Review: Princess and The Frog

written by Rangga Adithia on March 25, 2010 in Animation and CinemaTherapy and Hollywood with no comments

I hear you. Now, what’s in it for you? Well, as soon as I dispose of “Big Daddy” La Bouff, then I’m gonna run this town. I’ll have the entire city of New Orleans in the palm of my hand. And you’ll have all the wayward souls your dark little hearts desire. You all love that, don’t you? So, we got ourselves a deal? ~ Dr. Facilier

New Orleans di tahun 1912, seorang wanita sedang membacakan cerita tentang “pangeran katak” kepada anaknya bernama Tiana, dan juga kepada anak seorang teman bernama Charlotte La Bouff. Ketika Charlotte terpana oleh cerita tersebut karena dia pikir sangat romantis, Tiana beranggapan sebaliknya dan meyakinkan dirinya untuk tidak akan pernah mencium seekor katak. Tahun demi tahun berlalu sejak saat itu, Tiana sudah tumbuh menjadi gadis muda yang cantik. Demi mimpi ayahnya untuk mempunyai restoran sendiri, Tiana rela membanting tulang dengan bekerja dua pekerjaan sekaligus.

Di waktu yang bersamaan namun berbeda tempat, Pangeran Naveen tiba di New Orleans dari negara asalnya, Maldonia. Naveen ternyata punya masalah dengan keuangan, karena orang tuanya tidak lagi memberinya uang dengan alasan gaya hidup anaknya. Oleh karena itu, kedatangan Naveen ke kota ini adalah untuk mencari pekerjaan atau menikahi seseorang yang kaya raya. Charlotte yang merupakan anak dari Eli ‘Big Daddy’ La Bouff, orang terkaya di kota tersebut sudah menjadi incaran Naveen, keluarganya pun sudah merencanakan membuat pesta penyambutan untuk sang pangeran. Charlotte pun meminta sahabatnya, Tiana, untuk membantunya menyiapkan hidangan di pesta nanti. Dengan uang yang cukup dari Charlotte, Tiana pun akhirnya bisa membeli sebuah tempat yang akan dia jadikan restoran.

Ketika pesta penyambutan untuk sang pangeran sedang disiapkan, Naveen sayangnya justru tertimpa masalah. Seorang penyihir voodoo telah menipunya dengan menjanjikan akan mengabulkan segala mimpi menjadi kenyataan. Tetapi semua itu adalah bagian dari rencana jahat dibalik kebaikan yang dijanjikan penyihir yang bernama Dr. Facilier tersebut, dengan mengubah Naveen menjadi seekor katak. Takdir pun akhirnya mempertemukan Tiana dengan katak yang ternyata adalah pangeran Naveen di pesta yang diadakan di rumah Charlotte. Naveen pun meminta Tiana untuk menciumnya, karena itu akan membuatnya terbebas dari kutukan. Namun bukannya mengubah kembali Naveen menjadi manusia normal, Tiana justru juga berubah menjadi katak. Maka sejak saat itu Tiana dan Naveen akan memulai petualangannya, mencari cara agar mereka bisa kembali seperti semula. Salah satunya adalah pergi ke pedalaman hutan yang berawa untuk bertemu dengan penyihir baik bernama Mama Odie. Perjalanan penuh keajaiban ini juga di warnai dengan pertemuan mereka dengan buaya yang suka sekali bermain terompet dan kunang-kunang yang romantis. Apakah Tiana dan Naveen akan bisa menghilangkan kutukannya?

The Princess and the Frog adalah sebuah pelepas rindu, setelah asyik bermain dengan 3D dan meninggalkan animasi tradisional 2D pada tahun 2004 (Home on the Range), Disney akhirnya kembali dengan ciri khasnya membawakan cerita-cerita dongeng klasik. Film yang disutradarai oleh John Musker dan Ron Clements (The Great Mouse Detective, The Little Mermaid, Aladdin, Hercules, Treasure Planet) ini menghadirkan kembali nuansa cerita yang menyentuh terbalut dengan indah berkat sentuhan ajaib tangan-tangan para animator Disney. Film yang juga kembali menghadirkan sosok putri ini (setelah sebelumnya Disney menciptakan Snow White, Cinderella, Princess Aurora, Ariel, Belle, Jasmine, Pocahontas, dan Mulan) mengemas ceritanya dengan sederhana melalui petualangan fantasi yang juga diselingi dengan kelucuan dan tentu saja adegan-adegan action yang teracik dengan baik.

Animasi Disney belumlah lengkap jika tidak ada musik yang menemani. Lewat Randy Newman, film ini menjadi spesial dengan musik-musik khas daerah New Orleans, sentuhan jazz yang sangat kental menjadikan iringan score dan musiknya pas untuk melengkapi kisah Tiana ini. Film yang diramaikan oleh Anika Noni Rose, Oprah Winfrey, Keith David, Jim Cummings, John Goodman, Jenifer Lewis, Bruno Campos sebagai pengisi suara ini telah berhasil menjadi tontonan yang menghibur. Mata kita tidak hanya dimanjakan dengan keindahan animasi yang khas, namun juga terhibur dengan cerita yang tidak membosankan. Film yang merupakan animasi ke-49 dari Walt Disney ini sangatlah cocok untuk tontonan seluruh keluarga dengan cerita yang penuh dengan keceriaan. Disney is back!!

Rating: 3.5/5

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Iblis (2016...
Review - Warkop DKI ...
Review - Ouija: Orig...
Review - Rumah Malai...