Review: How To Train Your Dragon

written by Rangga Adithia on March 21, 2010 in Animation and CinemaTherapy and Hollywood with 5 comments

Everything we know about you guys is wrong ~ Hiccup

Sejak film Shrek muncul di tahun 2001, Dreamworks Animation kian melebarkan sayap di dunia film animasi, mendampingi Pixar yang sepertinya masih menjadi patokan para penonton akan sebuah animasi yang berkualitas. Namun tahun demi tahun studio yang punya proyek film pertama “Antz” ini makin membuktikan jika mereka juga perlu diperhitungkan di industri film-film animasi komputer dan bukan tidak mungkin kelak posisinya akan bisa sejajar dengan Pixar. Berbeda dengan Pixar yang setia dengan satu film pertahunnya, Dreamworks Animation lebih banyak mengeluarkan film dengan dua sampai tiga film setiap tahunnya. Dari segi komersial, studio ini boleh bangga, film-film mereka kadang bisa mengalahkan pendapatan seluruh dunia dibanding Pixar dan sejak tahun 2006 berturut-turut filmnya selalu bisa menembus angka 100 juta dolar. “Shrek 2” adalah film paling laris dari Dreamworks Animation dengan angka fantastis lebih dari 900 juta dolar. Wajar saja jika “Shrek” menjadi film “jagoan” untuk tahun-tahun kedepan dan dibuatkan sekuelnya. jika dirasa kisah ogre ini sudah membosankan, tenang saja, karena Dreamworks Animation masih punya “Madagascar” dan “Kungfu Panda” sebagai senjata pamungkas mereka dalam usaha meruntuhkan dominasi Pixar.

Di tahun 2010, Dreamworks Animation mengeluarkan tiga film animasi, kisah viking dan naga dalam “How To Train Your Dragon” akan lebih dahulu hadir menyapa di bulan ini, dilanjutkan dengan sekuel terakhir “Shrek” dan “Megamind”. Film “How To Train Your Dragon” sendiri bercerita tentang sebuah pulau bernama “Berk”. Pulau ini dihuni oleh para viking yang gemar memamerkan kekuatan mereka dan tak pernah takut oleh apapun, bahkan setiap waktu mereka harus siap berperang melawan musuh. Uniknya musuh bebuyutan mereka adalah Naga. Dari naga berukuran kecil sampai naga besar yang mengeluarkan api ataupun racun, yang datang ke desa mereka untuk merampas ternak dan tidak sungkan menghancurkan desa serta membunuh viking. Diantara viking-viking berotot dan kuat ini, hanya Hiccup (Jay Baruchel) yang sepertinya tidak disukai oleh kaumnya sendiri dan berbeda dari viking-viking lain. Hiccup yang masih remaja ini sebenarnya cukup pintar namun sering membuat ulah yang akhirnya makin membuatnya terlihat bodoh dan memalukan di depan viking lain bahkan ayahnya yang notabennya kepala suku, Stoick the Vast (Gerard Butler).

Semuanya segera berubah, ketika Hiccup secara tidak sengaja berhasil “melumpuhkan” naga yang paling ditakuti oleh viking “night fury” dan berhasil menjadi teman naga yang tidak bisa terbang karena kehilangan sayap di ekornya ini. Hiccup pada awalnya berpikir akan membunuh naga ini dan menjadi viking sejati yang dibanggakan ayah dan penduduk desa, tetapi hati nuraninya berbicara lain dan justru menyembunyikan “pertemanan”-nya dengan naga yang diberi nama “Toothless” ini. Hubungannya dengan Toothless ternyata bisa menghadirkan keuntungan tersendiri bagi Hiccup, dirinya menemukan kelemahan-kelemahan naga yang selama ini tidak pernah diketahui. Hal ini dimanfaatkannya untuk bisa tampil cemerlang dalam setiap latihan melawan naga. Selagi ayahnya pergi dalam misinya mencari sarang naga, Hiccup menjadi “selebritis” dadakan di desanya karena berhasil mengalahkan naga-naga dalam latihan yang juga dihadiri oleh anak remaja seumuran Hiccup, termasuk Astrid (America Ferrera) yang menjadi saingannya. Hiccup juga tidak melupakan teman barunya, dengan keahliannya dia membuatkan sayap buatan untuk Toothless. Namun sayap buatan ini tidak akan sempurna tanpa dikendalikan oleh seseorang, maka Hiccup pun menjadi viking pertama yang mengendarai naga. Apakah Hiccup bisa terus menyembunyikan Toothless dari ayahnya? karena peraturan pertama viking adalah membunuh semua naga.

