Review: The Haunting in Connecticut, Autopsy, The Soloist, Harry Potter and the Half-Blood Prince, Rise of the Dead.

written by Rangga Adithia on March 13, 2010 in CinemaTherapy with no comments

Haunting in Connecticut, lumayan bagus sebagai film bertemakan horror dengan setting rumah berhantu. Kisahnya sendiri juga berdasarkan kisah nyata jadi agak bikin gw merinding juga dan berpikir “gila ada juga kejadian kaya gini di dunia nyata”. Tidak hanya menawarkan ketegangan lewat adegan-adegan horrornya, film ini juga ditempeli drama lewat kisah keluarga yang harus berjuang dengan anak mereka yang terkena kanker. Jadi tidak asal horror yang cuma bertujuan menakuti saja, dramanya cukup mendukung jalan cerita yang ada.

Persentase horror film ini cukup lumayan, beberapa adegan mengagetkan dan menyeramkan disiapkan dengan baik untuk membuat kita kaget atau takut. Walau memang adegan “kaget” terkadang sudah bisa ditebak, alhasil gw kaget bukan karena adegannya melainkan karena musik horror “jreng..jreng…jreng” tipikal film-film sejenis .

Dramatisasi horror yang sudah di bangun dari awal film memang lumayan bikin gw enjoy nontonnya, tapi sayang juga beberapa pengungkapan misteri yang ada, lumayan membuat gw sedikit bosan…walau tidak sampai bikin gw mao skip film sampai ke ending. Setidaknya film ini punya kejutan yang menarik di akhir. So overall film ini tidak terlalu jelek bagi gw, dengan akting para pemainnya yang biasa saja dan drama yang lumayan, cukuplah jadi tontonan di malam hari plus lampu dimatikan dan suara speaker di besarkan.
———————
Rating 3/5

Sekelompok remaja mengalami kecelakaan sepulangnya dari pesta Mardi Gras. Shock dengan kecelakaan ini, tiba-tiba mereka juga dikejutkan dengan sesosok tubuh yang berada di bawah mobil mereka. Di tengah kepanikan, kebingungan, dan kepanikan yang menimpa mereka, entah darimana muncul mobil ambulance yang secara kebetulan menemukan mereka. 2 orang didalam ambulance ternyata memang sedang mencari pasien yang kabur dari rumah sakit mereka. Pasien itu adalah orang yang terbaring di bawah mobil para remaja itu. Si Pasien pun diangkat ke ambulance, dan para remaja pun ikut menuju rumah sakit.

Sudah bisa ditebak, rumah sakit yang terlihat normal dari luar, ternyata menyimpan misteri di dalam. Autopsy memang bukan film slasher yang masuk kategori bagus, tapi apa yang ditawarkan film berbujet rendah ini masih bisa dibilang lumayan dan tidak terlalu jelek-lah. Film yang menghadirkan Robert Patrick si T-1000 dari film Terminator 2 ini, memang tidak menyuguhkan formula cerita yang baru, plot khas slasher yang mengutamakan kejutan-kejutan dan adegan-adegan sadis, namun minim cerita bagus. Akting yang bagus di film ini datang bukan dari para pemain utamanya, yang jelas-jelas biasa saja. Malah yang terlihat bagus adalah salah satu pasien di rumah sakit yang notabennya adalah figuran.

Adegan gore dalam film yang masuk kategori B-movie ini, masih terlihat “bohongan”nya, kebanyakan malah tidak terlalu sadis, tapi ada beberapa yang bikin jijik dan kaget juga sih. So secara keseluruhan, dengan ekspektasi rendah, film ini masih bisa dinikmati walau tidak ada yang “luar biasa” didalamnya. Satu-satunya adegan yang memorable berada di akhir film, yang jujur bikin gw… “wow…keren juga nih”. Selebihnya gw hanya mengikuti setiap adegannya yang gampang ditebak ini. Enjoy!!!
—————
Rating 2.5/5

Lumayan lah buat ukuran film yang didasarkan kisah nyata, walau menurut gw nga ada yang spesial sama film ini. Akting kedua tokoh utamanya juga lumayan membuat film ini hidup, nga monoton. Apalagi peran si Jamie Foxx sebagai musisi dengan biola 2 senar bernama Nathaniel Ayers, cukup baiklah, dia emang cocok yah meranin peran-peran musisi. Robert Downey Jr yang berperan sebagai Steve Lopez, seorang Jurnalis yang akhirnya berteman dengan Nathaniel ini juga nga jelek-jelek amat, cukup mengimbangi peran Foxx.

