Review: Ink & Brick

written by Rangga Adithia on January 2, 2010 in CinemaTherapy and Drama and Fantasy and Independent Film and SciFi with one Comment

They’re all reactions! One thing begets the next. A man has a weakness, he’s flawed. That flaw leads him to guilt. The guilt leads him to shame. The shame he compensates with pride and vanity. And when pride fails, despair takes over and they all lead to his destruction. It will become his fate… Something’s gotta stop the flow. ~Jacob

Saat cahaya redup dan seisi kota tertidur, dua kekuatan misterius muncul. Mereka tidak terlihat oleh kita kecuali kekuatan yang mereka miliki untuk masuk kedalam mimpi. Dua kubu yang saling bertikai ini saling memperebutkan jiwa-jiwa manusia lewat alam mimpi. Satu kelompok mempunyai tugas rutin setiap malamnya, memberikan harapan-harapan dan kekuatan baik lewat mimpi indah. Sedangkan kelompok lain menggiring kita ke dalam kesengsaraan, masih lewat mimpi namun kali ini mimpi-mimpi buruk. Masih ada kekuatan lain yang tersembunyi dan tidak diketahui berkeliaran di dunia ini. Berbeda dengan para “agen” mimpi, Ink –begitulah dia dinamakan- bekerja sendiri dan tidak mempunyai kelompok. Sebagai seorang yang “disewa” dia hanya melakukan apa yang diperintahkan. Kali ini “penyewa” dia adalah para Incubus/Incubi, mereka yang menyebarkan penderitaan lewat mimpi buruk.

Ink mempunyai misi untuk menculik seorang gadis perempuan bernama Emma. Sebelum anak ini terbangun di pagi hari yang cerah, Ink membawa jiwanya dari alam mimpi. Tindakan Ink sempat tercium oleh Allel dan kawan-kawan yang tergabung di pihak yang baik. Dengan sedikit perlawanan, Allel dan yang lainnya mencoba merebut kembali Emma dari tangan Ink. Namun sang “mercenary” terlalu cerdik dan berhasil lolos lewat portal mimpi. Ink mengajak Emma menjelajahi labirin dunia mimpi, berpindah dari mimpi satu ke mimpi yang lainnya, berusaha lari dari pihak yang mengejarnya. Ketika jiwa Emma masih ada diluar tubuhnya, di dunia sebenarnya dia tampak seperti orang koma. Gadis cilik yang tinggal bersama kakek dan neneknya ini pun dilarikan ke rumah sakit. Malangnya, ayah Emma tidak mau menemuinya dan menolak ajakan sang kakek untuk datang ke rumah sakit. Masa lalu yang buruk sepertinya membutakan nuraninya untuk kembali melihat Emma. Di dunia mimpi, Usaha penyelamatan pun sedang direncanakan oleh Allel dan kawan-kawan, apakah mereka akan berhasil “menjemput” Emma?

Setelah mengetahui film ini dari salah satu situs film yang sering gw kunjungi dan cukup direkomendasikan disana, gw pun penasaran untuk bisa menontonnya. Terbesit pikiran untuk mendownload, karena tebakan gw pasti film ini akan susah didapat dalam bentuk DVD. Sayangnya, gw sepertinya belum jodoh dengan “INK” karena tidak selalu berhasil mendownload film ini dalam beberapa kali percobaan download. Alhasil niat gw untuk segera menonton film ini jadi buyar dan rasa penasaran itu pun untuk sementara waktu terkurung dalam list “reminder-must-watch”. Tak disangka-sangka dan tak diduga-duga, gw secara tidak sengaja menemukan film ini ketika “hunting” DVD untuk akhir tahun. Seperti mendapat durian runtuh (walau ekspektasi gw sebenarnya rendah buat film ini, cuma penasaran ingin nonton aja, lagian gw nga suka duren) ternyata gw mendapatkan film yang gw kira tidak akan ada DVDnya karena ini produksi indie dan tidak banyak orang yang tahu.

Secara diluar dugaan film yang disutradarai oleh Jamin Winans dan mengusung genre fantasi  ini sama sekali tidak mengecewakan. Dengan semangat indie-nya film ini mampu tampil baik dan cukup menghibur dengan adegan-adegan yang dikemas tidak asal buat. Walau dengan bujet yang kecil, lewat film ini Winans dan kawan-kawan menunjukkan kalau mereka bisa memaksimalkan semua elemen film dan menghasilkan karya yang bisa dibanggakan. Dari segi cerita yang bisa dibilang orisinil ini, Winans mencoba mengambil resiko dengan melontarkan sajian cerita yang tidak biasa, alur ceritanya dibuat bertumpuk antara masa lalu, masa sekarang, dan masa depan. Membiarkan penonton untuk mencerna sehalus-halusnya apa yang coba diceritakan oleh Winans lewat film ini. Perlahan-lahan dengan alur yang dijaga dengan tempo “bersahabat” kita akan diajak ke dalam permainan teka teki yang dipersiapkan oleh Winans.