Diluar dugaan film ini mengejutkan tampil sangat menghibur! dengan cerita yang diramu dari novel anak-anak berjudul sama karangan penulis Inggris, Cressida Cowell, “How To Train Your Dragon” menjadi film ke-sekian dari studio Dreamworks Animation yang punya kemasan yang berkesan dan apik memainkan alur ceritanya yang memang klise namun bisa digarap berbeda dan sangat menarik. Duo sutradara Dean DeBlois dan Chris Sanders, yang pernah bersama-sama menyutradarai film kartun Disney “Lilo & Stitch” ini sepertinya tahu betul bagaimana mempermak sebuah cerita anak-anak menjadi sebuah film keluarga yang tak sedikitpun kehilangan jiwa kekanak-kanakannya. Cerita yang lumayan ringan untuk dicerna ini kian bersahabat dengan asupan drama yang betul-betul menyentuh dan tentu saja kisah “from nothing to something” yang boleh dikatakan sangat inspiring. Kemasan cerita yang matang itu disempurnakan dengan visual yang memanjakan mata. Para animator di film ini menciptakan dunia viking terutama design bentuk naga dengan sangat indah dan punya keunikan sendiri. Toothless alias night fury tampil mencuri perhatian di setiap kemunculannya, kelucuan menjadi identitas permanen untuk mahkluk yang satu ini. Bola matanya yang besar menjadi alat komunikasi yang handal menghubungkan film ini dengan para penontonya. Gerak-geriknya menjadi atraksi menggemaskan, mengikat kita untuk makin jatuh cinta dengan teman baru Hiccup ini.

Para cast-nya pun menyempurnakan film ini, Jay Baruchel yang sering bermain dalam film-film komedi remaja, sangat cocok menyuarakan tokoh Hiccup yang memang culun, seperti halnya peran-perannya selama ini di film seperti “Fanboys”. Film ini diramaikan juga oleh suara-suara dari Gerard Butler sebagai Ayah Hiccup, Craig Ferguson, America Ferrera, Jonah Hill, Christopher Mintz-Plasse, kesemuanya tampil maksimal dengan porsi suaranya masing-masing, karakter-karakter di film menjadi semakin punya penokohan yang kuat dan berkesan. Terakhir film yang juga menghadirkan drama antara ayah dan anak ini, di balut dengan alunan musik yang terbilang mendukung setiap adegan demi adegannya. John Powell, yang juga sebelumnya menggarap musik score untuk “Kungfu Panda” bersama dengan Hans Zimmer, berhasil menciptakan musik yang memanjakan telinga, bertalu-talu dengan nyaman mendampingi kita menonton film yang berdurasi 98 menit ini. Secara keseluruhan “How To Train Your Dragon” adalah sebuah paket hiburan yang lengkap. Atraksi yang penuh dengan action mengejutkan dan juga drama persahabatan yang lembut menyentuh penontonnya. Film ini pantas untuk disebut sebagai salah satu film persembahan Dreamworks Animation yang terbaik, racikannya sedap untuk dinikmati seluruh anggota keluarga dan sayang untuk dilewatkan. Enjoy!

Rating 4/5

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

15 Film Indonesia Te...
Review - Aach... Aku...
Review - Indonesia K...
Review - Headshot