Review: Legion

written by Rangga Adithia on January 21, 2010 in Action and CinemaTherapy and Fantasy and Hollywood and Thriller with 6 comments

I knew He’d send you, Gabriel. You were always so eager to please Him. ~ Michael

Alkisah Tuhan sudah kehilangan kepercayaannya terhadap manusia, maka ditugaskanlah para malaikat untuk “membersihkan” manusia. Namun kenyataannya seorang malaikat bernama Michael masih ingin menyelamatkan manusia dari “kiamat” dan oleh karena itu dia terpaksa menentang perintah yang diberikan kepadanya. Di bumi, tepatnya di sebuah tempat yang jauh dari peradaban manusia –sebuah restoran ditengah gurun– bernama “Paradise Fall” hari berjalan seperti biasanya. Bob Hanson (Dennis Quaid) dan beberapa orang lainnya termasuk para pelanggannya belum menyadari sesuatu yang buruk akan segera terjadi di tempat yang menyediakan hidangan steak tersebut. Keanehan demi keanehan pun menghampiri, mereka mulai kehilangan kontak dengan dunia luar. Televisi dan radio tidak lagi menyiarkan acaranya, setelah sebelumnya mengeluarkan suara yang aneh. Begitu juga dengan saluran telepon, hanya sebentar berfungsi lalu seketika mati total. Tidak mengetahui apa yang sebenarnya sedang terjadi, ditambah dengan kebingungan harus melakukan apa, yang tersisa hanya kepanikan. 

Saat semua sedang dilanda panik dan kebingungan walau masih dalam batas kewajaran, tiba-tiba muncul pelanggan lainnya. Seorang nenek dengan sopan meminta dibuatkan steak, sambil menunggu pesanannya, dia dengan senyum manis membuka pembicaraan dengan salah satu pelanggan di restoran tersebut. Namun itu semua hanya kedok belaka, si nenek mulai berbicara kasar dan memaki semua orang. Anehnya lagi makanan si nenek penuh dengan lalat. Tidak hanya itu, si nenek mulai memperlihatkan gelagat kalau dia memang bukan manusia. Semua orang terkejut ketika nenek ini bisa menempel dan berjalan di dinding. Pada akhirnya aksi si nenek jejadian ini dapat dihentikan dengan menembaknya. Ketika semua makin terlihat tak jelas dan penuh dengan tanda tanya, Michael (Paul Bettany) akhirnya sampai ke Paradise Fall. Selain menjelaskan bahwa dirinya adalah seorang malaikat, dia juga memberitahukan tentang apa yang terjadi dan juga alasan kenapa dia datang ke restoran tersebut. Paradise Fall akan menjadi sebuah benteng pertahanan terhadap serangan kekuatan yang bukan datang dari bumi. Semua dilakukan hanya untuk menyelamatkan seorang pelayan bernama Charlie (Adrianne Palicki) dan tentu saja bayi yang dikandungnya.

Legion seharusnya bisa jadi sebuah film yang menyenangkan dan menghibur, jika dilirik premis yang ditawarkan. Walau tidak menepis kemungkinan film bertema hampir sama dengan “Constatine” ini –dengan membawa unsur agama didalamnya–  hanya akan menjadi film biasa saja, apalagi dengan sinopsis yang cukup terbilang aneh “Tuhan yang bosan dengan manusia”. Tapi kenyataannya, film ini memang terjerumus masuk ke dalam jebakan “film buruk”. Scott Stewart setidaknya pintar membangun setting yang lumayan mendukung, tempat antah berantah dan sebuah restoran. Dalam pikiran mungkin akan terjadi pertempuran hebat antara pasukan Tuhan dan para jenderalnya. Pikiran positip tersebut langsung terbantahkan ketika film mulai mencapai paruh durasinya. Sayang sekali namun apa mau dikata, sutradara yang sebelumnya berkecimpung di dunia spesial efek ini seperti kehilangan arah, layaknya manusia yang diceritakan di film ini.

Film yang dibintangi oleh Paul Bettany sebagai Malaikat bernama Michael ini, tentu saja dibuka dengan opening yang cukup menjanjikan. Scott Stewart pada awalnya berhasil mengajak penontonnya untuk merasakan ketegangan film ini, mencicipi sedikit “sarapan” yang terhidang hangat di Paradise Fall. Pada menit-menit awal, film yang juga menghadirkan Lucas Black dan Tyrese Gibson ini masih bisa menjaga alur cerita dan kejutannya dengan baik. Setidaknya tidak membuat penonton untuk berpikir “walk out”. Sama seperti halnya orang-orang yang berada di restoran, kita juga diajak untuk bertanya-tanya akan apa yang sebenarnya terjadi. Tidak lupa, Scott Stewart segera menampilkan adegan-adegan action dan horor yang memang sudah dipersiapkan pada menit-menit awal, bisa dibilang sebagai pemanasan. Nenek si “spiderman wannabe” dan “the ice-cream man” cukup bisa menghibur, diteruskan dengan ledakan disana-sini ketika gerombolan orang yang sudah kerasukan mulai berdatangan, perang mempertahankan Paradise Fall dan Charlie pun tidak terelakkan lagi.

Plot dan intensitas ketegangan yang sudah terjaga di awal, sepertinya tidak dimanfaatkan dengan baik oleh sutradara yang juga menuliskan cerita untuk film ini. Scott kehilangan arahnya dan film ini hanya diisi dengan obrolan-obrolan yang sangat tidak penting. Walau nampaknya Scott ingin bermain dengan sedikit drama dan menunjukkan sisi lain masing-masing karakter dalam film ini, tapi niat baik sang sutradara malah menjadikan filmnya berjalan datar. Penonton yang menunggu adegan “baku hantam” dan “ledakan” justru malah di sajikan adegan-adegan drama yang lemah dan membosankan. Spesial efek juga tidak membantu film ini menjadi menarik, karena makin menuju akhir film adegan action yang semakin sedikit diperparah dengan efek yang biasa saja. Film yang punya total durasi 100 menit ini makin tidak terselamatkan ketika mencapai “ending”, tidak ada kejutan lagi, mudah ditebak dan sangat khas hollywood. Kita lihat seperti apa film Scott Stewart berikutnya “Priest” yang juga tayang tahun ini, masih dengan bintang yang sama yaitu Paul Bettany. Semoga tidak mengecewakan… not enjoy!! Come on Scott!!

Rating: 2.5/5

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Aach... Aku...
Review - Juara (2016...
Review - Train to Bu...
Review - Blair Witch...