Review: The Wolfman

written by Rangga Adithia on February 18, 2010 in CinemaTherapy and Hollywood and Horror with 8 comments

Terrible things Lawrence, you’ve done terrible things ~ Sir John Talbot

Setelah bertahun-tahun tinggal di Amerika sebagai aktor dan pemain teater, Lawrence Talbot (Benicio del Toro) akhirnya kembali ke “kampung halaman”-nya di Inggris. Surat  dari Gwen Conliffe (Emily Blunt) memanggilnya untuk datang ke desa kecil, Blackmoor. Gwen tak lain adalah tunangan adiknya, Ben Talbot, ia meminta Lawrence untuk mencari keberadaan tunangannya yang hilang melalui surat itu. Setibanya di kediaman keluarga Talbot, “sang anak yang kembali” disambut oleh ayahnya, Sir John Talbot (Anthony Hopkins). Lawrence memberitahukan maksud dan tujuan kedatangannya kembali ke rumah yang lama ia tinggalkan ini adalah untuk membantu pencarian adiknya yang hilang. Namun ayahnya justru membalas dengan kejutan yang menyedihkan, Ben, adiknya ternyata ditemukan tewas. Upacara pemakaman pun akan segera dilangsungkan, sebelumnya Lawrence ingin sekali melihat tubuh adiknya untuk terakhir kali. Ben terbunuh dengan mengenaskan, penduduk desa pun meyakini kematiannya disebabkan oleh binatang buas atau mahkluk yang lebih mengerikan. Namun Lawrence tak langsung mempercayai desas-desus tersebut, ia lebih memilih untuk menyelidikinya sendiri. Di dorong oleh janji kepada Gwen, Lawrence bersikeras mencari kebenaran. 

Bermodalkan sebuah medali yang ditemukan di mayat Ben dan rasa penasaran Lawrence yang besar, ia mengunjungi kemah para gipsi. Ben memang sering datang ke tempat itu, oleh karenanya cukup pantas untuk memulai investigasi dari sana. Lawrence bertemu dengan Maleva –yang dipercaya pemilik medali misterius tersebut– yang justru memberikan peringatan akan bahaya besar yang akan menemuinya. Tampaknya, peringatan wanita gipsi tersebut tak lama-lama menunggu untuk jadi kenyataan. Kemah gipsi yang sebelumnya tenang berubah menjadi ladang pembunuhan massal. Mahkluk besar penghuni hutan yang dipercaya adalah sosok manusia serigala menyerang kemah, memangsa dan membunuh siapa saja yang dilihatnya. Lawrence yang berada di tengah pembantaian, tak tinggal diam dan mengambil senjatanya untuk ikut membunuh serigala jadi-jadian itu. Alih-alih berhasil membunuh mahkluk yang cepatnya bukan main ini, Lawrence justru balik diserang dan terkena gigitan. Luka parah yang diderita Lawrence anehnya sembuh dengan cepat, namun semakin hari Lawrence merasakan ada yang berubah dalam dirinya. Keseluruhan inderanya jadi makin peka dan ia sering bermimpi buruk dan berhalusinasi. Apakah Lawrence akan bernasib sama terkena kutukan dan menjadikannya manusia serigala?

The Wolfman, sebetulnya bisa dibilang berhasil dalam menyajikan kisah horor yang menakutkan dan mengejutkan di tiap jengkal adegannya. Tetapi sayangnya film yang merupakan remake dari film berjudul sama tahun 1941, yang sudah lebih dulu terkenal sebagai film horor klasik ini tidak “membayangi” ke-horor-annya dengan cerita yang bisa tampil mind-catching. Padahal remake ini ditujukan untuk mengangkat kembali pamor sang manusia serigala yang telah lama redup. Kenyataannya memang menyedihkan untuk mahkluk berbulu ini, seperti di-anaktirikan, film-film bertema manusia serigala jarang sekali dibuat. Walaupun ada, itu pun hanya sebagai “aksesoris” pelengkap sebuah film tertentu. Berbeda dengan “saudara”-nya vampir atau drakula, film-film yang diangkat dari legenda mahkluk haus darah ini atau hanya sekedar bertema vampir lebih banyak bermunculan dari tahun ke tahun. Bahkan film bertema zombie jauh lebih banyak lagi. Jadi wajar saja, pihak Universal selaku studio yang terkenal dengan film-film monsternya termasuk werewolf, terobsesi untuk memperkenalkan kembali ikon horor klasik ini.

