Review: Arthur and the Revenge of Maltazard

written by Rangga Adithia on February 20, 2010 in Animation and Cinema of Europe and CinemaTherapy with one Comment

Arthur (Freddie Highmore) sudah tidak sabar untuk kembali ke negeri Minimoys (bukan kurcaci melainkan makhluk sebesar gigi manusia yang tinggal di kebun), yang “gerbang” menuju ke tempat tersebut hanya terbuka setiap bulan purnama ke sepuluh. Kedatangan Arthur memang sudah sangat ditunggu oleh para minimoys, bukan saja karena dia telah dianggap pahlawan setelah mengalahkan Maltazard, tapi juga kedatangannya sangat di nanti oleh sang putri (Selenia) yang jatuh cinta kepadany. Sebaliknya Arthur juga merindukannya, bahkan keinginannya untuk cepat-cepat ke negeri Minimoys didorong oleh ketidaksabarannya bertemu dengan Selenia. Tiba-tiba Arthur dikejutkan oleh pesan yang dibawakan oleh seekor laba-laba, sebuah beras yang bertuliskan “tolong”. Pikiran dia langsung tertuju pada Minimoys yang sepertinya sedang dalam keadaan bahaya, mungkin saja ini ada kaitannya juga dengan Selenia. Arthur langsung membawa pesan ini kepada kakeknya (yang juga tahu soal keberadaan negeri para peri kecil ini). Walau menurut kakeknya minimoys selalu mengirim pesan lewat daun, tapi dia akhirnya percaya dengan pesan tersebut, mungkin saja ini dilakukan dalam keadaan bahaya. Sayangnya, usaha Arthur untuk segera pergi mencari tahu ada maksud dari pesan itu terhalangi oleh Ayahnya yang memaksanya untuk ikut pulang bersama dengannya dan juga ibunya. Arthur pun hanya bisa pasrah mengikuti kehendak orang tuanya, walaupun dalam hatinya dia ingin sekali menolong minimoys terutama Selenia. 

Arthur tidak kehilangan akal lantas menerima nasib dia tidak bisa ke negeri minimoys begitu saja. Secara kebetulan anjing kakeknya mengikuti mobil yang ditumpanginya, Arthur pun berhasil mengelabui kedua orang tuanya dengan menyelimuti anjing tersebut agar dikira dia sedang tertidur. Ketika orang tuanya belum tersadar, Arthur sudah berada kembali ke rumah kakeknya. Dengan bantuan para Bogo Matassalai (teman baik sang kakek dan mengklaim kalau mereka adalah saudara minimoys) Arthur segera memulai ritual untuk mengubah dirinya menjadi sebesar minimoys dan masuk ke kerajaan mereka. Namun sialnya, bulan purnama justru tertutup oleh awan mendung dan cara satu-satunya menuju ke negeri minimoys pun gagal. Tapi tunggu dulu, ternyata para Bogo Matassalai ini punya cara lain yang cukup berbahaya bagi Arthur, namun karena dia terlanjur ingin pergi cara apapun pasti dilakukan. Kenyataannya, Arthur berhasil menjadi kecil dan sukses masuk ke negeri minimoys. Tapi dia tidak langsung datang ke kerajaan seperti seharusnya yang direncanakan, melainkan ke bar milik Max. Pemilik bar yang eksentrik dengan gaya jamaika-nya ini langsung mengenali Arthur dan mengaku senang bisa melihatnya lagi. Arthur segera meminta Max untuk membantu mengantarnya ke kerajaan para minimoys. Apakah Arthur berhasil bertemu Selenia disana dan apa maksud pesan penting yang diterimanya?

Luc Besson (Leon, The Fifth Element) membuat film animasi? Tentu saja ini bukan hal yang mustahil dan mengejutkan. Sebelumnya sutradara asal negeri Perancis ini sudah melakukannya ketika membesut film pertama dari trilogi Arthur, yakni Arthur and The Minimoys yang rilis pada 2006 silam. Kali ini sekuelnya hadir melanjutkan kisah Arthur yang notabennya adalah anak manusia dalam petualangannya ke negeri para “peri” minimoys. Masih dengan menggabungkan live-action dengan animasi, Luc mencoba menggali lebih dalam dunia minimoys yang pada film pertama tidak sempat dia lakukan. Kita bisa menyaksikkan negeri para “liliput” yang sekarang ini ramai dipenuhi oleh bangunan-bangunan meriah dan orang-orang yang berdatangan dari penjuru tempat. Luc memberikan detil-detil yang menggambarkan dunia minimoys sama halnya seperti dunia manusia. Mobil-mobil yang sebenarnya adalah seekor kumbang yang ditempeli lampu dan aksesoris lain hilir mudik di jalan utama kota tersebut. Para minimoys pun bergaya layaknya manusia dengan fashion beraneka ragam memenuhi tempat-tempat keramaian, bahkan disini ada restoran yang mirip dengan salah satu franchise makanan cepat saji.

Dukungan animasi yang cukup baik, dari karakter-karakter unik sampai lanskap-lanskap pemandangan kerajaan minimoys, tidak dimanfaatkan oleh Luc dengan melengkapinya dengan cerita yang menarik. Begitu banyaknya karakter dalam film ini sepertinya hanya numpang lewat saja. Bukannya menjadi jembatan antara film pertama dan film ketiganya nanti (karena ini trilogi), film ini tak ubahnya hanya “teaser” untuk film selanjutnya. Konflik yang dihadirkan pun sangat minim, bisa dikatakan tanpa konflik yang berarti. Film ini makin membingungkan ketika judul dengan jelas adanya embel-embel “Revenge of Maltazard” namun musuh terbesar Arthur tersebut tidak muncul-muncul padahal film sudah melewati separuh durasinya. Film ini justru asyik fokus pada plot bagaimana Arthur bisa sampai ke kerajaan Minimoys dan bertemu dengan Selenia. Ketika pada akhirnya Maltazard muncul, sudah sangat terlambat karena semua berakhir ketika kata-kata ”to be continue” muncul di layar. Jadi apa maksud judul yang sama sekali tidak berhubungan dengan filmnya ini, ada baiknya Luc dari awal memberi judul “The Return of Maltazard” saja pada filmnya atau “How-Arthur-Find-His-Way-To-Minimoys-Before-The-Film-is-Over”. Layaknya sebuah intro untuk film ketiga, film ini sebenarnya dari awal menjanjikan petulangan seru di negeri minimoys namun sungguh disayangkan Luc hanya bisa mengemas film ini ala kadarnya dengan pesan “jika ingin melihat kelanjutan dari Maltazard dan action-action lainnya, tunggu saja film ketiga”. Film pertama justru lebih baik jika melihat film kedua ini, kita tunggu saja apa trilogi ini bisa diselamatkan oleh Arthur and The War Of Two Worlds.

Rating: 2.5/5

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Deathgasm (...
Review - Bone Tomaha...
Review - Indonesia K...
Review - Train to Bu...