Review: Jinx

written by Rangga Adithia on February 3, 2010 in CinemaTherapy and Film Indonesia with 16 comments

Hari ini adalah hari dimana aku pengen mati ~ Shanti

Film dibuka dengan adegan seorang cewek yang jatuh dari kamar apartemen lalu tercebur ke sebuah kolam renang dan langsung tak sadarkan diri. Suasana yang tadinya sepi, mulai heboh dengan kejadian tersebut. Seorang pria mendadak terkena penyakit jantung ketika dia tak sengaja melihat aksi “bunuh diri” tersebut. Pihak apartemen (sekuriti, manajer, karyawan) yang langsung datang ke TKP terlihat panik setengah mati dan mencoba memberi nafas buatan. Pria pertama tidak berani (okay are gay?) karena berbagai alasan, langsung muncul pria kedua (sepertinya dia manajer disini) dengan tampang penuh nafsu mencoba mencium…maksudnya memberikan pertolongan dengan nafas buatan. Tapi tiba-tiba seorang wanita didekatnya (hmmm ini siapa ya, bawahannya?) menghentikan aksi heroik tersebut dengan berkata “pak biar saya saja yang kasih nafas buatan, bapak pasti mengambil kesempatan dalam kesempitan”, pria yang mulutnya sudah monyong-monyong itu pun mengurungkan niatnya (dengan beribu penyesalan). Siapa sebenarnya cewek yang sedang pingsan ini? namanya Shanti (Aurellie Moeremans), belakangan diketahui karena putus asa (juga karena cinta dan keluarga) dia nekat untuk terjun, nyemplung, byuuur ke kolam renang. Sayangnya malaikat maut tampaknya masih enggan untuk mengambil nyawanya, Shanti pun beruntung masih hidup. 

Namun kesempatan hidup “lagi” ini ternyata mendatangkan kesialan bagi orang-orang yang tak sengaja ada di sekitar Shanti. Pria tua (diperankan oleh HIM Damsyik) terkena serangan jantung dan harus dilarikan ke rumah sakit, tetapi ditengah jalan pria yang dulunya penjahit dan menjadi kaya karena menang kuis sms di tv ini terbangun dan mulai berlari (hanya memakai celana pendek…mood nulis berkurang 10%). Seorang bos (Ray Sahetapy) yang sedang rapat pun tak luput dari kesialan, setelah diketahui kalau Shanti jatuh dari kamar miliknya, dia pun dituduh yang tidak-tidak. Dari sini, Shanti mulai mengikatkan benang merah “kesialan”nya kepada semua orang (mungkin juga kepada penonton, sial banget nonton film ini). Dari seorang intel yang sedang mengejar copet sampai supir taksi ikut-ikutan kena sial. Banyak karakter, banyak masalah, dan banyak kesialan mewarnai film yang berdurasi 100 menit ini. Setelah sebelumnya dibuat “depresi” oleh Nayato lewat delapan belas plus, “mimpi buruk” sepertinya masih enggan meninggalkan ranah perfilman Indonesia ketika Muhammad Yusuf (iya bener, ini nama sutradaranya, inget baik-baik!) memutuskan untuk membuat film debut layar lebarnya “Jinx”.

Film yang meng-klaim dirinya bergenre black comedy ini benar-benar asyik mengaduk-ngaduk plot dan menumpuk layer-demi-layer ceritanya. Alasannya mungkin agar film ini bisa terlihat berbeda dan berbobot dari segi cerita. Tapi tetap saja, dengan pola bercerita sang sutradara yang kenyataannya amburadul, toh cita rasa yang dihasilkan tak jauh beda dengan film-film komedi yang sering ditayangkan tengah malam (komedi tengah malam yang punya sederet cerita mesum). Jika KKD (apaan nih kkd??) pintar menjual cerita komedi/horor dengan bumbu-bumbu seks di film-filmnya. Jinx tidak melakukan itu, namun level “ketololan”nya bisa dikatakan seimbang walau tanpa seks, mesum, cewek telanjang di ceritanya. Berharap film ini punya komedi-komedi cerdas? (gimana sih, kan gw udah bilang film ini tak jauh beda dengan “komedi tengah malam” LOL) sayangnya sutradara yang sebelumnya berkutat di film-film televisi ini sekali lagi hanya menyajikan komedi “ala kadarnya”. Film yang menampilkan Adam Jackson (MJ hihiiiiiiiiy!!! Ugh imitasinya…) ini punya banyak komedi murahan untuk ditawarkan pada penontonnya, semua itu ditambah “cemerlang” dengan kehadiran artis-artis komedi seperti mpo Hindun, Tatang Gepeng, dll yang justru tidak menyelamatkan film ini dari keterpurukan total.