Teka-teki yang diciptakan oleh Winans justru membuat film ini makin menarik dan tidak sebaliknya malah ditinggal, dimatikan, dan tidak diteruskan. Ketika adegan demi adegan bergulir menit ke menitnya, kita diajak semakin penasaran dengan semua pertanyaan yang menyangkut tentang siapa ink dan apa kaitannya dengan anak yang diculiknya, serta pertanyaan-pertanyaan lainnya. Hal itu membuat film ini sangat pantas untuk ditonton sampai selesai. Apakah pada akhirnya semua pertanyaan itu dijawab oleh film ini? tentu saja, Winans dengan baik hati memberikan kunci jawaban itu. Sedikit demi sedikit Winans dengan memuaskan dapat menjelaskan teka-tekinya lewat adegan-adegan masa lalu yang beberapa kali terlintas. Film ini pun dengan mengejutkan menampilkan aksi-aksi perkelahian yang cukup apik dibumbui oleh pernak-pernik spesial efek yang bersih. Efek-efeknya memang sederhana namun justru pas ditambahkan di adegan-adegan yang sarat dengan baku hantam dan memberi aura menakutkan dan aneh kepada karakter “Incubi”, intinya semua efeknya tidak berlebihan.

Selebihnya, film ini juga tidak lupa memberi tambahan musik-musik yang lumayan bisa menghantarkan mood untuk tidak tertidur, gw menyukai film ini toh karena warna musik yang bisa dibilang cocok dengan selera. Jamin Winans pantas diacungi jempol untuk film yang diusung dengan semangat indie dan diwarnai oleh kreatifitas ini. Walau dengan kesederhanaannya film ini masih mampu menghibur dan tidak jatuh sebagai film yang memalukan. Silahkan menilai sendiri kekurangan film ini, karena bagi gw kekurangan itu tidak menjadikan film ini buruk, semua itu bisa ditutupi oleh keajaiban Winans meracik formula filmnya. Ditengah film-film mainstream dan berbujet besar, ini adalah contoh tontonan alternatif yang cukup layak untuk tidak diacuhkan. Sebuah rekomendasi, bagi anda yang bosan dengan film yang itu-itu saja dan merindukan film indie yang berkualitas, well film ini pasti cocok dengan anda. Enjoy!

Rating: 3.5/5

Go away. Look, I can’t trust you. You ought to be smart enough to know that. I didn’t shake the party up to get your attention, and I’m not heeling you to hook you. Your connections could help me, but the bad baggage they breing would make it zero sum game or even hurt me. I’m better off coming at it clean. ~Brendan

Brendan (Joseph Gordon-Levitt) hanya seorang senior berpenampilan biasa yang memutuskan untuk menyendiri, seorang “outsider” yang hanya dikenal oleh beberapa teman disekolah. Dia hanya ingin bergaul dengan orang yang dipilihnya, termasuk sahabat satu-satunya The Brain (Matt O’Leary) yang selalu membantunya dalam urusan apapun. Sampai suatu ketika, Brendan menemukan pesan di lokernya yang menyuruhnya untuk pergi ke sebuah tempat. Lewat sebuah telepon umum di tempat yang telah ditentukan, mantan kekasih Brendan menghubunginya. Emily (Emilie de Ravin) dengan terbata-bata dan terlihat kebingungan menyampaikan kepada Brendan kalau dia sedang dalam kesulitan dan butuh bantuan. Masa lalu tampaknya masih mengikat perasaan Brendan terhadap Emily dengan kuat. Dia pun segera mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi selama ini, ketika dia dan Emily tidak lagi “makan siang bersama”.

Berkat bantuan The Brain, Brendan mulai menelusuri jejak-jejak yang akan menuntunnya kepada keberadaan Emily. Satu-persatu “informan” didatangi untuk dimintai keterangan, tak segan Brendan akan melakukan kekerasan untuk mendapatkan informasi tersebut. Belakangan diketahui, Emily ternyata terlibat masalah dengan “The Pin”, penguasa daerah tersebut, seorang bos mafia yang juga menjalankan bisnis peredaran obat-obatan terlarang. Setelah mendapatkan informasi yang cukup, Brendan akhirnya bisa bertemu dengan Emily lewat bantuan Dode, seorang pengedar obat yang ternyata adalah pacar baru Emily. Keduanya pun akhirnya bisa bertatap muka, saling melepas rindu sejenak dan mulai menjelaskan tentang apa yang terjadi. Brendan yang terlihat masih mencintai Emily, ingin sekali tahu semuanya. Namun mantan kekasihnya yang sudah muak dengan sikap “over protective” Brendan ini sama sekali tidak berbicara tentang masalahnya. Sikap bungkam Emily ini hanya membuat Brendan makin tertantang untuk mendapatkan kejelasan dan dia memutuskan untuk lebih jauh masuk ke dalam konspirasi kecil ini. Semakin dalam Brenda terlibat, dia semakin mendekatkan dirinya dan orang lain, termasuk Emily ke dalam bahaya. Apakah Brendan berhasil mengungkap semua?

