Review: Percy Jackson & The Lightning Thief

written by Rangga Adithia on February 11, 2010 in Adventure and CinemaTherapy and Drama and Fantasy and Hollywood with 10 comments

Percy Jackson (Logan Lerman) tadinya hanya murid sekolah biasa saja, tak terlalu aktif dalam kelas, dan punya hobi yang sedikit unik. Anak remaja yang tinggal dengan ibu dan ayah tiri ini, gemar menenggelamkan dirinya dalam air hingga beberapa menit (dari sini sebenarnya sudah menjelaskan kenapa dia suka sekali dengan air). Kehidupannya yang cenderung membosankan berubah seketika pada saat dia dan rekan-sekan satu sekolahnya sedang mengunjungi museum, mempelajari tentang mitologi Yunani. Percy tidak hanya diserang oleh monster bersayap (dikenal dengan nama Fury) namun juga dikejutkan oleh kenyataan bahwa orang-orang disekitarnya bukan orang yang selama ini dia kenal (termasuk gurunya yang berubah menjadi monster bersayap tersebut). Teman karibnya, Grover (Brandon T. Jackson) ternyata adalah seorang mahkluk dari mitologi Yunani dikenal dengan sebutan Satyr (manusia bertanduk dan berkaki seperti kambing), dia juga mengaku sebagai pelindung Percy selama ini. Gurunya Mr. Brunner (Pierce Brosnan), yang selama ini berada di kursi roda ternyata adalah Centaur (setengah manusia dan setengah kuda). Percy juga sekarang mengetahui bahwa dia adalah anak dari dewa laut, Poseidon (Kevin McKidd), semua kebenaran itu disembunyikan oleh Grover, Mr Brunner, termasuk Ibunya sendiri untuk melindungi Percy. 

Kejutan yang datang bertubi-tubi kepada Percy tersebut ditambah dengan masalah besar yang menimpanya. Percy dituduh mencuri barang penting milik Dewa Zeus (Sean Bean), sebuah tongkat yang memiliki kekuatan petir. Percy yang sebenarnya tidak bersalah harus mengembalikan tongkat tersebut sebelum waktu 14 hari yang ditentukan habis atau akan ada perang besar antara dewa-dewa yang akan membuat dunia ini hancur (sekali lagi semua ini berujung pada akhir dunia). Percy pun dikirim ke perkemahan khusus para demigod (sebutan untuk manusia setengah dewa), untuk menjalani serangkaian latihan dan bertemu dengan teman-teman “senasib” disana. Sayangnya ketika menuju ke tempat tersebut, Percy dan yang lainnya termasuk ibunya diserang oleh Minotaur (mahkluk mitologi berbentuk manusia berkepala banteng). Walau berhasil membunuh monster raksasa tersebut, Percy harus rela kehilangan sang Ibu. Belakangan diketahui Ibunya ternyata tidak tewas, namun dikurung oleh Hades (Dewa penghuni neraka) yang meminta Percy untuk membawakannya tongkat petir Zeus jika ingin ibunya selamat. Lewat latihan “instant” yang dia dapatkan, Percy siap untuk menolong ibunya bersama dengan bantuan Grover dan juga Annabeth (Alexandra Daddario), anak dari Dewi Athena. Berhasilkah Percy menolong sang Ibu sekaligus menyelamatkan dunia dari “War of Gods”?

Percy Jackson & the Olympians: The Lightning Thief mengajak kita berpetualang ke dunia mitologi Yunani yang dipenuhi beragam macam keajaiban. Melalui perjalanan Percy untuk menyelamatkan Ibunya dan juga dunia, kita akan diperkenalkan dengan para Dewa-Dewi Yunani yang mungkin selama ini kita kenal, seperti Zeus, Poseidon, Hades, dan juga Athena. Selain dipertemukan dengan Dewa dan Dewi, yang kali ini diceritakan dapat berbaur dengan manusia (berubah wujud seperti manusia biasa), film ini juga akan memperkenalkan monster-monster yang juga berasal dari mitologi Yunani. Film ini juga tidak lupa memberikan sisipan-sisipan pengetahuan tentang mitologi Yunani bersamaan dengan bergulirnya film. Chris Columbus dengan cerdik dapat memanfaatkan cerita-cerita mitologi tersebut dan akhirnya melebur dengan jalan cerita yang ada. Sedikit banyak kita jadi lebih tahu apa hubungan Zeuz dengan Poseidon dan Hades, atau cerita tentang Dewa penghuni gunung Olympus lainnya. Sayangnya film yang diadaptasi dari novel berseri karya Rick Riordan ini tidak terkemas dengan begitu baik, terkesan hanya mengekor film-film adaptasi novel yang sebelumnya sudah lebih dahulu hadir.

