Review: Where The Wild Things Are

written by Rangga Adithia on February 7, 2010 in Adventure and CinemaTherapy and Drama and Fantasy and Hollywood with 4 comments

There were some buildings… There were these really tall buildings, and they could walk. Then there were some vampires. And one of the vampires bit the tallest building, and his fangs broke off. Then all his other teeth fell out. Then he started crying. And then, all the other vampires said, ‘Why are you crying? Weren’t those just your baby teeth?’ And he said, ‘No. Those were my grown up teeth.’ And the vampires knew he couldn’t be a vampire anymore, so they left him. The end.  ~ Max

Max (Max Records) berbeda dengan anak seusianya yang lain, bocah berumur 9 tahun ini punya imajinasi yang tak terbayangkan dan selalu bersemangat untuk bermain. Namun sayangnya tak ada yang pernah mau diajak bermain olehnya, bahkan Claire, saudara perempuannya sendiri yang justru lebih memilih untuk bermain dengan teman-temannya ketimbang adiknya. Puncaknya ketika teman-teman Claire menghancurkan “rumah salju” yang dibuat oleh Max dan Ibunya yang tidak juga mau diajak untuk bermain. Merasa tidak ada yang peduli dengannya, Max turun kebawah sambil memakai kostum binatang dan meminta makan. Ibunya yang saat itu sedang kedatangan tamu tampak risih dengan kelakuan anaknya yang tidak seperti biasanya lalu terpancing memarahi anaknya. Max mulai berteriak-teriak dan mengigit bahu Ibunya. Max berlari ke luar rumah tanpa tujuan, Ibunya yang mengejarnya dibelakang kehilangan jejak Max, karena ia berlari sangat kencang. Dalam pelariannya, Max sampai disebuah tempat dan menemukan perahu kecil, tanpa pikir panjang dia pun masuk ke perahu tersebut dan pergi berlayar. 

Tidak disangka Max sudah berada di lautan luas, terombang-ambing ombak besar yang menyapu perahu kecilnya sampai ke sebuah pulau. Masih dengan kostum binatangnya, Max mulai berpetualang di pulau tersebut. Petualangannya terhenti ketika dia berpas-pasan dengan beberapa mahkluk besar berbentuk aneh. Salah-satu dari mereka sedang asyik menghancurkan sesuatu, yang belakangan diketahu adalah tempat tinggal mereka sendiri. Sedangkan “monster” lainnya berusaha untuk menghentikan ulah liar temannya bernama Carol tersebut. Tiba-tiba Max memutuskan untuk berlari ke arah mereka sambil berteriak dan mencoba menarik perhatian para monster dengan memukul-mukul apa yang coba dihancurkan oleh Carol. Aksi liar Max berlari kesana-kemari berhasil mengundang kemarahan Carol dan teman-temannya. Max mulai ketakutan ketika mereka berniat untuk memakannya. Max lalu berbohong dan mengaku sebagai raja yang memiliki kekuatan sihir yang hebat. Kecerdikan Max berhasil mengelabui para monster berbulu ini, bahkan kini Max diangkat sebagai raja untuk membawa kedamaian di tempat tersebut.

Where The Wild Things Are, akan mengajak kita berpetulang ke dunia yang liar dan penuh dengan imajinasi bersama Carol, Ira, Judith, Alexander, Douglas, Bernard, K.W, dan tentu saja Max. Film yang memulai produksinya sejak tahun 2005 ini merupakan adaptasi dari sebuah buku anak-anak berjudul sama karya Maurice Sendak. Lewat tangan dan visi yang brilian dari seorang Spike Jonze, buku ini berhasil hidup dan tervisualisasi dengan apik menggambarkan liarnya imajinasi seorang anak kecil bernama Max. Sejak pertemuan pertama kali Max dengan para penghuni pulau saja kita sudah disuguhkan aksi yang benar-benar liar, Carol dan kawan-kawan dengan asyik lompat kesana-kemari dan menghancurkan apa saja yang ada dihadapannya. “Teman” yang benar-benar cocok untuk Max yang sama liarnya dengan mereka walau dengan tubuh kecilnya yang terbalut kostum binatang. Keliaran mereka tak terhenti diawal saja, film berdurasi 101 menit ini nantinya akan didominasi oleh tingkah pola Max dan teman-teman barunya. Penuh canda tawa, permainan seru, dan juga hubungan batin diantara mereka.

Sutradara yang sudah dua kali mengadaptasi karya Charlie Kaufman (Adaptation dan Being John Malkovich) ini tak hanya mengeksplorasi sisi imajinasi liar seorang Max, namun juga handal dalam menambahkan pernak-pernik drama kedalam film ini. Ketika kita tak sadar asyik bermain bersama Max, Carol, dan yang lainnya, kita juga tanpa sadar masuk kedalam dunia mereka. Sama halnya dengan Max yang lambat-laun terikat dengan mereka, begitu juga dengan monster-monster ini kepada Max. Kita sebagai penonton juga akan ikut terikat batin dengan mereka, perlahan kita akan diundang untuk mencintai setiap karakter di film ini dan sepertinya tak akan rela jika persabahatan mereka terpecah. Kejeniusan Jonze dalam memainkan tingkatan emosi dalam film ini begitu terasa, ketika konflik demi konflik mulai dimunculkan ke permukaan. Setiap karakter yang diwakilkan oleh monster-monster berbentuk binatang ini (kambing, banteng, dan lain-lain) mulai memperllihatkan sisi lainnya, begitu juga dengan berkembangnya karakter Max yang makin tertekan ketika dia harus bertahan dengan “kebohongan”-nya. Disinilah film mulai begitu sangat menarik, memanen rasa penasaran ketika film dipaksa naik turun dengan lembut. Perasaan kita begitu diaduk bersamaan dengan beban Max yang semakin berat untuk terus bisa bersama teman-temannya, ketika satu-persatu kepercayaan temannya kepadanya mulai runtuh.

Spike Jonze tak sedikitpun membiarkan kita untuk “bosan”, sajian filmnya kali ini tentu saja selain lebih bersahabat ketimbang film-filmnya sebelumnya juga menyegarkan lewat cara dia bercerita. Film yang bertema fantasi ini juga diramaikan oleh para pemain yang berakting manis dengan baik dapat mendukung keseluruhan film. Terutama Max Records yang berhasil memandu kita kedalam imajinasi karakter Max lewat akting yang begitu cemerlang. Film yang juga menghadirkan James Gandolfini, Paul Dano, Lauren Ambrose dan Forest Whitaker untuk suara-suara para monsternya ini tak hanya indah dalam memvisualisasikan sebuah buku anak-anak, setting-setting yang diperlihatkan film ini juga begitu menakjubkan. Gurun pasir yang luas, hutan yang lebat, dan juga bangunan-bangunan yang kelak didirikan oleh Max dan kawan-kawan begitu mendukung jalan cerita yang sudah terjalin dengan menarik. Entahlah apakah film ini dapat dinikmati oleh anak kecil, karena kemasan film ini terkesan dewasa, apalagi ketika Jonze menambahkan unsur-unsur “dark” dalam ceritanya. Tapi yang jelas melalui film ini, Spike Jonze sudah memberikan pengalaman cinema yang berbeda, begitu menyentuh, dan mengikat dengan caranya sendiri. Tak ada salahnya kapan-kapan kita kembali mengunjungi Carol dan teman-temannya. Enjoy…Let the wild rumpus start! Auuu…Auuu…Auuuuuuu!!

Rating 4/5

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - The Green I...
Review - Surat Dari ...
Review - Train to Bu...
Review - Before I Wa...