Rian Johnson dengan brilian dapat menghadirkan kisah kehidupan remaja yang sangat jauh berbeda dari film-film yang ada. Sutradara “The Brothers Bloom” tersebut tak hanya memperlihatkan kepiawaiannya dalam mengolah cerita menjadi sedemikian rupa menarik untuk disajikan, namun juga dapat mengesekusi bagian demi bagian ceritanya dengan matang. “Brick” terkemas tak ubahnya seperti cerita-cerita detektif yang menghadirkan misteri dan “suspense” disana-sini, tetapi bedanya kali ini setiap lakonnya diperankan oleh anak muda. Atmosfir “masa muda” kehidupan anak-anak yang masih bersekolah di selatan California ini pun kental mewarnai film ini. Lewat tokoh utama bernama Brendan, Sutradara yang juga menulis skenarionya ini mengajak kita masuk ke dalam dunia remaja yang penuh dengan lika-liku, memperlihatkan kepada kita kalau menjadi remaja itu sangatlah tidak mudah. Harus berurusan dengan pihak berwenang, dijadikan kambing hitam, sulit bergaul, narkoba, kebencian, permusuhan, hal-hal tersebut kerap diperlihatkan dengan jelas di film ini, mencoba memberitahu penonton kenyataan seperti ini mungkin saja terjadi di kehidupan nyata.

Rian dapat memainkan plotnya dengan apik, memutar rasa penasaran kita dengan “dosis” yang pas lewat cerita detektif modern-nya. Dosisnya membuat kita tidak terlalu pusing dengan cerita yang ingin disampaikan, namun rasa penasaran kita berhasil terkurung dengan sempurna. Alhasil penonton pun “terbius’ untuk terus dapat menikmati film ini sampai selesai. Pernak-pernik drama percintaan dan kisah pencarian jadi diri juga terselip dengan hati-hati agar nantinya tidak merusak mood yang sudah tercipta dari awal film. Rian membuat kita terlena dengan cerita yang disampaikannya dengan gaya kelam, yang juga mewakili perasaan setiap karakternya yang juga mempunyai sifat “tidak ceria” ini. Akting-akting cemerlang yang diperlihatkan para pemainnya benar-benar sudah menghidupkan film ini, terutama Brendan. Joseph Gordon-Levitt yang juga kelak bermain dalam (500) Days of Summer ini, bermain sangat baik sebagai seorang “outsider” yang memutuskan untuk bermain detektif guna mencari “ex-girlfriend” nya yang hilang dan mencari jawaban atas permasalahan yang terjadi. Karakter Brendan dibangun dengan jempolan, perkembangan dari menit ke menitnya cukup terasa dan dimainkan dengan sangat baik, menyita perhatian dan juga mencuri simpati penontonnya.

Semangat Indie sekali lagi bisa dirasakan di film ini -dengan bujet yang tidak terlalu besar- justru tidak menghalangi Rian untuk membuat film yang sebagus ini. Ceritanya total membius kita untuk terhibur, alurnya “menyuntik” rasa penasaran, membuat kita tenang mencerna setiap bagian-bagian ceritanya. Sentuhan-sentuhan musiknya yang manis menghantarkan kita untuk terus membuka mata ketika Brendan mulai melakukan investigasinya. Apa yang ditawarkan film ini selama 110 menit, telah berhasil menghibur sekaligus memuaskan dahaga akan sebuah film yang berkualitas baik. Tak hanya menawarkan kisah yang tidak berujung pada titik kebosanan, film ini juga cukup mengajarkan sesuatu tentang bagaimana hidup sebagai remaja, bagaimana kita seharusnya bisa mengambil sikap dengan apapun permasalahan yang ada. Memang tidak semua kehidupan remaja harus seperti ini, tapi setidaknya kita bisa belajar dari situasi pelik dari seorang Brendan dan rintangan yang dihadapinya. A must-see-movie, Enjoy!

Rating: 4/5

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - The Green I...
Review - Aach... Aku...
Tujuh Film Horor Fav...
Review - Dukun Linta...