Sutradara yang pernah membesut dua film pertama Harry Potter ini (Harry Potter and the Sorcerer’s Stone, Harry Potter and the Chamber of Secrets) sepertinya lupa melengkapi film ini dengan hal-hal baru yang tidak pernah muncul di film sejenis. Alhasil kita harus puas dengan suguhan cerita yang sepertinya agak “familiar”, kurang lebih kita akan selalu ingat dengan kisah Narnia atau nantinya akan dibanding-bandingkan dengan seri-seri awal Harry Potter. Bagaimana tidak, film ini juga menampilkan kisah layaknya “negeri dongeng” dengan segala pernak-pernik Dewa, mahkluk-mahkluk ajaib, dan juga tiga jagoan yang kesemuanya masih remaja (kalau tidak ingin dibilang anak kecil). Apakah ini pertanda kita yang mulai bosan dengan film-film bergenre sama dengan ramuan serupa, atau film yang juga dibintangi Uma Thurman ini memang termasuk biasa saja. Dari adegan awal yang kurang menjanjikan, film berlanjut menyajikan alur cerita yang terkesan dipaksakan dengan plot yang berjalan datar. Penonton juga serasa dipaksa untuk pasrah menerima cerita apa adanya, tiba-tiba begini dan tiba-tiba begitu.

Columbus berbaik hati masih memasukkan unsur-unsur pemanis kedalam film ini, adegan-adegan perkelahian dengan monster (minotaur, fury, hydra) dibalut dengan menarik lewat spesial efek yang cukup mumpuni (termasuk kemunculan Hades untuk pertama kalinya). Tapi tetap saja adegan-adegan yang punya kesempatan lebih tersebut kurang teresekusi dengan cermat, plot hole dimana-dimana dan sekali lagi adegan yang “dipaksa” untuk menjadi menarik. Melalui “sidekick” Percy yaitu Grover, kita juga akan disajikan humor-humor ringan. Walau sedikit mengundang tawa penonton, upaya sang Satyr sepertinya kurang maksimal dan tidak menyelamatkan film ini sedikitpun. Kekurangan paling kental yang dirasakan dalam film ini adalah jalinan “chemistry” antara karakternya yang justru tidak dikembangkan dan dibiarkan begitu saja, Columbus mungkin berpikir yang terpenting selesaikan film sampai selesai. Untuk sekian kalinya film ini justru diselamatkan bukan karena ceritanya, namun dengan kehadiran spesial efeknya. Khususnya ketika Percy mengajak kita ke “kediaman” Hades, film ini menampilkan “neraka” yang begitu mempesona sekaligus menakutkan (walau sekilas mengingatkan kita dengan neraka versi Constantine). Film yang punya judul terlalu panjang ini secara keseluruhan dapat menghibur di beberapa adegannya, terutama ketika adegan action menjadi menu utamanya. Tetapi dengan plot yang klise dan cenderung dipaksakan tanpa tambahan nuansa baru pada filmnya, Percy Jackson & the Olympians: The Lightning Thief harus rela berakhir di jajaran film yang sangat mudah dilupakan. Semoga sekuelnya dengan embel-embel “The Sea of Monsters” yang direncanakan rilis 2012 dapat belajar dari film pertamanya dan tampil lebih baik.

Rating 3/5

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

20 Film Indonesia Wa...
Review - The Green I...
Review - Telaga Angk...
Review - Rumah Malai...