Review: The Blind Side

written by Rangga Adithia on January 24, 2010 in CinemaTherapy and Drama and Hollywood with 4 comments

Michael, I want you to have a good time but if you get a girl pregnant out of wedlock, I will crawl into the car, drive up to Oxford and cut off your penis. ~ Leigh Anne Tuohy

Michael Oher (Quinton Aaron) mungkin agar bernasib berbeda jika dia tidak bersekolah di Wingate Christian School dan tidak bertemu dengan Leigh Anne Tuohy (Sandra Bullock) yang kelak akan menjadi malaikat penyelamatnya. Namun takdir sepertinya punya ceritanya sendiri untuk anak berumur 17 tahun yang punya tubuh besar ini. Big Mike, begitulah panggilan akrab Michael, beruntung bisa bersekolah di Wingate dengan bantuan seorang pelatih yang melihat bakatnya dalam olahraga. Michael memang tidak punya kelebihan akademis yang bisa ditonjolkan. Beberapa orang guru pun menganggap remeh anak yang punya latar belakang dari keluarga “broken home”, hanya satu orang guru saja yang masih bisa melihat celah “kejeniusan” seorang Big Mike. Ketika Michael tidak mempunyai siapapun yang untuk diajak berteman, dia akhirnya bertemu dengan Sean Jr., yang memperkenalkan dirinya sebagai “SJ”. Mereka berdua cepat akrab dan menjadi teman. Takdir pun mempertemukan Michael dengan Leigh, ibu dari dua orang anak ini mengenali Michael –yang merupakan teman anaknya SJ– sedang berjalan sendiri di kegelapan malam yang dingin. Tanpa berpikir panjang Leigh menyuruh Michael untuk ikut dengannya dan menawarkannya untuk tinggal semalam dirumahnya.

Keesokan harinya, Michael diajak untuk makan bersama pada hari “Thanksgiving”. Setelah sebelumnya dia secara diam-diam sudah meninggalkan rumah, namun Leigh menyuruhnya masuk kembali ke rumah dan ikut makan. Lambat-laun Michael sudah seperti bagian dari keluarga tersebut, Anak-anak Leigh, SJ dan Collins semakin akrab dengan Michael. Begitu pula dengan suami Leigh, yang punya franchise sebuah restoran tersebut, tidak keberatan Michael untuk tinggal di rumahnya. Keluarga Tuohy benar-benar menyambut kehadiran Michael dengan hangat dan tangan terbuka, bahkan Leigh sudah memperlakukan Michael seperti anaknya sendiri. Michael juga diberi kesempatan untuk bisa bermain football di sekolahnya. Pada awalnya Michael memang tidak bisa beradaptasi dengan olahraga yang satu ini, pelatihnya pun hanya bisa menyuruhnya ini dan itu tanpa tahu bagaimana seharusnya melatih “anak” barunya tersebut. Hanya Leigh yang tahu benar bahwa anak angkatnya –yang dalam tes punya 98% untuk insting melindungi– bisa bermain dan dengan sedikit nasehat darinya, Michael pun mulai memperlihatkan siapa dirinya yang sebenarnya. Leigh terus berada disamping Michael untuk mengurusnya, begitu juga dengan SJ yang selalu ada untuk menemaninya berlatih, keluarga juga akan tetap mendukungnya. Pertandingan pertama Michael akan menjadi momentum ajaib yang akan menghantarkannya pada mimpi yang tak akan pernah dia bayangkan sebelumnya.

The Blind Side sukses dengan tidak muluk-muluk menjual “based on true story” menjadi film yang sangat menghibur, nyaman, dan juga penuh dengan nilai moral serta kaya akan sentuhan yang serba inspiratif. John Lee Hancock dengan sangat matang dan cermat dapat menggarap film yang didasarkan dari sebuah buku berjudul “The Blind Side: Evolution of a Game” yang ditulis oleh Michael Lewis ini. Sutradara yang juga ikut ambil bagian dalam pengerjaan scriptnya tersebut berhasil mentransfer pesan-pesan penting yang tercoret dalam bukunya dan pada akhirnya tervisualisasi cantik dalam film. Untuk menciptakan film yang didasarkan kisah nyata, John tidak meramunya dengan formula melodrama yang terlalu cengeng, namun meraciknya dengan adegan-adegan yang dapat menggugah emosi kita untuk ikut “tinggal” bersama keluarga Tuohy dan mengamati secara dekat perkembangan seorang Big Mike serta “chemistry” uniknya dengan ibu angkatnya.

Alur ceritanya sangat bersahabat untuk diikuti, film ini bermain tidak membosankan. John bisa menjaga plot yang diciptakannya untuk tidak terlepas dari genggamannya. Mengarahkan para pemainnya untuk berakting dengan baik sampai akhir “pertandingan”. Film terus dapat berfokus pada hubungan Michael dan Leigh, dengan sedikit melirik pada sisi latar belakang seorang Michael. Namun sekali lagi John dapat menjaga alur untuk tidak keluar dari plot yang sebenarnya. Dia membiarkan penonton untuk mengetahui seperti apa kehidupan Michael sebelum dia bertemu keluarga Tuohy, kehidupan jalanan yang keras, masa lalunya yang tidak bahagia, bahkan kita diajak bertemu dengan ibu kandung Michael. Namun sekali lagi kita akan diajak kembali ke “game” utama, semua masa lalu Michael hanya dijadikan sebagai drama pendukung. John melalui film ini juga berani untuk bicara soal kehidupan sosial yang terjadi di masyarakat, tapi tidak serta merta menggurui penonton soal moralitas. Tidak juga mengajari kita dengan blak-blakan soal rasisme yang terjadi di kehidupan bermasyarakat di dunia modern ini. Film ini mengalir begitu saja tanpa bermaksud menjadi sebuah “kritikan pedas” tapi murni hanya menceritakan kisah sederhana “nothing to something”.

Film ini begitu sederhana menceritakan kisah biopik seorang Michael Oher, tetapi sekali lagi bisa begitu menyentuh dan menginspirasi. Tak pelak film besutan sutradara yang sebelumnya pada tahun 2004 membuat “The Alamo” ini mendapat sambutan yang cukup positip dari para kritikus film dan secara komersil film ini sangat berhasil dengan raihan 200 juta lebihnya. Film ini juga langsung mengangkat karir seorang Sandra Bullock, yang terkenal “langganan” film-film romantis, komedi, dan komedi-romantis. Aktingnya sebagai Leigh Anne Tuohy sangat-sangat mengesankan. Lakon yang diperankannya begitu menyita perhatian dan mengundang decak kagum begitu film ini mulai memperkenalkannya dan bergulir dari menit ke menitnya. Aksen selatannya begitu kental dengan balutan rambut pirangnya yang cantik, menyempurnakan peran yanng sedang dimainkannya. Usaha Sandra Bullock untuk berakting sebagus dan semaksimal mungkin di film ini nyatanya tidak sia-sia. Di ajang Golden Globes Award tahun 2010, dia dianugrahkan penghargaan artis terbaik untuk aktingnya di film “The Blind Side” ini. Film ini secara keseluruhan tampil menyegarkan dengan drama, konflik, dan akting para pemainnya, gw sendiri selalu cocok dengan tipe-tipe film semacam ini. Enjoy!

Rating: 4/5

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

15 Film Indonesia Te...
Review - Deathgasm (...
Review - Iblis (2016...
Review - Juara (2016...