Dari awal film ini jelas tidak punya “senjata rahasia” untuk membuat penontonnya betah sampai ke akhir cerita, karena kita sudah dibikin muak dengan ulah para pemainnya yang tidak hanya berakting datar, namun juga tidak lucu sama sekali serta diperparah dengan dialog-dialog “it’s magic!!!” (di koran gw baca nih katanya film ini terinspirasi sama Stanley Kubrick, jadi nonton nih film mesti mikir banget, WTF!!). Wah hebat sekali film ini, kita diajak untuk berpikir keras untuk bisa mencerna simbol-simbol tersembunyi dalam film ini, barulah kita bisa tertawa. Come on!! Gambar close up muka orang selagi mulutnya terbuka lebar, copet yang dikejar-kejar intel lalu terkena paku, tukang ojek bermata juling, nasi goreng yang muncrat dari mulut, apakah itu simbol-simbol yang dimaksud? (krik…krik…krik). Yah sang sutradara seneng banget bikin mual penontonnya, hobi sekali dengan pengambilan gambar yang terlalu dekat (sangat dekat) sampai pori-pori dan jerawat pemainnya keliatan (okay mungkin biar terlihat artistik…not!!).

Jika dirasa permainan zoom in & zoom up belum cukup, masih ada gaya pengambilan gambar ala film bourne (camera handheld). Style kamera yang terus “shaking” mengikuti pergerakan pemain memang kadang membuat film terasa nyata dan artistik, namun dalam film ini hal tersebut tidak berlaku sama sekali. Karena film ini sudah salah dalam bermain kamera, adegan kejar-kejaran yang seharusnya penuh aksi dan canda tawa, berubah memuakkan (ember please…) ketika kamera terus “shaking” (klo shakira yang goyang-goyang gw betah deh) tak ada hentinya dan terlalu berlebihan sampai menular ke seluruh adegan yang seharusnya tidak perlu “goyang-goyang” juga. Dominasi scene bergoyang-goyang meliputi hampir 91% dari keseluruhan total durasi dan semuanya tidak menambah “nyaman” film ini (temen gw disebelah aja udah muntah-muntah, kena gw lagi…ROTFLMAO).

Film yang menghadirkan scene pertarungan antara Rebecca dan Dj Davina ini (katanya sih scene andalan, tapi…) totally boring!! Menghibur tidak malah membuat penontonnya keluar satu-per-satu dari bioskop (serius, penonton mulai ngacir sejak film menginjak menit ke 30). Penyebabnya yah karena film ini tidak menawarkan apa-apa selain obral lelucon murahan. Plot dibuat seperti “es campur” (enak itu mah) maksudnya campur aduk tak jelas dengan konflik dan juga karakternya, dengan esekusi seenaknya. Benang merah yang menghubungkan karakter satu dengan yang lainnya pun dipaksa untuk saling menyangkut (yang penting nyenggol). Jika pada review sebelumnya gw terhibur dengan adanya KOIL, kali ini gw mencari-cari apa yang membuat gw terhibur dengan film yang seharusnya direct to dvd…hmmm tv ini, jawabannya nihil (abisnya jorok filmnya, jigong lah pada muncrat…hoek!!). Enjoy…totally not!


Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Surat Dari ...
Review - Bone Tomaha...
Review - Munafik (20...
Review - Ouija: Orig...