punya ciri khas “shaky camera” akhirnya masuk juga menyapa perfilman lokal khususnya horor, sudah saatnya sajian horor tanah air punya alternatif hidangan berbeda, tidak itu-itu aja. “Keramat” terbukti sukses mengusung tema horor dengan gaya “mockumentary” ini, walau memiliki kekurangan disana-sini, film ini jelas sudah punya konsep yang matang dan teresekusi dengan baik lewat penyutradaraan Monty Tiwa (duh kok jadi ngomongin film lain, okay keramat akan gw review next time, sekarang fokus ke terekam).

Berdasarkan kisah nyata diceritakan Olga Lydia (untuk catatan semua pemain memakai nama asli di film ini untuk memaksimalkan keasliannya) sedang mencoba membuat film horor dengan bantuan dua orang temannya Monique Henry (dia main juga di film Nayato Affair lho) dan juga Julia Perez. Maka berangkatlah mereka berdua –kecuali Jupe yang kemudian datang belakangan– ke sebuah rumah yang direkomendasikan oleh teman Olga bernama Siska. Tanpa berpikir macam-macam atau punya firasat buruk apa-apa (atau mengira mereka salah rumah), Olga dan Monique pun masuk, lalu berkeliling rumah yang terlihat tua dan tidak terurus tersebut. Dari keadaan rumah yang berantakan dimana-mana dapat dipastikan tempat ini memang sudah lama tidak ditinggali, hal tersebut makin membuat Olga semangat membuat film horor yang sudah dia rencanakan dari awal. Selain merencanakan untuk menginap dan menyelesaikan skenario filmnya, Olga juga punya ide untuk membuat semacam video behind-the-scene. Kamera-kamera yang sudah dibawanya pun dipasang di sudut-sudut strategis di dalam rumah yang punya tiga kamar mandi ini. Olga berpikir mungkin dia bisa menangkap momen aneh di rumah ini dan kamera bisa langsung merekamnya. Jupe datang dan horor pun dimulai.

Keanehan satu demi persatu bermunculan, suara aneh, sosok misterius yang muncul tiba-tiba, sampai mangkok yang berpindah dengan sendirinya. Namun itu semua mendapat respon tidak serius oleh mereka bertiga, walau rasa paranoid jelas terlihat di raut wajah mereka dan ketakutan itu mulai hinggap, tetap saja Olga dan kawan-kawan menganggap keanehan tersebut hanya “angin lewat”. Semua berubah menjadi mencekam, ketika pada keesokan paginya salah satu dari kamera “pengawas” menangkap sosok hantu di kamar yang ditempati oleh Jupe. Barulah sekarang mereka percaya bahwa rumah yang punya kolam renang seperti kuburan dan sumur tua ini, benar-benar berhantu. Pertanyaannya sekarang apakah Olga, Monique, dan Jupe berhasil keluar dari rumah itu dengan selamat? (tentu saja iya selamat, toh tidak ada berita mengejutkan tentang mereka di infotainment). Film ini dengan congkak, mengklaim sebagai film yang nyata, diperparah dengan sebuah pernyataan yang menyebutkan setelah kejadian tersebut, Olga meminta bantuan Koya Pagayo untuk mengedit footage-footage yang dia miliki dan blablabla maka jadilah film ini agar bisa disaksikan penonton.

Ternyata si sutradara tidak bisa lepas dari kutukan “berdasarkan kisah nyata”-nya. Jika “Keramat” bisa lebih jujur dalam mengemas filmnya dan tetap fokus pada bagaimana membuat takut penonton dengan cara yang menarik, beda halnya dengan film yang dari judulnya sudah “terinspirasi” dari film asal Spanyol. “Terekam” terlalu berlebihan dalam menampilkan aura takut yang ingin disampaikan. Kesalahan pertama film ini sudah jelas dengan memakai aktris-aktris yang sudah terkenal, terlebih lagi dengan kemunculan Jupe yang super-disturbing. Jika kebanyakan film-film bergenre serupa (dan juga “Keramat”) memakai aktor/aktris kurang terkenal untuk menambah “real” filmnya, tidak dengan film yang juga menampilkan Ruben Onsu diawal film ini. “Perek-am” (sebaiknya ganti saja judulnya) justru membawa Jupe yang sudah sering terlihat di televisi, di film ini parahnya tak ada kesan simpatik yang bisa mempengaruhi penonton (gw berharap dia diculik hantu dan dibawa ke alam gaib), entah akting atau memang keseharian Jupe yang memang cablak (banyak omong), perannya luar biasa sangat mengganggu mata dan pendengaran ditambah dengan buah “melon”nya yang selalu tampil menonjol. Akting kedua pemain lainnya juga tidak menyelamatkan film ini, karena ketakutan yang ingin disampaikan melalui tangis dan teriakan mereka gagal tersalurkan dengan sempurna ke penontonnya.

Jujur selama menonton ini muka gw datar-se-datar emoticon ym “straight face”, tidak ada takut dan tidak pula tertawa, dalam hati gw terus menantang Koya untuk membuat gw takut, tapi hasilnya nihil. Bukan takut yang gw dapati tapi justru gangguan pendengaran yang disebabkan efek suara yang ditambah-tambahkan dengan terlalu berlebihan oleh Koya. Menonton film ini tidak ada bedanya dengan film-film horor Koya sebelumnya, yang membedakan cuma cara dia mengambil gambar. Dengan cerita “copy-paste” yang tanggung (ada dvd rec diawal film dan ada adegan kamar tersembunyi lengkap dengan tape recorder) dengan plot klise yang membawa embel-embel dibalik layar, film ini masih jauh dari kata menakutkan. Tapi diakui (ngaku juga nih yee) kali ini Koya pintar memilih lokasi filmnya, rumah tua ini memang sangat mendukung, setidaknya gw merasakan merinding hanya dengan melihat ruangan-demi-ruangan di film ini (bukan karena penampakan). Namun sungguh sangat disayangkan, Koya mengemas dengan berantakan dan aura “spooky” dari rumah hantu tersebut jadi tidak terasa maksimal. Apalagi dengan hanya dibuat berantakan seadanya tanpa konsep “rumah ditinggal” yang sebenarnya seperti apa. Jika saja film ini bisa minus efek suara, pemain tidak terkenal, dan juga pola penampakan yang diatur seminim tapi efisien, mungkin akan mengubah segala penilaiannya. Film dengan alur cerita rumah berhantu seperti ini sebenarnya selalu punya kesempatan untuk menjadi hidangan horor yang spesial, tapi untuk yang kesekian kali kita hanya akan dikenyangkan oleh kekecewaan.

Rating 1/5

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

15 Film Indonesia Te...
Review - The Green I...
Review - Ghost Diary...
Review - Lukisan Ber...