Review: Belum Cukup Umur

written by Rangga Adithia on March 11, 2010 in CinemaTherapy and Film Indonesia with 7 comments

Makanya sebelum ngelakuin apapun dipikir dulu pakai otak ~ Brenda

Film yang lagi-lagi terispirasi dari kisah nyata ini (lihat saja posternya) menceritakan kehidupan tiga remaja tanggung yang terpaksa harus terlibat permasalahan pelik karena salah satu dari mereka hamil diluar nikah (apa!! cowo hamil?? woi gw belom selesai cerita nih…!!). Alkisah di kota entah-berada-dimana, kayaknya sih Jakarta, hiduplah Aya, Ares, dan Brenda, ketiganya masih berusia 15 tahun dan duduk di bangku SMA. Ketiga sahabat yang jika namanya disingkat menjadi AAB ini (penting yah gw bikin singkatan…) sudah lama sekali bersabahat, tak terkecuali Aya dan Ares yang sedari kecil sudah berteman. Nah, cobaan pun menerpa, menguji kesetian dan persahabatan mereka. Ares, cowo kikuk yang satu ini adalah korban ujian pertama, apakah dia lulus? sayangnya tidak tuh. Setelah asyik menonton film “dewasa” (klo kata kaskuser BB17), Ares dengan muka penuh nafsu kembali asyik melihat Aya yang saat itu sedang ber-bikini ria. Mereka pun selanjutnya dipertemukan berdua saja di kamar (kata orang dulu, klo cowo dan cewe berduaan, yang ketiga itu setan), tanpa basa-basi dengan bermodalkan saling lihat, mereka pun terbius rayuan setan yang terkutuk untuk melakukan hal yang tidak boleh mereka lakukan (gila panjang banget gw cuma mao bilang “gituan” hahaha). 

Brenda langsung memarahi keduanya, ketika diketahui Aya ternyata hamil (selamat yah Ares, lo bakal jadi bapak, hore!!). “Lo masukin nga?” kata Brenda, dibalas oleh Ares “gw nga masukin sumpah”. Lalu Brenda berbalik bertanya pada Aya “lo liat barangnya kan” kemudian dijawab oleh Aya dengan lemah lembut “liat…” (masukin apaan sih? gw terlalu polos untuk mencerna dialog tersebut). Karena terlalu pusing memikirkan solusi terbaik untuk masalah ini, Aya dan Ares memutuskan untuk memberitahu kehamilan Aya pada orang tuanya. Tapi karena terlalu takut, Ares justru membicarakan kalau mereka mendapat beasiswa bukannya mengaku kalau anak perempuan bernama Aya sudah dinodainya. Well mereka pun harus pasrah memikul beban berat ini sementara waktu sampai film ini selesai. Brenda yang mau tidak mau harus ikut juga memikul masalah sahabatnya, akhirnya punya ide brilian. Cewe yang agak tomboy ini (si Ares aja sempat di tonjok…ckckckc) memberikan jalan keluar untuk menggugurkan kandungan Aya. Akhirnya mereka sepakat untuk pergi ke sebuah rumah sakit, mencari dokter yang mau melakukan aborsi. Bermodalkan ijin menginap di rumah Brenda dan uang seratus ribu rupiah, Aya yang sangat-sangat manja ini mengikuti nasehat sahabatnya untuk aborsi.

(Ceritanya belom selesai) sesampainya di rumah sakit, dokter menolak untuk melakukan aborsi dengan Aya menangis tersedu-sedu dihadapannya, tetap saja sang dokter menolak. Seorang tukang parkir yang baik hati pun menjadi penyelamat mereka, si tukang parkir yang namanya gw lupa ini merekomendasikan untuk menggunakan jasa dukun beranak atau dokter yang mau melayani aborsi. Brenda dan kawan-kawan memilih option kedua yaitu dokter, karena Aya keburu histeris memikirkan dukun beranak. Tapi masalahnya mereka harus menyiapkan uang 2 juta, darimana yah mereka mendapatkan uang? Tentu saja menjual handphone Aya (lebih laku dijual mahal ketimbang handphone kedua temannya). Setelah mendapatkan uang, mereka pun meneruskan perjalanan ke tempat dokter tersebut praktek, ditemani guyuran hujan…(oh tidak hujan lagi…). Entah cerita siapa yang jadi korban untuk dikonversi menjadi skenario cerita “kisah nyata”-nya Nayato. Kali ini ceritanya memang super-duper-ringan, jauh berbeda dengan delapan belas plus yang ngejelimet tak karuan itu. Bahkan Nayato masih sempat lho menyisipkan twist cerdas kedalam film ini (saya nga akan bilang disini, kalau mau tahu sms saya yah, sms balasan yang kalian terima langsung dari hape aku lho..aw..aw).