Film yang dibintangi oleh Benicio del Toro ini (untuk dicatat Benicio adalah fans berat film originalnya dan mengkoleksi hal-hal berbau werewolf) sanggup menjaga intensitas cerita pada menit-menit awal film, bahkan terlihat menjanjikan ketika film dibuka dengan kejutan-kejutan penampakan manusia serigala. Rasa penasaran akan menggiring kita jauh kedalam gelapnya hutan Blackmoor dan misteriusnya London di abad ke-19. Apa yang disajikan Joe Johnston dalam upayanya membangun mood terbukti berhasil, melalui kehandalannya menggarap nuansa “dark” yang begitu kental. Warna dan tone gelap itu dapat begitu baik melebur dengan horor yang dihadirkan. Makin membuat sang manusia serigala tampil mendominasi dengan gigi-gigi tajamnya, sekaligus menciptakan suasana ngeri yang begitu melekat ke kursi-kursi penonton. Sentuhan-sentuhan ajaib penuh horor tersebut ditambah lengkap dengan kualitas efek make-up dari penampilan manusia serigala itu sendiri. Rick Baker yang menangani departemen spesial efek untuk make-up bekerja dengan baik, menghadirkan sosok “werewolf” yang begitu menakutkan. Rick yang juga tampil sebagai cameo, sanggup merubah Benicio yang punya wajah sudah cukup seram ini menjadi lebih menyeramkan dengan kepiawaiannya dari pengalaman bertahun-tahun di dunia spesiap efek/makeup. Alhasil lewat tambahan CGI, “feel” horor yang menakutkan dapat terasa ketika bulan purnama tiba, terlebih lagi dengan suguhan matang iringan musik Danny Elfman.

Namun sekali lagi, dengan dukungan pemain kelas A, Benicio del Toro dan Anthony Hopkins serta pemanis Emily Blunt. Sutradara yang dipercaya membesut Captain Amerika ini seperti kehilangan arah dalam mengesekusi plot demi plotnya. Jalan cerita yang sudah ada tersaji terbilang biasa saja, walau menghadirkan twist yang diharapkan dapat membantu plot yang telah terjalin, tapi upaya ini terkesan sia-sia. Kemungkinan dari awal, penonton sudah bisa menebak-nebak mau dibawa kemana film ini dan twist apa saja yang akan dihadirkan. Walau begitu, kekurangan-kekurangan yang ada di film masih terselamatkan dengan adegan-adegan yang siap untuk membuat jantung penonton berdetak kencang atau kaget luar biasa ketika sosok manusia serigala itu selalu muncul tiba-tiba. Film yang berdurasi 102 menit ini juga tak hanya menakuti lewat taring tajam dan wajah menyeramkan penuh bulu, tapi juga handal mewarnai beberapa adegannya dengan sajian gore yang apik. Bersiaplah untuk adegan-adegan sadis yang ditawarkan, wajah yang hancur tercabik-cabik sampai isi perut yang menari-nari keluar dari tubuh korban-korban sang manusia serigala. Film yang mulai tayang di Indonesia pada 17 Februari ini setidaknya masih bisa mengibur dengan aksi werewolf yang menegangkan, tidak asal buat, menyeramkan, sekaligus menghibur dengan rasa penasaran untuk mengetahui keseluruhan misteri yang ditawarkan. Semoga lolongan panjang masih akan terdengar di film-film bertema serupa selanjutnya. Enjoy!

Rating: 3.5/5

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Iblis (2016...
Review - Cipali KM 1...
Review - Munafik (20...
Review - Ouija: Orig...