Review: House of 1000 Corpses

written by Rangga Adithia on January 30, 2010 in CinemaTherapy and Hollywood and Horror and Thriller with 2 comments

Listen, you Malibu middle class Barbie piece of shit, I’m tryin’ to work here. Work? You ever work? Yeah, I’ll bet you have. Scoopin’ ice cream to your shit-heel friends on summer break. Well I ain’t talkin’ about no goddamn white socks with Mickey Mouse on one side and Donald Duck on the other. I ain’t readin’ no funny books, mama. Our bodies come and go but this blood… is forever.  ~ Otis

Sekelompok anak muda, Denise (Erin Daniels), Mary (Jennifer Jostyn), Bill (Rainn Wilson), dan Jerry (Chris Hardwick) sedang berkendara melewati gelapnya malam jalanan Texas menuju pulang, sambil mendengarkan berita tentang laporan hilangnya grup cheerleader di daerah tersebut. Mereka pun menyempatkan diri untuk mampir ke “Captain Spaulding’s Museum of Monsters and Madmen” hanya sekedar untuk melihat-lihat ada apa disana. Seorang badut yang tampak setengah gila memperkenalkan dirinya sebagai Captain Spaulding (Sid Haig) dan menerima ke-empat anak muda ini di toko “freak-show” yang menampilkan pajangan-pajangan benda-benda aneh. Spaulding yang sebelumnya baru saja membunuh orang yang hendak merampok tempatnya itu, dengan baik hati menawarkan anak-anak ini untuk bermain sebentar dengannya di wahana “rumah hantu” andalannya. Spaulding berada di depan memberikan “opening speech”, sedangkan Jerry dan yang lain duduk manis di sebuah kereta yang didorong oleh seorang dari belakang. pertunjukan horor pun dimulai, memperlihatkan para pembunuh terkenal di Amerika dari Ed Gien hingga Albert Fish. Wahana ini berakhir ketika Spaulding menunjukkan ikon daerah tersebut, seorang legenda bernama Dr. Satan. 

Setelah pertunjukkan selesai, Jerry yang sedikit “berbeda” dari yang lainnya jadi sangat terobsesi dengan legenda lokal Dr. Satan, yang digantung lalu menghilang begitu saja. Spaulding awalnya tidak terlalu menyukai Jerry yang terus berbicara dan bertanya tentang pembunuh tersebut. Tetap saja, Spaulding memberikan arah dan sebuah peta lokasi pohon dimana Dr. Satan digantung. Jerry yang tampak senang dan kawan-kawannya pun kembali melanjutkan perjalanan. Ditengah guyuran hujan, mereka berpapasan dengan seorang wanita yang butuh tumpangan. Wanita yang diketahui bernama Baby (Sherri Moon) ini pun diajak masuk ke mobil dan dengan baik hati mereka akan mengantarnya sampai ke rumah. Namun tiba-tiba ditengah jalan ban mobil mereka bocor –sebenarnya seseorang menembaknya dari kegelapan– beruntung Rufus datang membawa mobil derek dan membawa mereka semua ke rumah Baby. Di rumah yang terlihat misterius, seram, dan aneh tersebut dan selagi Rufus memperbaiki mobil empat remaja ini, Baby memperkenalkan Mother Firefly (Karen Black) yang tak lain adalah ibunya kepada mereka.

Jerry, Bill, Mary, dan Denise pun diundang untuk makan malam bersama di malam yang bertepatan dengan Halloween ini. Di meja makan, mereka kembali diperkenalkan dengan keluarga lainnya. Tiny (Matthew McGrory) yang tampak cacat dengan tubuh yang sangat tinggi, Mother Firefly menceritakan kalau dia punya masa kecil yang buruk dibakar hidup-hidup oleh mantan suaminya. Selanjutnya ada Grandpa Hugo (Dennis Fimple), kakek-kakek yang punya mulut seperti sampah, karena terus membicarakan hal-hal kotor. Terakhir Otis (Bill Moseley) ikut bergabung dengan keluarga dan para tamunya, setelah sebelumnya asyik “bermain” dengan para cheerleader yang sempat diberitakan hilang di radio. Sehabis makan malam, keluarga Firefly mengajak mereka semua ke pertunjukan tahunan ketika Halloween tiba. Grandpa Hugo memberikan pertunjukkan komedi dan Baby menyanyi. Tetapi pertunjukan yang aneh tersebut tak berlangsung lama karena terhenti dengan perkelahian antara Mary dan Baby. Tidak ingin berlama-lama dan kebetulan mobil mereka sudah selesai diperbaiki, Bill dan yang lainnya pun langsung meninggalkan tempat tersebut. Sayangnya belum sampai keluar pagar, mereka dihadang dua orang berpenampilan badut yang ternyata adalah Otis dan Tiny. Keduanya pun memukuli Bill dan Jerry serta menghancurkan mobil. Empat remaja ini pun tertangkap. Selamat datang di neraka.