The Soloist, menghibur gw dengan musik-musik klasik yang dihadirkan di film ini, momen terbaik film ini yah ketika gw bisa mendengar alunan musik dari orkestra atau gesekan cello milik Nathaniel. Musik memang nyawa di film ini, seperti halnya kecintaan Mr. Ayers pada musik. Secara keseluruhan cukup menikmati film ini, cukup bagus, sebuah kisah persahabatan yang tidak biasa. Setidaknya film ini tidak membosankan bagi gw, dan ingin terus nonton sampai habis, karena penasaran bagaimana nasib si pemusik yang sebenarnya tidak senormal kita. Kenapa yah banyak film-film yang bercerita tentang orang-orang yang jenius selalu saja ditampilkan “tidak normal”? enjoy!!!
——————
Rating 3/5

Gw bukan penggemar novel (karena nga pernah sedikitpun membaca karya JK Rowling tersebut) dan bukan pula orang yang terlalu berekspektasi dengan filmnya. Film Harry Potter series memang bukan favorit gw, dan untuk seri ke ke-enam film petualangan Harry dan kawan-kawannya di dunia sihir berjudul Harry Potter and the Half-Blood Prince ini pun tidak ada yang istimewa buat gw. Mungkin dari sekian seri film Harry yang sudah tayang di bioskop, gw hanya suka yang Order of the Phoenix dan Chamber of Secrets.

Film yang kembali menghadirkan penyihir-penyihir Hogwart versus Kegelapan bernama Voldemort dengan pasukan Death Eaternya ini, dirasa cukup membosannya bagi gw apalagi dengan durasinya yang 2 jam lebih. Plotnya pun serasa lompat-lompat, bikin gw yang tidak mengenal Harry lewat novelnya jadi makin bertanya-tanya karena agak tidak mengerti dengan jalan cerita (ini siapa? itu siapa? lho kok begini? lho kok begitu). Akting para pemerannya pun tidak ada yang berkembang, malah makin terlihat kaku. Hanya karakter Belatrix yang diperankan Helena Bonham Carter saja yang bisa menghibur gw dengan akting yang lumayan oke-lah.

Secara keseluruhan, film ini bagus tapi tidak terlalu sebagus itu. Gw mulai terbangun dari “kebosanan” semenjak 30 menit akhir film. Karena misteri-misteri yang ada di film semenjak awal mulai terkuak dan moment “Farewell” adalah adegan terbaik film ini. Film ini juga lebih mengeksploitasi keindahan Hogwarts yang selama ini tersimpan. Enjoy!!
—————-
Rating 3/5

WTF!!! hahahaha nih film bener-bener salah ngasih judul plus menipu dalam hal cover dvdnya. Karena klo dilihat dari title & cover, jelas menunjukkan klo ini film ber-genre horror dengan zombie didalam-nya alias film zombie gituh. Tapi kenyataannya, film ini hanyalah film horror dengan plot yang aneh dan pastinya low budget. Where’s the zombie, dude??

Rise of the Dead mengisahkan sebuah kota kecil yang tiba-tiba dikejutkan dengan rentetan fenomena aneh. Diawali dengan seorang istri yang menjadi aneh dan membunuh suaminya tanpa sebab. Setelah itu beberapa orang berubah menjadi liar dan mulai memburu satu orang. Ternyata yang diburu ini adalah seorang wanita bernama Laura. Polisi pun mengaitkan pembunuhan demi pembunuhan yang terjadi adalah ulah Laura dan pacarnya. Misteri berlanjut, kejadian yang janggal ini ternyata berhubungan dengan Laura dan masa lalunya.

Tak ada angin tak ada hujan, orang-orang mulai berubah menjadi zombie… tunggu dulu itu bukan zombie, tapi orang-orang yang ternyata “kerasukan” dan bukan terinfeksi virus. Parah, dengan make-up seadanya dan darah seadanya film ini sudah bener-benar buruk. Ditambah dengan akting yang juga se-ala-kadarnya menyempurnakan keburukan film ini. Ceritanya pun tidak bisa diandalkan, tidak menghibur, tidak menyeramkan, lengkap sudah syarat-syarat untuk tidak merekomendasikan film ini untuk tidak ditonton.

Modal gw untuk nonton film ini cuma penasaran, ternyata dibayar dengan kepuasan mencaci-maki film ini hahahahaha. Enjoy!!
—————
Rating 1/5

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Cipali KM 1...
Review - 3 Srikandi
Review - The Wailing...
Review - Rumah Malai...