Sempat berpikir, apakah iya twist yang sangat kebetulan seperti itu bisa kejadian di dunia nyata, ah untuk apa gw berpikir terlalu keras soal twist, toh gw udah cape mikirin kenapa hujan lagi-lagi membasahi film Nayato. Jika pada “Kain Kafan Perawan” Nayato dengan fasihnya mendominasi keseluruhan film dengan tangkapan gambar dari sudut atas para pemainnya, sehingga meng-cover kemolekan tubuh gemulai pemain yang kebanyakan perempuan ini. Kali ini di film keberapa yah ditahun ini (lupakanlah), Nayato kembali menunjukkan kreasi-nya yang tak kalah kreatif, sorot kamera sekarang tertuju pada kaca yang selalu ditutupi butiran-butiran air hujan, dibalik kaca barulah para pemain asyik berakting, yah gw akan maklum dengan dua atau tiga adegan seperti itu (malah gw bisa bilang kreatif juga nih Nayato ngambil angelnya) tetapi kurang ajarnya adegan seperti ini terus saja diulang, walau dengan situasi yang berbeda. Tingkat depresi pun semakin mendidih ketika Nayato menambahkan unsur dramatisasi kesukaannya, apalagi kalau bukan hujan, dari gerimis bubar sampai hujan air mata, pokoknya macam-macam hujan ada disini (ganti saja judulnya menjadi “kok hujan terus”). Seperti tidak puas dengan daya imajinasinya yang semakin kreatif ini, Nayato pun memadu-padankan cinematografi yang sudah ciamik tersebut dengan gaya cerita yang unik. Apakah itu?

Kalau ada yang mengenal film-film komedi remaja ala Michael Cera, sedikit banyak film ini mencoba mengikuti gaya-gaya seperti itu. lihat saja karakter Ares yang punya tipe geek dan punya mobil mini cooper (ini mengingatkan gw pada film Cera, “Nick and Norah’s Infinite Playlist). Karakter Aya yang hamil, hmmm mengingatkan gw dengan cerita Juno, hey bahkan opening Juno yang jelas-jelas amazing itu, dijiplak disini (yah gw akan bilang terispirasi dari opening itu). Mungkin gw salah, mungkin juga benar, tapi rasanya tidak adil untuk membandingkan dua film yang kualitasnya sangat jauh berbeda. Kembali ke filmnya, kita sudah membahas soal cinematografi, yang lebih cocok untuk dimasukkan ke video klip ketimbang film, apalagi ketika suatu adegan tidak ditempatkan pada alur yang sesuai (aduh sekali lagi gw tersandung dan makin serius membahas film ini). Hey!! lihat ada poster “Amelie” dan DVD “My Blueberry Night”!!

Seperti biasa, film Nayato harus punya dialog-dialog yang ajaib, film ini punya setumpuk dialog yang jika dijadikan sebuah karangan ala anak SD, pasti sang guru akan memberikan nilai bagus dengan warna merah terang. Ditambah dialog itu muncul dari karakter bernama Aya, yang manja setengah mati. Yah mungkin jika orang lain mendengar ucapan “ada kecoa”, “ada cacing”, “kok gelap” (karena ini film Nayato, makanya harus gelap, puas!!) dengan gaya sok imut mereka akan suka, tapi tidak dengan gw yang sangat terganggu dengan aksi manja dari cewe yang super-kekanak-kanakan ini. Lalu apakah film ini menghibur? Tentu saja iya, ada satu adegan yang sangat mengibur, hmmm yaitu ketika “credit title” muncul di layar. Memalukan ketika film ini mencoba menggurui kita di akhir cerita, layaknya testimoni, karakter-karakter di film muncul kembali. Seperti orang suci menasehati ini dan itu…kepada penonton, hey harusnya ada satu orang yang pantas diberi wejangan, kalian pasti tahu siapa orangnya. Sampai jumpa di film “Nayato” berikutnya, terekam dan affair, itu juga klo gw ditakdirkan untuk menonton film tersebut. Enjoy…absolutely not!


Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

20 Film Indonesia Wa...
Review - The Invitat...
Review - Lights Out
Review - Telaga Angk...