Di “House of 1000 Corpses” kita akan diperkenalkan untuk pertama kalinya dengan Captain Spaulding dan Klan Firefly lainnya. Otis, Mother, dan Baby mengajak kita untuk bermain sebentar bersama mereka, menjadi saksi betapa terkutuknya keluarga ini. Jika sebelumnya ada yang penasaran dengan “dosa besar” keluarga Firefly, maka film debut Rob Zombie ini akan menceritakan semuanya. Spaulding disini memang tidak terlalu mendominasi, dia hanya sebagai petunjuk “arah” untuk nantinya keluarga menanti untuk menghabisi para korbannya. Namun kemunculannya di awal film sudah cukup mengatakan kalau Ayah Baby ini memang bukan badut sembarangan, selain gila dan sakit, dia memang pembunuh berantai sejati (ada sebuah situs yang menceritakan dengan lengkap profil Spaulding dan latar belakangnya). Rob Zombie memang tak melakukan hal yang jenius dalam film ini, namun pendekatannya dalam mengemas film inilah yang justru harus diacungi jempol.

Film yang bersetting di daerah Texas pada tahun 1977 ini, cukup berani menampilkan adegan-adegan dengan suntingan gambar yang tidak biasa, Rob Zombie membalut filmnya seperti kemasan film horor klasik tahun 70an yang di-blending dengan gaya grindhouse secukupnya. Hasilnya adalah gambar-gambar aneh yang tersisip selama film yang berdurasi 89 menit ini berlangsung, sedikit banyak mengingatkan kita dengan film karya Oliver Stone “Natural Born Killers”. Rob Zombie dengan blak-blakan menyajikan darah, gore, dan nudity dengan cukup baik di film ini, tak lupa dialog kotor penuh dengan sumpah serapah mewarnai film yang punya rating “R” ini. Namun sayangnya film yang sangat mengeksploitasi kesadisan ini tidak berimbang dalam soal plot. Berbeda dengan “The Devil’s Reject” yang memiliki plot berbobot, “House of 1000 Corpses” hanya puas dengan plot yang standar dan cenderung biasa saja. Rob Zombie juga kurang “bergairah” memaksimalkan intensitas ketegangan film ini. Sajian horornya memang tidak berimbas pada “titik rangsang” bosan, namun kita terkadang juga dipaksa untuk mengikuti alurnya yang turun-naik.

Kekurangan yang memang harus diterima oleh film, tidak dengan begitu saja mencap film ini sebagai horor yang kacangan. “House of 1000 Corpses” masih punya beberapa hal menarik untuk disaksikan. Film ini memang tak menang soal cerita tetapi jika berbicara soal membuat merinding, adegan sadisnya bisa jadi jaminan tontonan yang mengasyikan. Rob Zombie juga punya sisi kreatifitas yang luar biasa dalam menciptakan karakter-karakter aneh bin ajaib, selain Spaulding dan Otis, di film ini kita akan diperkenalkan dengan karakter Dr. Satan yang punya penampilan sangat creepy. Akting para pemainnya dalam melakonkan karakternya masing-masing pun dirasa cukup untuk menghantarkan kita ke dalam mimpi buruk, walau tidak sebaik film keduanya. Bolehlah jika menyebut film ini sebagai tribut Rob Zombie pada film-film horor klasik. Rob Zombie berhasil mengumpulkan “source of evil” yang pernah ada di film-film horor, sebut saja “serial killer”, badut pesakitan, penyembah setan, dan dokter gila, semuanya disatukan dalam paket manis khas Rob Zombie. Film ini memang bukan film terbaiknya, namun sebagai debut penyutradaraan…kita sebagai penikmat film horor seharusnya bisa mengatakan “selamat datang Rob”. Enjoy!

Rating 3/5

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

20 Film Indonesia Wa...
Review - The Green I...
Review - Turbo Kid (...
Review - Iblis (2016...